Blind Travel

Apa itu Blind Travel ?

Blind Travel adalah games jalan-jalan dimana peserta tidak tahu tempat tujuan dan tidak tahu siapa anggota timnya, peserta akan dibagi pertim dimana 1 timnya terdiri dari 5 orang dan tugasnya adalah menemukan lokasi yang ditunjuk, membuat dokumentasi dan catatan perjalanan. Setiap tim akan diberikan uang saku seminim mungkin.

Kegiatan ini dilakukan pada Tgl 29-31 Maret 2014 dan biaya pendaftarannya adalah Rp.120.000,- (include : makan, kaos, akomodasi), cara mendaftarnya adalah dengan daftar langsung ke no handphone contact person dan  peserta hanya dibatasi untuk 20 orang saja.

Ada beberapa point yang perlu dicatat dalam blind travel :

Berikut cerita para peserta Blind Travel FIM TRAVENTURE :

Ini dia cerita kelompok 1 : 

Tak terasa matahari pun mulai naik menyinari punggung-punggung kami di pagi yang hangat itu. Di hadapan kami berdiri angkuh sebuah monumen setinggi 132 m dengan pucuk kekuningan berlapis emas. Berpuluh tahun lalu presiden pertama kami menginginkan negeri ini memiliki monumen setara Eiffel di Prancis sana. Semakin lama tatapan kami menghujam monumen itu. Berpuluh tahun lalu presiden kami mendirikan bangunan ini di antara proyek mercusuarnya yang banyak menuai pro kontra itu hanya untuk membangkitkan kebanggaan rakyatnya yang kelaparan.

“Banyak orang memiliki wawasan picik dengan mentalitas warung kelontong menghitung-hitung pengeluaran itu dan menuduhku menghambur-hamburkan uang rakyat. Ini semua bukan untuk keagunganku, tapi agar bangsaku dihargai oleh seluruh dunia. Ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan – ini juga penting.”, tutur Soekarno dalam biografinya “Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat Indonesia” yang ditulis oleh Cindy Adams.

Pagi itu kami berada di Monumen Nasional. Alih-alih merasa bangga seperti yang dicita-citakan penggagas bangunan ini, kami di sana tertawa terbahak-bahak oleh tingkah seorang pria buncit berkacamata yang sedang melakukan gerakan-gerakan menggelitik perut kami. “jug gijag gijug gijag gijug kereta berangkat …. jug gijag gijug gijag gijug hatiku gembira” pinggulnya bergoyang luwes sekali dan perut buncit di balik kaos tim nasional Belandanya yang memancing gelak tawa kami pagi itu. Namanya Mirza, salah satu panitia Blind Travel yang sedang mencontohkan bagaimana kami harus berkenalan dengan peserta lain. Satu per satu dari kami pun turut bergoyang sambil menyanyikan sepenggal lagu Kereta Malam ketika memperkenalkan diri.

Di titik inilah perjalanan kami akan dimulai, kami diminta untuk membagi kelompok perjalanan dan saya tergabung dengan dua orang yang baru saya kenal saat itu, Ririn Kumalasari dan Erni Anggraini. Ririn adalah seorang gadis berusia 25 tahun asal Bandung yang saat ini tengah bekerja di Jakarta. Erni mahasiswa semester 3 BSI yang tinggal di Bogor. Selain kami bertiga, ada seorang fasilitator bernama Avel yang akan menemani perjalanan ini. Setiap dari kami dibekali sebuah amplop berisi sejumlah uang dan destinasi kami selanjutnya. Apapun yang terjadi uang itu harus cukup mengantar kami ke tempat tujuan.

Sedikit cemas, memulai perjalanan di kota yang terasa asing bersama dua orang asing pula. Kertas di dalam amplop menuliskan kami harus sudah ada di Menara Siger sebelum pukul 18.00 dengan uang sejumlah 25 ribu rupiah. Ya, 25 ribu rupiah. Otto Iskandar Dinata dan Tuanku Imam Bondjol harus mampu mendaratkan kaki kami di tanah Sumatera. Sepelemparan batu dari tempat kami berdiri, ada sejumlah bis berbaris dengan tujuan pulau sumatera. Namun, melihat harga tiket yang tercantum di loket jelas itu bukan pilihan yang dapat diambil.

Erni mengutarakan ada kereta api dari Stasiun Tanah Abang yang menuju Merak dan kami sepakat untuk mengambil opsi itu. Entah sinyal internet ponsel kami terlalu lemah, entah situs tiket PT KAI mengalami gangguan, kami tak dapat memastikan harga tiket yang dibutuhkan untuk mencapai Merak. Kami memutuskan untuk segera bergegas menuju Stasiun Tanah Abang.

Oh iya sebelumnya, perkenalkan nama saya Iqbal, seorang laki-laki yang sejak dilahirkan, lulus kuliah, bahkan hingga bekerja masih tinggal di kota yang sama, Bandung. Teman seperjalanan saya yang lain, Ririn, meski bekerja di Jakarta, tidak banyak hafal jalan-jalan di Jakarta. Oleh karena itu kami benar-benar mengandalkan pengetahuan Erni untuk menunjukkan arah ke Stasiun Tanah Abang. Demi menghemat dua ribu rupiah kami bersepakat untuk berjalan kaki ke tempat yang terkenal sebagai pusat perdagangan tekstil terbesar se-Indonesia itu.

Percayalah, saya dan Ririn benar-benar yakin sepenuhnya akan ucapan Erni yang menyebutkan jarak ke stasiun Tanah Abang itu cukup dekat dari tempat kami berdiri saat ini. Deket, tapi kok ga sampe-sampe. Hanya untuk menghemat 2 ribu rupiah kami mengucurkan keringat berjalan kaki di pagi yang semakin panas.

Kami tiba bermandikan keringat di stasiun yang cukup sibuk itu. Antrian cukup panjang terlihat di loket kereta Kalimaya yang menjadi tujuan kami. Kabar baiknya ialah, ketika saya tiba di pintu loket, tiket yang tersedia hanya tinggal 2. Sial, sungguh sial.

Kami hanya bisa berdiri lemas melihat kereta pergi meninggalkan kami perlahan-lahan, meninggalkan asa kami menggapai Merak menggunakan kuda besi ini.

Erni, Ririn, Iqbal

Jam menunjukkan pukul 9.30, matahari yang meninggi dan asap kendaraan ibukota semakin membuat pagi ini makin panas. Meski ada banyak truk di sekitar stasiun, tak ada satu pun yang berencana menuju Merak. Nampaknya juga tidak ada orang yang berbaik hati menolong kami ke Merak secara cuma-Cuma. Ibukota dalam hal tertentu memang lebih kejam dari ibu tiri.

Pilihan yang tersisa ialah naik bis arimbi yang menuju Merak. Bis itu bisa kami dapatkan di dekat Rumah Sakit Harapan Kita. Pertanyaan berikutnya dengan apa kami menuju ke sana. Di tempat kami berdiri saat ini tidak ada satu pun angkutan kota yang melewati tempat itu secara langsung. Haruskah kami jalan kaki lagi ke sana? Bukan pilihan yang layak diambil. Lalu mata kami mengarah pada sebuah kendaraan beroda tiga yang banyak berlalu lalang di depan kami. Bajaj!

