Sharing Session

Menjaga Kearifan Lokal Saat Traveling

Judul                : Menjaga Kearifan Lokal Saat Traveling

Hari, tanggal   : Minggu, 25 Januari 2015

Bomber           : Elva Lestari

Momod           : Ario

Notulen           : Angga

Pada sharse kali ini kita membicarakan tentang kearifan lokal yang di sampaikan perempuan yang sedang bekerja sebagai asisten dosen. Beliau adalah Elva Lestari lulusan S1 Sains komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB, yang punya hobi jalan-jalan, foto-foto setiap momen saat traveling, dan penyuka hal-hal yang baru dan menantang.

Berikut adalah hasil sharse kali ini yang disampaikan oleh Elva yang pernah membawa speedboat sendiri di wilayah Misol, Raja Ampat:

Menjaga Kearifan Lokal Saat Traveling, kenapa temanya ini?.. hayoo kenapa?..

Hehee.. jadi gini, Kadang kala, saat kita jalan jalan ke suatu wilayah bahasa katanya “travelling” mungkin kita sadar atau tidak sadar di wilayah tersebut punya Local knowledge di sana, contoh di Raja Ampat sendiri hampir sebagian besar wilayah di Raja ampat mengenal dan melakukan “Sasi“. Kalau di lombok mungkin ada Awig-awig..

Sasi sendiri pada awalnya bermula di daerah Maluku yang artinya perjanjian. Mau sedikit cerita dulu mengenai Sasi nanti disambung ke masalah travelling nya..

Sasi di Raja ampat awalnya di adaptasi dari wilayah Maluku, yakni pengaruh dari kerajaan ternate dan tidore yang masuk di wilayah raja ampat.

Sasi yang di kenal di sana salah satunya ada di Misool yaitu : Sasi Musiman, Sasi Gereja, Sasi Kelompok, dan ada yang baru Sasi ibu ibu.

Sasi musiman ada karena faktor cuaca, yaitu saat musim angin selatan dan angin barat, saat angin selatan nelayan/ masyarakat tidak melaut, karena ombak besar dan ada istilah “laut putih”. Secara otomatis ini terjadi “tutup Sasi” dan sebaliknya, pada saat angin barat nelayan kembali melaut atau “buka sasi”. Kalau yang Sasi lainnya bagaimana, nah kalau yang lain ada kesepakatan bersama saat buka dan tutup Sasi (Sasi gereja, kelompok, dan ibu-ibu).

Saat tutup dan buka sasi ada upacara adat dan upacara keagamaan. Saat tutup Sasi suatu wilayah kawasan yang di sasi ada larangannya yaitu, di larang melawati, masuk bahkan mengambil biota laut disana. Saat buka sasi masyarakat bisa mengambil biota lautnya yang di sasi.

Nah.. sekarang elva coba kaitkan dengan travelling nya

Saat tutup sasi, wilayah yang di sasi tidak ada kegiatan yang di lakukan. Jadi kita tidak bisa melakukan hal seperti diving atau snorkeling di wilayah itu. Bisa namun harus ada izin, terus kuta tidak boleh sampai mengambil biota di dalamnya karena akan mendapat sanksi, sanksi yang di dapat bisa sanksi berupa denda yg dibayar pakai uang, denda fisik seperti angkat batu sambil jongkok, bahkan ada sanksi yang mereka kenal sanksi Tuhan, dimana orang yg mengambil biota saat laut, mereka percaya akan dapat hukuman dari tuhan seperti sakit, cacat, bahkan ada yang meninggal.

Selain Sasi kalau disana yang elva tahu Kopi menjadi barang yang sangat di “agungkan” atau barang yang bernilai tinggi, jadi kalau misalnya kita kasih kopi ke mereka langsung, mereka akan merasa di rendahkan. Lebih baik kasih izin ke dapur, ketemu ibu yang punya rumah terus kopi di seduh untuk minum bareng bareng sambil di kasih rokok, dan ada lagi masyarakat sana senang dengan Si PKS “pinang, kapur, sirih” masyarakat di sana akan senang sekali kalau kita kasih si PKS :). Terus kalau misalnya kita masuk rumah mereka, kalau lewat dapur/belakang rumah mereka akan langsung menganggap kita saudara, dibanding kita lewat pintu depan, karena akan timbul rasa curiga..