Bajaj diketahui berasal dari India. Nama bajaj sendiri sebenarnya merupakan merek salah satu perusahaan otomotif di India, akan tetapi nama bajaj lebih identik dengan kendaraan beroda tiga, satu di depan dan dua di belakang, dengan bentuk kemudi mirip seperti kemudi sepeda motor. Idealnya jumlah penumpang Bajaj adalah dua orang yang semuanya duduk di belakang sopir, tetapi uang yang kami miliki tak akan cukup jika harus menggunakan 2 Bajaj sekaligus, akibatnya kami berlima harus berdesak-desakkan di dalam bajaj. Avel duduk di depan bersama sopir dan kami bertiga di kursi penumpang. Persis apa kata orang bilang, hanya Tuhan dan sopir bajaj yang tahu ke mana bajaj akan berbelok. Bentuknya yang kecil sangat cocok untuk menembus kemacetan ibukota dan tak lama kemudian sampailah kami di RS Harapan Kita.

Tuanku Imam Bondjol telah berhasil mengantarkan kami sampai di RS Harapan Kita dan setelah sedikit negosiasi kami berangkat menggunakan bis Arimbi dengan ongkos 20 ribu rupiah. Bis ini meski murah tapi cukup nyaman, spasi antar kursi cukup jauh. Ac berfungsi dengan baik, saya menutup mata untuk sementara di bawah sejuknya hembusan AC bis ini. Di tengah perjalanan bis ini berhenti dan kami diminta pindah ke bis Primajasa jurusan yang sama. Bis yang baru kami naiki ini keadaannya sedikit lebih buruk dari bis sebelumnya. Dengan seat 3-2 koridor dan AC yang tidak terlalu berfungsi dengan semestinya. Nasib naas pun datang, bis ini mogok di tengah jalan tol.

Krek….krek…krek supir membuka kap mesin mencari-cari bagian mesinnya yang bermasalah. Waktu terasa berhenti di sini. Di atas jalan tol Jakarta – Merak. Kami terperangkap di tempat ini tanpa ada opsi lain selain menunggu. Waktu berjalan sekehendaknya, kadang cepat, kadang lambat, satu per satu kendaraan besar melewati kami. Tak ada yang peduli. Para penumpang hanya menatap kosong pesawahan yang ada di balik jendela bis sambil sesekali melempar pandangan ke arah jam digital yang ada di bagian depan bis. Waktu terasa berhenti di sini.

Berselang beberapa menit kemudian bis dapat maju kembali meski sesekali mesinnya kembali mati. Tidak banyak hal menarik di sepanjang perjalanan antara Jakarta-Merak, kecuali Tangerang, kota-kota lain yang kami lewati menunjukkan kemiskinan dan kekumuhan. Pasca melepaskan diri dari Jawa Barat tahun 2000 silam, sepertinya tidak banyak perubahan positif yang dialami Banten. Dua gubernur terakhirnya saat ini berada di balik jeruji terkait kasus korupsi. Jalan-jalan kumuh berdebu yang banyak dihiasi bendera kuning bergambar pohon beringin itu sejenak menjadi lupa bahwa di masa kejayaannya, wilayah ini pernah menjadi salah satu kawasan niaga penting di nusantara. Pada era Sultan Ageng Tirtayasa, Banten menjelma menjadi sebuah kerajaan yang besar. Bahkan menurut Claude Guilot, dalam bukunya yang yang berjudul Banten in 1678,  dengan jumlah kekayaan dan penduduknya, Banten merupakan salah satu kota metropolitan di dunia pada masa itu.

Setelah berganti bis untuk kesekian kalinya kami, tiba di terminal terpadu Merak. Saya termasuk orang yang jarang berhubungan dengan tempat-tempat seperti terminal atau stasiun apalagi di pelabuhan. Dan sekarang saya sedang berada di pelabuhan Merak. Sayangnya pelabuhan ini berbeda dari anggapan saya sebelumnya. Ia sepi. Nyaris bersih dari noda kehidupan.  Jauh dari yang kami perkirakan sebelumnya, kondisi pelabuhan terkesan sepi. Padahal kami berencana menjual sesuatu agar bisa menyebrangi Selat Sunda. Tidak banyak orang lalu lalang di sini. Uang kami benar-benar sudah habis, Otto Iskandar Dinata dan Tuanku Imam Bondjol hanya mampu mengantarkan kami ke depan gerbang penyebrangan menuju Pulau Sumatera.

Beruntungnya ada dua orang baik yang mau membeli coklat KitKat, Susu Ultra, dan 2 buah Sneakers senilai 30 ribu rupiah, ditambah uang makan sebesar 15 ribu untuk kelompok kami, uang kami sudah lebih dari cukup untuk membeli tiket kelas ekonomi.

Tidak banyak orang yang KM Nusa Setia saat kami mulai memasuki kabin penumpang kelas ekonomi. Dua jam membosankan di atas laut dihabiskan dengan mendengar ocehan seorang pendekar Debus yang menjual minyak angin dan nyanyian dua orang biduanita

Angin laut sore membelai wajah-wajah kami yang kelelahan. Banyak orang sudah berdiri di dek, baru dua jam saya terapung di Selat Sunda akan tetapi saya sudah sangat merindukan daratan. Kami berdiri di dek kapal menatap beberapa pulau kecil di sekitar Bakauheni dan dari sana kami melihat tempat yang tertera di dalam amplop kami. Menara Siger.

Siger adalah topi adat pengantin wanita Lampung. Menara Siger berupa bangunan berbentuk mahkota terdiri dari sembilan rangkaian yang melambangkan sembilan macam bahasa di Lampung. Menara Siger berwarna kuning dan merah, mewakili warna emas dari topi adat pengantin wanita. Bangunan ini juga berhiaskan ukiran corak kain tapis khas Lampung. Menara Siger berdiri gagah di atas perbukitan menghadap laut lepas. Tugu inilah titik nol di Selatan Sumatera.

Malam hari di Bakauheni berbeda dari malam-malam hari yang biasa saya lewati. Cuacanya teramat lembap. Panas sekali. Lebih panas dibanding Merak. Sepanas calo-calo di pelabuhan. Satu-satunya hal yang menyadarkan saya telah berada di belahan lain Selat Sunda ialah, perilaku sebagian calonya. Di sini selain nada bicara yang relatif lebih keras, beberapa calo menunjukkan perilaku yang relatif lebih menyebalkan dibanding calo-calo di pulau Jawa.

Tempat tujuan berikutnya ialah Bandar Lampung dan kami akan menuju ke sana menggunakan sebuah truk yang mengangkut keramik. Siapa yang pernah merasakan menjadi bagian penyelundupan manusia? Mungkin kita belum pernah mengalaminya, namun sedikit banyak itu yang kami rasakan dalam perjalanan menuju Bandar Lampung. Tubuh yang lelah ini berbaring di atas tumpukan keramik yang keras. Berbaring menatap langit sabtu malam yang cerah. Hanya ada sedikit bintang malam ini. Mata semakin berat dan terpejam sesaat kemudian. Sesekali kami terbangun oleh goncangan-goncangan di dalam truk. Setiap goncangan, mata saya kembali terbelalak, dan suasana di truk ini sangat familiar dengan suasana di Bandung, terasa dekat sekali dengan rumah, sepanjang jalan lintas Sumatra ini rekan seperjalanan kami banyak bercerita kepada kakak dan bapaknya via sambungan teleponkejadian-kejadian hari ini menggunakan bahasa Sunda dengan dialek yang sangat kental. Sampai-sampai saya lupa kalau saat ini saya sedang ada di tanah Sumatera. Setiap kami tertidur, ada goncangan, terbangun lagi suara di ujung telepon itu tak jua berhenti bercerita. Dari mulai cerita tentang teman seperjalanannya sampai cerita kakak iparnya yang touring ke pantai meninggalkan anak istrinya di rumah.