Oia nih terkait sasi lagi lupa mau ada yg disampaikan dan ada cerita yg di ceritain ke el sama salah satu warga di sana saat el di Kofiau

Sasi kan suatu kawasan yang diberi batas yang di dalamnya ada biota laut, biota laut yg di sasi ada lola, lobster, teripang dan batu laga, ikan juga sih di beberapa wilayah. Kalau di Kofiau.. mereka buat sasi di depan tempat tinggal mereka.. di depan dermaga..

Jadi ceritanya, ada orang yang datang ke sana ke salah satu desa di Kofiau, terus karena dia ngantuk dan saat itu malam terpeleset dan tercebur di dermaga itu. Akhirnya dapet denda karena ikan ikan di situ pada kabur kata warga yang cerita ke el..

SESI TANYA JAWAB

Kak Uga

  1. Jadi ‘sasi’ itu apa sih? Qok ada sasi gereja, sasi ibu2, sasi musiman, dll? Kl kata elva, sasi itu suatu kawasan yg diberi batas. Nah kalo sasi ibu2 atw sasi gereja, maksudnya gmn tuh? Ibu2 yg dikasih batas?
  2. Kpm. Kepanjangannya apa sih? Hehe

Jawab

  1. Jadi Sasi bahasa kerennya konservasi tradisional.

“Sasi itu dalam bahasa jawa artinya bulan kak..hehe “(Tambahan dari bang ario)

Secara turun temurun sasi sudah berlangsung lama dari zaman nenek moyang mereka, yang gunannya untuk menjaga biota laut untuk keberlanjutan hidup masyarakat di sana. Kalau ada kawasan konservasi yang pemerintah terapkan melalui Surat Keputusan dengan sistem formalnya, kalau sasi yang diterapkan ini merupakan sistem informal dengan denda jika..kita melanggar aturan akan dikenakan sanksi sesuai keputusan ketua adat karena ketua adat memiliki hak tertinggi selain, tokoh masyarakat, kepala kampung dan pemuka agama. Dan yang harus kita ketahui ternyata peraturan pelarangan yg ditetapkan pemerintah tidak begitu efektif dibanding Sasi yang merupakan kearifan lokal mereka untuk sasi musiman, ibu ibu dan kampung

Tanggapan : Berarti kl sasi ibu2, sasi gereja, sasi musiman, itu artinya semacem ‘perjanjian’ bersama utk menjaga lingkungan. Begitu kah?

Jadi ada kawasan yang mereka tetapkan dari Pulau antar pulau, kampung antar kampung, dan dikasih tanda batas  seperti “Tempat Sasi” yang dibuat dari papan, kayu kayu atau pelampung.

Bedanya sasi ibu ibu, sasi gereja dan musiman. Seperti yang sudah.. aku sampaikan kalau sasi musiman karena pengaruh cuaca, jadi secara otomatis itu ada buka dan tutup sasi karena pengaruh cuaca. Kalau sasi ibu -ibu, Ini adalah hal pertama yang ada di Indoensia. Sasi ibu ibu, di kelola oleh..ibu ibu, atas inisiatif ibu Behtsinan Hai di desa Kapatcol distrik Misool Barat

Karena melihat keberhasilan panen saat buka sasi kelompok dan gereja Akhirnya, beliau membuat sasi ibu ibu dengan batas wilayah yg dibuat berbeda dengan batas wilayah sasi kelompok/ gereja. Ada 20 orang anggota sasi ibu ibu,Yang di ketuai oleh ibu Behtsinan Hai..

Lalu sasi ibu2 dan gereja batasannya apa el? (Bang ario)

Batasannya diatur oleh ketua adat, masyarakat, kepala kampung, dan tokoh agama Ka Lama waktu tutup dan buka sasinya Ada yang 1 tahun sekali, ada yg 2 tahun sekali. Ada yg 3 bulan sekali, Tergantung kesepakatan bersama.. dan jika menurut mereka, Sudah layak untuk buka sasi. Maka buka sasi Dengan upacara adat dan agama.. baik sasi ibu ibu, dan gereja/kelompok, Biasanya ada sistem monitoring yang mereka lakukan.

Kalau orang maluku.bilang sasi itu perjanjian..#panggil ka Gadri

Kalau orang raja ampat, mereka bilang itu kawasan yang dilindungi.. gitu ka uga