Bergelombangnya jalan provinsi ini mengingatkan saya pada orasi juru kampanye jurkamnas PDIP, Jokowi yang mengunjungi Lampung tempo hari. “‎Saya sejak pagi ke sini jalannya rusak. Kalau pemimpinnya kerja, tidak ada jalan rusak seperti itu. Itu baru yang saya lihat tadi pagi, bagaimana yang lainnya. Oleh karena itu, saat memilih nanti harus hati-hati,” ucap Jokowi seperti yang dicatut media nasional. Sungguh lucu Gubernur Jakarta ini, ia jauh-jauh datang dari jakarta mengkritik jalan rusak di Lampung, mengajak orang-orang memilih partai bergambar banteng, sambil melupakan bahwa 10 tahun terakhir ini gubernur provinsi ini berasal dari partai yang sama.

Perjalanan sejauh 81 km mengantar kami ke sebuah rumah di tengah perkampungan di kota Bandar Lampung. Sebuah rumah belajar di jalan Yos Yudarso yang digagas FIM Lampung. Rumah kecil yang nyaman sebelum melanjutkan perjalanan di esok hari.

Keesokan harinya, setelah melewati pagi dengan aerobik, lomba masak, sarapan dengan sayur tahu plain. Kami diminta berpartisipasi dalam kegiatan penyuluhan kesehatan. Sebagian dari kami mengadakan berbagai games untuk anak-anak kecil di sini. Tibalah saat kami meminta setiap anak untuk menyanyikan lagu favoritnya masing-masing. Anak-anak di bawah usia sekolah ini kebanyakan tak hafal lagu anak-anak jadilah kami yang bernyanyi untuk setiap judul lagu yang mereka sebutkan. Mendapat giliran memilih lagu, anak ini kami tawari menyanyikan lagu “Bintang Kecil”.

“Ade sukanya lagu apaaaa?” tanya seorang kakak

“Bintang kecil, bintang kecil aja yaaa” sahut salah seorang dari kami

‘Mau nyanyi apaa?” tanya kakak yang lain

Anak kecil itu nampak kebingungan kemudian perlahan-lahan membuka bibirnya, “Bu-bulan Gede”

Sepintas kami kebingungan lalu kemudian dengan sepenuh hati memenuhi permintaan anak itu untuk menyanyikan lagu “Bulan Gede” .

Satu… Dua… Tiga…

Bintang Gede di langit yang biruuuu

Perjalanan kami lanjutkan ke Pulau Tegal. Pulau ini terletak di sebuah teluk di kabupaten Pesawaran. Ombaknya yang tenang membuat perairan pulau ini sangat ideal sebagai tempat berenang. Kegiatan lain yang bisa dilakukan di pulau ini ialah snorkeling. Beberapa penduduk pulau ini memiliki kebun jengkol yang menjadi sumber mata pencaharian. Listrik di pulau ini ada hingga pukul 11 malam yang berasal dari Photo Voltaic Cell, selebihnya penduduk menggunakan genset untuk membangkitkan listrik. Tidak semua rumah di pulau ini memiliki toilet sehingga memiliki toilet bisa dianggap sebuah penanda status sosial bagi sebagian rumah yang memilikinya. Salah satu penduduk terkaya di pulau ini memiliki sebuah televisi berwarna yang dengannya ia dapat menyelenggarakan nonton bareng film-film lawas yang diputar melalui sebuah VCD player.

Malam itu di bawah konstelasi bintang scorpion yang bersinar begitu cerahnya, setiap dari kami memperkenalkan diri dan membagi cerita-cerita seputar perjalanan 2 hari terakhir. Salah satu hal yang berkesan di sesi  ini ialah ada salah seorang dari rombongan kami yang disambut begitu hangat oleh anak-anak kecil di sini. Mereka memanggilnya Nenek Guru. Mahasiswi Unila yang bernama Silvi ini merupakan penggagas Rumah Baca Asma Nadia, dia dan sekitar lima belasan rekannya setiap pekan meluangkan waktunya untuk mengajari anak-anak dan warga pulau ini. Perjalanan ke pulau ini mempertemukan saya kembali pada sebuah realita, membuat saya semakin yakin bahwa bangsa ini sangat membutuhkan lebih banyak pahlawan dan mereka salah satunya.

Senin menjelang tengah malam, kami sudah berada di kapal Nusa Mulia berdesak-desakkan bersama orang-orang lain berdiri di dek kapal memandangi kerlap-kerlip lampu di pelabuhan. Indah sekali. Memasuki pelabuhan Merak ada banyak kesibukan di malam itu. Ada puluhan kendaraan mengantri di dermaga. Pedagang-pedagang yang menawarkan oleh-oleh. Calo-calo yang masih saja segar bugar di malam selarut ini. Di atas peta garis-garis dan warna hanya menandakan tempat-tempat berbeda yang dipisahkan bentang alam tertentu. Di alam nyata, bentang alam ini adalah semacam garis tak kasat mata yang menentukan takdir. Ada anak-anak di pulau tegal yang tidak leluasa mengenyam pendidikan terbaik. Ada keluarga-keluarga di Bandar Lampung yang tidak memiliki sanitasi yang baik. Ada debu-debu berterbangan di jalanan kotor Banten di bawah politik dinasti keluarga. Sampai jumpa lagi Pulau Tegal, Bandar Lampung, Menara Siger, Bakauheni, dan Merak!

Terima Kasih

Ini dia cerita kelompok 2 : 

Hari ke-1, tanggal 29 Maret 2014

Kisah Sang Petualang dan 25000. marked!by. Elep

11 peserta dari 25 orang yang mendaftar berkumpul di Monas untuk saling berkenalan sambil bergaya goyang kereta malam sebagai password untuk kegiatan tersebut. Setelah itu, barulah kita semua dibagi per kelompok dengan cara yang cukup unik yaitu gambreng. Terbagilah menjadi 3 kelompok saja dimana setiap kelompok akan ditemani oleh 1 orang fasil yang bertugas sebagai pengawas. Akhirnya tergabunglah kami di kelompok 2 dengan anggota Sufi, Ayu, Desi, Elva dan fasil kami adalah Kamil. Kemudian kami semua dibagi baju acara, dimana didalam plastik baju tersebut terdapat amplop yang ternyata isinya adalah: “Tujuan anda saat ini adalah Pelabuhan Bakauheni. Temukan panitia yang membawa kain putih bertuliskan Blind Traveltepat di Menara Siger. Waktu tempuh yang diberikan adalah 10 jam dimulai dari sekarang!!!!

Pukul 08.00 waktu mulai dan kami mulai berdiskusi untuk menggunakan transportasi apa kesana, terpikirlah untuk menggunakan kereta dari Tanah Abang menuju Pelabuhan Merak untuk menyebrang, tetapi sebelumnya kami harus memeriksa jadwal kereta api dahulu. Internet agak lemot untuk digunakan akhirnya kami memutuskan untuk menuju Stasiun Gambir yang letaknya sebelahan dengan Monas masuklah kami ke ruangan informasi disana dan menanyakan seputar jadwal kereta api untuk menuju Pelabuhan Merak dan harga tiketnya juga. Dari informasi yang diberikan untuk menuju Pelabuhan Merak  itu ada kereta dengan jadwal pukul 09.30 dengan harga Rp.30.000,- per orang. Dengan informasi tersebut kami memutuskan untuk tidak menggunakan kereta karena waktu yang tidak memungkinkan menuju Stasiun Tanah Abang dan biaya yang mahal. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan bis saja menuju Pelabuhan Meraknya.

Sebelum naik bis, kami harus naik Busway dahulu menuju Slipi dengan harga Rp. 5.000,- per orang. Sampailah kami di Slipi dan baru juga sampai ternyata bis yang kami tunggu datang juga. Naiklah kami ke bis menuju Pelabuhan Merak dengan harga Rp. 20.000,- per orang. Di bis awalnya kami tidak mendapatkan tempat duduk karena bis sangat penuh sekali, karena itu pula kami semua duduk terpisah-pisah. Elva dan Ayu duduk lesehan di samping supir bis, Desi beruntung bisa duduk dibangku penumpang, sedangkan Sufi dan Kamil duduk  di atas jok penumpang bagian belakang bis. Pada saat di bis Sufi dan Kamil mengobrol dengan seorang penumpang bis yang menanyakan mengenai kegiatan kami. Setelah ngobrol dengan penumpang tersebut tanpa disangka beliau memberikan kami beberapa kartu Wifi Speedy.

Pukul 11.45 sampailah kami di Pelabuhan Merak. Sesampainya disana kami mendapatkan info dari Kamil kalau kelompok 3 sudah sampai juga disana dan kami juga diberi uang Rp. 5.000,- per orang untuk makan. Tanpa memikirkan rasa lapar kami bergegas menuju loket pembelian tiket untuk mengecek harga ke Pelabuhan Bakauheni yang ternyata harganya Rp. 13.000,- per orang. Uang kelompok kami hanya sisa Rp. 25.000,- dari uang makan tadi jadi kami masih kekurangan uang untuk membeli tiket tersebut. Akhirnya kekurangan tersebut bisa tertutupi juga dengan menjual kartu Wifi Speedy tadi ke orang-orang di Pelabuhan Merak. Ayu berhasil menjual 1 kartu dengan harga Rp. 10.000,- sedangkan Elva Rp. 20.000,- dan Kamil membelinya juga dengan harga Rp. 20.000,- dengan tambahan uang tersebut kami bisa membeli tiket menyebrang. Setelah tiket berhasil kami beli, kami melaksanakan solat dzuhur dahulu sebelum masuk ke dalam kapal, setelah solat barulah kami menuju kapal dengan nama “Musfidah” dan kami semua duduk di dek paling atas. Kapal kami ternyata berangkat paling awal yaitu pukul 13.00.

Di kapal kami tidak terlalu banyak melakukan aktifitas hanya ngobrol-ngobrol, makan snack yang kami bawa dari rumah, foto-foto, online, jalan-jalan di atas kapal yang ternyata hanya lautan lepas yang bisa kami lihat dan tentunya yang tidak terlupakan adalah tidur. Tidak terasa, suara adzan asar berkumandang, dari kapal juga kami sudah bisa melihat dermaga Pelabuhan Bakauheni dan yang paling mencolok adalah kami melihat bangunan besar berbentuk siger dengan dominasi warna kuning yang ternyata itu adalah Menara Siger lokasi tujuan kami selanjutnya. Sungguh cantik bangunan itu, usut punya usut menara tersebut merupakan icon Lampung loh. Akhirnya, kapal kami merapat ke dermaga dan sesegera mungkin kami turun. Bagi beberapa orang di kelompok kami ini adalah pertama kalinya mereka menginjakan kaki di Pulau Sumatera dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka.

Berjalanlah kami menuju Menara Siger dengan kondisi jalanan yang cukup menanjak dan terik matahari yang menyengat. Walau dijalan banyak mobil travel yang menawari kami untuk menggunakan jasanya, kami tetap menolaknya dengan alasan uang yang tidak cukup dan sebenarnya kalau naik mobil cukup tanggung juga. Dengan sisa tenaga yang ada kami terus berjalan dan di tengah perjalanan salah satu dari kami yaitu Elva minta istirahat 5 menit untuk ijin minum karena dehidrasi yang sudah tidak bisa ditahan lagi, eh tahunya yang lainnya merasakan dehidrasi juga.Kami pun memulai jalan kaki lagi dan tidak lama kami berjalan sampailah di Menara Siger.Senangnya hati kami bisa sampai disana apalagi kelompok kami adalah kelompok pertama yang bisa sampai dan tidak menyangka kami telah berjalan kaki selama ± 1 jam. Bukan hanya itu, kelompok kami menyelesaikan tugas tersebut kurang dari 10 jam.

Sesampainya disana kami bergegas mencari panitia yang membawa bendera bertuliskan blind travel. Bertemulah kami dengan mereka di belakang bangunan tersebut dan kami langsung disambut dengan hangat oleh mereka. Istirahatlah kami semua sebentar untuk mengambil sedikit udara segar setelah dari pagi kami bertualang. Sambil menunggu kelompok yang lainnya kami disuruh membuat cap kaki atau tangan di atas bendera tersebut dengan cat warna merah yang telah disediakan panitia disana. Jeda 30 menit dari kami datanglah kelompok 3 dengan anggota Isna, Hamdan, Yusmi, Edo dan fasilnya Vanes. Sama halnya dengan kami kelompok 3 pun harus membuat cap juga tetapi bedanya mereka menggunakan cat warna kuning. Kemudian beberapa dari kami ijin sebentar untuk melakukan solat asar karena sebagian orang tadi sudah di jamak.Ketika beres melakukan solat asar datanglah 2 orang pantia dari Jakarta yaitu Sifat dan Mita.20 menit sebelum waktu berakhir yaitu pukul 18.00 kelompok 1 pun datang dengan anggota Iqbal, Erni, Ririn dan fasilnya Eval. Mereka ternyata kurang beruntung seperti kami karena disaat perjalanan naik bis menuju Pelabuhan Merak, bis yang mereka tumpangi mogok 2 kali dan sempat tertinggal kereta sebelum akhirnya memutuskan naik bis. Saat datang mereka membuat cap juga dengan warna hijau. Sambil menunggu adzan magrib kami semua foto-foto dengan bendera blind travel dengan background menara siger dan pelabuhan merak.

Suara adzan pun tiba, kami semua bergerak menuju mushola menara siger dan menunaikan solat magrib secara berjamaah. Selesai solat panitia telah menyediakan nasi padang untuk makan malam. Ketika mau makan, tiba-tiba kami mendapat kabar kalau kami harus segera turun ke bawah untuk menuju SPBU karena bis yang akan membawa kami ke Bandar Lampung telah tiba. Tidak jadilah kami makan dan segera menuju SPBU, sesampainya disana ternyata bisnya sudah tidak ada, katanya sih supir bisnya tidak percaya kalau kami semua mau naik bisnya, mungkin karena terlalu lama menunggu yah. Akhirnya sambil menunggu panitia mendapatkan kendaraan, kami makan malam bersama di area SPBU. Tidak lama setelah selesai makan, panitia mendapatkan tumpangan ke Bandar Lampung yaitu 2 truk pengangkut keramik lantai. Kami semua naik ke atas truk tanpa menggunakan tangga loh dan truk cukup tinggi, perjuangan luar biasa terutama bagi para perempuannya, keren!

Kami kelompok 2 tanpa perjanjian semuanya berada di dalam  truk yang sama tetapi sayangnya Kamil berada di truk yang berbeda dengan kami. Di dalam truk selain kami berempat ada Vanes, Sifat, Mita, Faris, Erni dan Eva. Selama perjalanan agak tidak merasa bosan kami semua berkenalan dahulu baru kemudian diwajibkan bercerita tentang pengalaman travelling kami yang paling membanggakan dan pengalaman travelling dengan biaya yang termurah. Dari cerita-cerita tersebut ternyata semuanya memiliki cerita yang berbeda dan tentunya luar biasa, terutama Sufi yang ternyata dari 33 provinsi yang ada di Indonesia hanya 8 provinsi saja yang belum dia jelajahi, keren dan super sekali! Setelah semuanya saling bercerita dan tubuh sudah mulai terasa lelah kami semua memutuskan untuk beristirahat. 3 jam telah kami lewatkan di dalam truk hingga akhirnya pukul 22.45 sampailah kami di Bandar Lampung.

Senangnya hati kami bisa sampai sejauh ini, turunlah kami dari atas truk dan ternyata turun dari truk itu jauh lebih sulit daripada naiknya. Beberapa dari kami terutama perempuannya harus dengan susah payah turun dari truk. Setelah semuanya turun, kami langsung berjalan menuju tempat peristirahatan yang ternyata merupakan Rumbel dengan nama“Lamda” (Lingkar Anak Muda) milik FIM Lampung. Di Rumbel tersebut terdapat 2 lantai dimana lantai pertama merupakan tempat istirahat untuk laki-laki dan lantai kedua untuk perempuan. Waktu sudah semakin larut dan kami pun bergegas tidur.

Hari ke-2, tanggal 30 Maret 2014

Rumbel Lamda dan Pulau Tegal. marked!by. Elep

Dihari kedua ini kami semua diwajibkan untuk bangun pagi-pagi karena kegiatan akan dimulai pukul 07.00. Diantara kami semua Isna, Ayu dan Elva sudah bangun dari pukul 03.00 untuk mandi dan melaksanakan tahajud. Suara adzan subuh berkumandang dan yang lainnya sudah ada yang telah bangun kemudian bersiap untuk malaksanakan solat.Pukul 06.00 semuanya harus segera berkumpul dihalaman Rumbel Lamda untuk melaksanakan senam pagi, yang memimpin senam di pagi itu adalah Septian yang merupakan panitia di Lampung. Banyak lagu yang diputar untuk mengiringin senam salah satunya adalah lagu poco-poco, sebenarnya gerakan poco-poco cukup simple tetapi karena Septian yang memimpin kurang bisa sehingga kita semua pun jadi kacau mengikutinya. Kocak sih senam paginya, lumayan lah buat pemanasan sebelum kegiatan dimulai.

Pukul 08.00 panitia mengumumkan bahwa akan diadakan lomba memasak per kelompok, dimana setiap kelompok dibebaskan memilih bahan masakan yang akan mereka masak dengan waktu hanya 1 jam saja. Dari 3 kelompok hanya 2 kelompok yang berada di tempat lomba yaitu kelompok kami dan 1. Pada saat lomba dimulai kebetulan kelompok 3 sedang jalan-jalan disekitar Rumbel karena pada saat selesai senam pagi ke lomba masak ada jeda waktu sedikit, untungnya Vanes tidak ikut jalan-jalan juga sehingga dia bisa memberi kabar kelompoknya untuk segera kembali. Jadilah pada saat lomba dimulai hanya 2 kelompok yang ikut serta, dengan bebasnya kami memilih bahan masakan kami. Kelompok kami mengambil kangkung, tempe, telor dan bumbu-bumbu dapur lainnya. Tanpa perundingan pembagian tugas, kami dengan sigapnya mengambil peran masing-masing. Desi, Ayu dan Elva bertugas memotong bumbu dan memasak. Sufi bertugas mengeksekusi tempe, sedangkan Kamil membantu memotong bumbu dan membersihkan sayuran. Fasil kami sangat sigap dalam membantu, terbukti ketika kami kekurangan piring untung tempat makanan, Kamil tiba-tiba muncul membawakannya.

Setelah kurang lebih 15 menit waktu berjalan, kelompok 3 akhirnya datang juga, tanpa perpanjangan waktu mereka mulai memasak terlebih lagi mereka harus memasak semua sisa bahan yang ada. Waktu memasak sudah mulai berakhir, kelompok kami sudah selesai menjalankan misi dan menjadi kelompok pertama yang selesai. Dari lomba tersebut kami berhasil memasak tempe goreng, tumis kangkung, telor dadar, sambal tomat dan telor dadar bayam bumbu asin (entah itu ide darimana). Waktupun berakhir dan semua kelompok sudah selesai memasak, setelah memasak kami tidak langsung memakannya karena kami terlebih dahulu harus membereskan perabotan masaknya. Selesai semuanya kami pun naik ke lantai 2 Rumbel untuk makan masakan hasil lomba tadi. Dari penilaian semuanya, kelompok kami tidak terlalu mendapatkan penilaian yang aneh hanya saja masakan yang agak asin saja, maklum ternyata yang masak suka asin. Makanan pun habis terlahap semuanya, tanpa tedeng aling-aling kami langsung membereskannya dan mencuci piring karena selanjutnya akan ada acara bersama adik-adik Rumbel Lamda.

Tidak lama kemudian, adik-adik Rumbel Lamda datang memasuki ruangan depan. Kaget dan gemes melihat mereka yang ternyata masih kecil-kecil, paling besar kelas 1 SMP itupun Cuma 1 adik saja. Berkumpulah kami semuanya dan mulai berkenalan dengan adik-adik tersebut. Selesai berkenalan, Avel mulai memimpin kami semua untuk membuat games kecil untuk mereka dengan hadiah buku bacaan yang kami wajibkan bawa, contoh salah satu permainannya yaitu “Goyang Shake-shake” yang diajarkan oleh Ririn. Hari sudah menjelang siang, akhirnya kami harus mengakhiri kegiatan dengan adik-adik Rumbel Lamda yang super lucu itu, tetapi sebelum berpisah tidak lupa kami berfoto bersama dahulu sebagai kenang-kenangan. Oh iya kami semua mendapatkan kenang-kenangan lucu dari adik-adik disana loh yaitu “Tepuk Salut”:

Satu orang berkata, Tepuk Salut….

Jempoooolllll (jempol tangan kanan maju ke depan)

Jempoooolllll (turunkan jempol tangan kanan, majukan jempol tangan kiri ke depan)

Saluuutttt ( majukan kedua jempol tangan ke depan)

Adik-adik pun pulang kerumahnya masing-masing, sedangkan kami masih menunggu kegiatan selanjutnya.Seharusnya kami semua langsung menuju Pulau Tegal, tetapi karena kami diundang makan siang di hajatan dekat Rumbel jadi kami harus menunggu dahulu. Waktu senggang kami gunakan untuk istirahat kembali, berbincang-bincang dengan kelompok lain dan bermain games konsentrasi. Cukup lama kami menunggu karena katanya untuk ke hajatan tersebut harus menunggu Eva (panitia dari Lampung juga) dahulu. Eva tidak kunjung datang dan hari semakin siang, suara adzan dzuhur pun berkumandang, kami bergegas untuk solat dzuhur dahulu, tidak lupa menjamak solat asar karena kami tidak tahu seberapa jauh perjalanan menuju Pulau Tegal.Tidak lama setelah itu, Eva pun datang, namun kami mengurungkan niat untuk makan siang di hajatan karena melihat cuaca yang sudah mulai mendung.

Naiklah kami ke mobil yang sudah disiapkan septian, tetapi ternyata tidak cukup memuat semuanya karena ada beberapa teman Lampung yang ikut juga ke Pulau Tegal. Jadi kami pun harus mencari 1 mobil lagi untuk pergi kesana, tak selang beberapa lama sekitar pukul 15.00 tibalah mobil yang ditunggu itu dan kami langsung berangkat menuju Pulau Tegal. Ditengah perjalanan, panitia membeli nasi padang bungkus untuk makan siang kami semua dahulu kemudian melanjutkan kembali perjalanannya. Sampailah kami di Pantai Ringgung kabupaten Pesawaran yang letaknya tepat di sebrang Pulau Tegal. Waktu tempuh dari Rumbel Lamda ke Pantai Ringgung sekitar 1 jam. Untuk masuk ke Pantai Ringgung kami semua diharuskan membayar biaya retribusi sebesar Rp. 5.000,- per orang, tetapi kami menawarnya Rp. 60.000,- untuk 2 rombongan mobil. Turun dari mobil kami tidak langsung menyebrang, kami harus menunggu Septian dahulu yang sedang menyewa alat snorkeling untuk besok, tetapi ternyata Septian tidak mendapatkannya. Sambil menunggu Septian datang kami makan bersama dengan nasi padang yang tadi dibeli. Kemudian foto-foto dan barulah Septian muncul dihadapan kami bersama beberapa temannya yang merupakan bagian dari Rumah Baca Asma Nadia Pulau Tegal.

Menyebranglah kami semua dengan perahu kayu  menuju Pulau Tegal, perjalanan di atas kapal sekitar 15 menit. Diatas kapal kami dapat melihat dengan mata telanjang terumbu karang yang menandakan jernihnya air disana. Sungguh kaya Indonesia ini, banyak sekali potensi wisata yang masih belum tertata dengan baik dan belum terpromosikan, sangat disayangkan. Menepilah perahu kami di Pulau Tegal dan kami menuju ke salah satu rumah warga disana yang ternyata itu adalah rumah dari Bapak pemilik perahu. Selepas istirahat sebentar dan menyimpan barang bawaan kami, langkah kaki kami sudah gatal untuk menjelajahi Pulau Tegal. Kami berjalan menuju arah utara dari tempat tadi hingga kami menemukan spot yang bagus dan air yang jernih untuk bermain air. Melihat hari sudah mulai sore dan air laut yang sudah mulai pasang juga kami menghentikan aktifitas dan bergegas pulang.

Kami bersiap untuk berwudlu karena sebentar lagi waktu solat magrib akan segera tiba, untuk itu kami harus menuju sumur yang letaknya berada di belakang rumah Bapak perahu. Menuju sumur kami harus menggunakan senter karena hari sudah mulai gelap dan tidak ada listrik. Untuk mengambil air, kami harus menimbanya terlebih dahulu karena disana tidak ada mesin pompa air. Oh iya, hanya sekedar memberitahu kalau di Pulau Tegal itu tidak terdapat toilet bahkan kamar mandi yang tertutup pun hanya 1 rumah warga yang memilikinya, sisanya adalah kamar mandi dengan atap yang terbuka. Kalau ingin buang air besar diharuskan menggali pasir diantara semak-semak, karena warga disana pun melakukan hal seperti itu pula. Bukan hanya fasilitas toilet dan kamar mandi yang kurang baik disana, tetapi sekolah pun hanya ada satu saja itu pun kecil ukurannya.

Solat magriblah kami namun tidak berjamaah karena ruangan yang tidak mencukupi dan bertepatan dengan magrib maka menyalalah lampu di rumah tersebut yang ternyata lampu akan menyala sampai pukul 23.00 saja. Selesai magrib, aktifitas kami semua berbeda-beda ada yang membaca Al-Quran, menikmati bintang di langit dan berbincang-bincang. Waktu solat isa pun tiba, dan kami tetap tidak berjamaah untuk solat isa. Kemudian kami masih melakukan aktifitas yang sama seperti tadi, tetapi bedanya kali ini menikmati bintangnya diiringi lagu-lagu galau dari playlist handphone milik Sufi, mungkin dari lagu tersebut dia ingin memberitahukan bahwa dia masih single. Sedang asyik-asyiknya mendengarkan lagu, tiba-tiba Sifat datang mengajak kami bermain games konsentrasi dengan tujuan agar diantara kami lebih akrab dan saling mengenal lagi. Tidak lama waktu berselang, datang teman-teman panitia Lampung membawakan kami makan malam, dengan lahapnya kami menghabiskan semuanya. Terlihat betapa kelaparannya kami, padahal sebelumnya sudah makan nasi padang. Tidak mau membuang waktu, selesai makan kami langsung mengadakan acara diskusi bersama teman-teman Lampung yang dipimpin oleh avel.

Di acara tersebut kami diwajibkan memperkenalkan identitas diri sambil menceritakan pengalaman seputar hari pertama mengikuti blind travel. Kalau teman-teman dari Lampung diwajibkan menceritakan seputar kegiatan mereka atau komunitas yang mereka ikuti. Salah satu yang bercerita adalah Sisil yang merupakan tim dari Rumah Baca Asma Nadia Pulau Tegal. Dari Sisil kami menjadi tahu mengenai kondisi pendidikan di Pulau Tegal tersebut. Anak-anak disana memanggil Sisil dengan panggilan Nenek Guru, dia dan beberapa teman lainnya datang ke Pulau Tegal setiap weekend dengan setiap minggunya memberikan materi belajar yang berbeda-beda mulai dari pelajaran sekolah sampai kerajinan tangan. Sisil juga menceritakan seputar kebiasaan masyarakat Pulau Tegal yang suka mengadakan nonton DVD bareng film jadul seperti Warkop, dimana untuk membeli DVD tersebut mereka harus pergi ke kota terlebih dahulu bahkan bisa jadi film tersebut di putar berulang-ulang oleh mereka.

Acara diskusi pun selesai dan waktu sudah mulai mendekati pukul 23.00 dimana lampu akan dimatikan, dengan kecepatan penuh dan sisa waktu yang ada kami langsung ke acara selanjutnya yaitu tukar kado. Kado diputar mengikuti alunan musik yang diputar panitia sambil kami disuruh memejamkan mata. Berhentilah musik yang mengiringi maka berhenti juga perputaran kadonya juga. Mata kami terbuka semuanya dan kami mendapatkan kado yang berbeda dari awal tadi. Kemudian panitia menyuruh kami membukanya dan membacakan alasan kenapa orang itu memberikan kado tersebut. Kelompok kami dimulai dari Sufi mendapatkan kado tempat makan beserta botol minumnya yang ternyata itu miliknya Elva, Ayu mendapatkan binder dan isinya yang merupakan milik Erni, Elva mendapatkan kaos Bandung dari Hamdan atau Yusmi karena kado mereka berdua sama, sedangkan desi mendapatkan. Selesai bertukar kado, kami semua langsung menuju tempat peraduan kami dimana perempuan tidur didalam rumah sedangkan laki-laki tidur diluar dengan menggunakan tikar dan beratapkan langit. Sayup-sayup suara panitia berdiskusi masih terdengar dan beberapa peserta masih mengobrol sambil tiduran, tibalah saatnya kegelapan menghinggapi kami.

Hari ke-3, tanggal 31 Maret 2014

            SURGA DUNIA. marked!by. Ayu

      Berpartisipasi dalam pembuatan jurnal merupakan hal yang menantang bagi Saya, mengingat keahlian saya dalam tiga hal: Nyasar, Lupa, dan Pelor (nemPel molor), saya khawatir ada hal yang terlewatkan, tapi beginilah kira-kira awal perjalanan kami di hari terakhir petualangan kami…

“Bangun, bangun, Sunrise. Mau lihat sunrise gak?”

Sekitar pukul 04.48 suara Teh Sifat terdengar membangunkan kami yang masih tidur pulas di dalam rumah, Saya sempat menggoyang-goyang Isna dan Elva yang tidur berdekatan, niat membangunkan mereka sih, tapi saya sendiri masih bereaksi dengan mata tertutup. Nah lho…

Masih dengan mata merem melek dan keengganan tingkat dewa, Saya dan Elva bergegas pergi menuju sumur yang terletak di antara pepohonan dan semak belukar. Mirip kayak properti film horor atau acara etnic runaway gitu. yang jaraknya sekitar 30 meter atau setara dengan 50x jarak kamar – toilet di kosan kami, kami berdua segera berwudlu dan kembali ke rumah untuk solat subuh.

Setelah selesai solat subuh dan bersiap-siap, sekitar pukul 5.25 Saya dan Elva bergegas keluar rumah, bersiap untuk ikut melihat sunrise juga. Para lelaki terlihat sudah siap berangkat, Desi menyambut kami dari depan pintu, akhirnya kamipun berangkat bersama menyusuri jalanan setapak dengan rerumputan dan semak belukar yang mengantar kami ke sisi pantai yang lain. Dan Inilah sunrise paling spektakuler sepanjang masa…!!! *0* —zZzZz—– kami melewatkannya.

Sepertinya kami berada di sisi pantai yang salah, karena yang saya lihat hanya cahaya kemerahan dan siluat biru berpendar di langit, sedangkan matahari terbit di balik bukit sana. Humpff. Tapi kami bersyukur memiliki Tim kompak yang saling menguatkan, mendukung, dan menghibur. Gelagat fasil kami, Kamil, yang ‘ngocol berat bro’ benar-benar menjadi penghidup suasana, sunrise memang penting, tapi yang terpenting adalah bagaimana kami menikmati dan menjadikan setiap momment yang kami jalani menjadi momment manis yang ‘OX’ banget. Tiga hari untuk selamanya. Ciee…jodoh mah pasti bertemu yah bro.

Meskipun kami belum sempat menikmati sunrise pantai pertama kami, kami puas dengan kelakar, bermain di pantai dan foto bersama, setelah itu kami bergegas kembali ke rumah. Baru beberapa menit kami sampai di rumah, Sufi, anggota kelompok kami yang paling adem ayem mengajak kami ‘ke dunia lain’ Saya, Desi, Edo, Elva, Erni dan Iqbal mengikuti Sufi ke destinasi yang kami sendiri belum tahu akan kemana, kami menyusuri banyak tanjakan bersemak belukar, rumah-rumah warga setempat yang terbuat dari kayu, pelepah kelapa, ijuk, dan bilik anyam, sawah, aneka kebun mulai dari kebun jengkol, pisang, kelapa, hingga kebun coklat. Kumpulan pepohonan yang lebih cocok disebut hutan dari pada kebun.

Kami berjalan berderet, Edo berjalan di barisan paling depan nampak bingung mencari jalan, kami berjalan sambil berkelakar, ditengah jalan kami bertemu dengan Pasutri (Yosmi dan Hamdan) yang turut menyusul kami. Setelah sepanjang perjalanan hanya melihat pohon, akhirnya kami menemukan deretan rumah warga lagi, kami menyapa penduduk dengan anggukan sopan dan senyum keramahtamahan, namun… salahkan ajing galak merobek keramahtamahan kami, Edo dipaksa mundur ke barisan belakang, tapi dengan gagah berani, Sufi, anggota kelompok kami maju ke depan sambil menirukan suara gonggongan anjing warga setempat, dan ajaibnya anjing milik warga itupun pergi. WOW, apakah Sufi adalah titisan warewolf? Heaven know. Sayup kami mendengar deru air, dengan penuh semangat kami pun mendadak berlari dan menemukan pantai lain di ujung jalan. YEEEE!!!! Dalam hitungan detik kami sudah nyebur berjama’ah.

Entah angin surga atau memang takdir, tak lama keluarga Blind Travel yang lain datang sambil membawa alat snorkling dan perangkat narsis yang paling di ditunggu-tunggu, kamera. Meskipun Saya tidak begitu mengerti, tetapi laut hijau zambrut di depan seperti menggoda dan memanggil Saya, tanpa berfikir panjang saya bergegas memakai pelampung. Saya tidak bisa be-re-nang.

Mulai dari berjalan di tepi pantai, melewati bebatuan, terseok-seok di tepian laut hingga harus ditarik oleh Teh Sifat. Kebayang dong! Teh Sifat harus ngangkut Gue yang ilmu ngambangpun belum bisa, Yusmi yang belum bisa berenang, dan Hamdan yang belum faseh soal kelautan. Sampai akhirnya berhasil menaiki undakan bukit batu dengan nama “Batu Putih” dan membuat saya semakin penasaran tentang “Apa yang ada di dalam sana” karena sanggup membuat Desi, Elva, Isna, Kamil, Mita, Ririn, dan yang lainnya nyebur gak nongol-nongol.

Selang waktu berlalu, Teh Sifat mengajak Saya untuk beneran nyebur ke laut lepas. Dengan santai, beliau memegangi Saya dan menarik Saya ketempat karang-karang cantik bersemayam, karna melihat posisi Iqbal yang condong ke depan tanpa pelampung, Teh Sifat berkata “Ati-ati Bal, dalem, di bawah tuh udah palung laut”. BUK! Berasa di tabok, kata-kata itu sukses bikin kaki lemas seketika. Palung laut men! Ini bener-bener pengalaman pertama dalam hidup Saya.

Diluar dugaan, teman-teman yang ingin ikut melihat karang bukan hanya Saya, sehingga Teh Sifat cukup kerepotan membawa lebih dari satu orang, dan Saya pun harus berjuang bertengger di bagian kanan lengan pelampung Teh Sifat sambil berusaha menenangkan diri dan menjaga keseimbangan. Padahal sumpah! Gue takut buanget. Hingga akhirnya Desi datang dan TADA! Dia bisa menenangkan dan membawa Saya ke snorkling point yang di tuju, sambil memegangi Saya, dia dengan sabar memberi Saya kesempatan untuk memakai kacamata renang lalu memberikan arahan untuk menceburkan wajah Saya ke dalam air dengan kondisi yang…………tenang.

Di puncak unggakan batuan ada Sufi yang saat itu merasa cukup nyaman dengan berdiri dan memandang horizon pantai seakan berkata ‘setelah 26 provinsi nun jauh yang telah aku tapaki, dimanakah wahai jodohku’ *ehm… becanda Bang ^^.

Larut dalam penerjemahan konyol pikiran ini, Saya menyadari bahwa Saya telah jatuh cinta. Hanya dalam satu kali kesempatan, saat pertama kali Saya membuka mata di dalam air lalu keluar sambil berteriak “Sumpah!Nagih Banget!!” ketakutan Saya hilang begitu saja, lalu Saya melakukannya lagi… lagi… lagi… bahkan tanpa pendamping, bahkan ketika Saya sadar tidak bisa berenang atau ketika Saya sadar berada di kedalaman tertentu di tengah laut hijau zambrut. Semuanya larut dalam pemandangan karang berundak bersiluet hijau, biru, merah, dan kecoklatan dengan rumput laut berwana tua bergoyang di sekitarnya, lalu ikan-ikan besar dan kecil bergerumul, berkelompok bergerak dari sisi satu ke sisi lainnya…………….. WOOOOOOOOOOOW.

Setelah adegan ketakutan yang tiba-tiba menghilang, Isna dan Elva mendekati Saya dan entah kenapa kami tiba-tiba menyanyikan lagu kebangsaan konyol kami “Cintaku… lebih besar dari cintanya… mestinya kau yakin itu… bukan dia… bukan dia… tapi aku…” entah bagaimana tapi akhirnya lagu kebangsaan itu berhasil dinyanyikan di puncak gunung dan di sisi samudra.LOL.

Setelah terpesona dengan keindahan bawah laut, waktu jua yang memisahkan kami. Kami harus bersiap untuk pulang, akhirnya aku melepas pelampung dan kembali ke rumah tempat kami menginap. Sepanjang perjalanan Saya merasa sesuatu menggaggu kaki Saya, dan tanpa Saya sadari sandal yang saya pakai sudah terdapat bercak-bercak darah.Beberapa goresan di jari kaki agak terbuka dan terkena pasir.Yeah itu sakit. Lalu ada beberapa bagian kaki yang lecet, itu sepadanlah dengan unforgettable memmory ini.

Ada satu hal yang membuat Saya terenyuh dan merasa bersalah, “Kita tuh khawatir dengan kaki kita yang lecet kena karang. Karang tumbuh bertahun-tahun, tapi mati hanya dengan satu injakan kaki manusia. Mayoritas gara-gara amatir” Itu adalah kata-kata Teh Sifat yang membuat Saya tersentak. Seperti Drama Queen memang, Well…I act tough but not inside. Dan yang terbersit untuk mengakomodasi rasa bersalah Saya adalah dengan bertekat belajar berenang. Saya tidak bisa memperbaiki apa yang telah Saya rusak, tapi semoga Saya bisa memperbaiki agar Saya tidak melakukannya lagi di kemudian hari.

 UNTOLD STORY 

 Dalam perjalanan pulang dari tempat kami snorkling menuju rumah peristirahatan kami, kami seperti terpisah dalam tiga kloter. Kloter pertama ada Sufi dan beberapa lainnya yang sudah bergegas pulang lebih dulu, kloter ke dua ada Saya, Elva, Desi, Teh Sifat, Erni, dan Iqbal. Di perjalanan pulang, kloter Saya bertemu dengan kloter Sufi yang sepertinya sengaja menunggu kami dengan beberapa buah sisa buah kelapa yang berserakan di jalan. Mereka cengengesan. “nih” kata Sufi sambil menyongsogkan sebutir kelapa yang sudah di kupas kepada kami. Entah dia menyongsongkannya karena memang menyisakan untuk kami atau karena sudah terlanjur ketahuan pesta kelapa di tengah jalan.

Entah haus atau memang doyan, kami meminum air kelapa secara bergantian, satu kelapa untuk 6 orang.Dengan  sabar kami menanti giliran tegukan air kelapa dengan tampang mupeng penuh pengharapan. Melihat tampang kami kloter Sufi tertawa “Ya ampun… kalian kasian banget. Kita tadi satu orang dapet satu kelapa. Makan kelapa sampe ‘tolooong… sudah… jangan kasih Gue kelapa lagi, pleaseplease” Edo dengan gaya kocak dramatisnya. Kami benar-benar mengeruk daging kelapa hingga serat penghabisan, Teh Sifat menyuapi kami satu per satu. Hehe.

Setelah kelapa habis, Iqbal berinisiatif untuk menaruh kelapa-kelapa itu di tengah jalan, supaya kloter setelah kami mupeng karena tidak mendapat jatah kelapa. Kami pun meneruskan perjalanan. Tidak sampai lima menit kami berjalan, “wooooiii!!! Kaliaan makaaan kelapaaaa!!!!!” suara Isna (kloter 3) terdengar dari kejauhan. Kami hanya cekikikan menertawakan mereka.

Setelah basah-basahan dan main pasir, kami harus bersih-bersih dong supaya bisa pulang dengan nyaman. Saya, Erni, Elva, dan Isna mencari sumur yang dirasa lebih nyaman dari sumur ‘horor’ kami sebelumnya dan setelah keliling-keliling sebentar, akhirnya kami bertemu dengan sumur yang sudah memiliki bilik penutup dengan lantai yang sudah di semen, airnya jernih, dan nimbanya juga tidak dalam. Kami pun segera meminta izin warga untuk menggunakan sumur tersebut. Tapi di luar ekspektasi kami, seorang ibu datang dengan wajah cemberut lalu mulai mengomel tentang salah seorang dari rombongan kami yang datang ke sumur tempat mandi dan cuci lalu buang air besar, padahal tempat itu jelas bukan tempat buang air besar. Itu untuk mencuci dan mandi dan yang luar biasa, kakus yang—sebut saja Bunga–  Bunga keluarkan, tidak dibersihkan. Damn.

Saat kegiatan menjemur pakaian basah, membersihkan diri, dan mengobrol dengan sorang nenek yang sedang mengupas jengkol berlangsung, Teh Sifat dan Desi datang, kami pun lantas menceritakan semua kejadian yang terjadi di TKP menyangkut suara sumbar sang Ibu yang mengomel pada kami. Dengan wajah kesal Teh Sifat bertitah “Kita bersihkan”. Busseet!!

Untuk menjaga ketentraman dan keamanan perjalan, akhirnya Teh Sifat mengambil peran sebagai eksekutor utama yang bergelut langsung dengan kakus yang masih bergelimpangan, Desi sebagai pembantu eksekutor utama, Saya dan Isna sebagai pembawa pasir, Elva dan Erni mengurus air untuk kebutuhan pembersihan. Tak lama berselang, Isna mulai mundur dan berganti tugas dengan Elva. Sadar akan gejolak dalam perut yang mulai tidak normal, Saya memutuskan untuk mundur dan mengerjakan pekerjaan lain. Jangan sampai, selain ngurus kakus si Bunga, mereka juga harus berurusan dengan muntahan Gue. Akhirnya Saya bertugas mengurus tek tek bengek soal siram menyiram air. Setelah kakus sudah tertimbun rapi, rata dengan pasir, dan hampir tidak terdeteksi lagi. Si Ibu medadak muncul sambil berkata “Saya gak mau di timbun! Harus di buang!!!”.What the…

Desipun bergegas mencari kantung keresek untuk: mengangkat kakus – memasukan ke dalam keresek – membuangnya. Kami melakukannya sampai dua kali. Arrggghhhh. Setelah selesai berurusan dengan Kakus si Bunga, Teh Sifat dan Desi pergi mencari sumur lain, sedangkan kami, mengobrol dengan nenek pengupas jengkol sambil menunggu pakaian kami sedikit kering bersama pasutri (Yosmi dan Hamdan) yang juga datang ke sana.

Setelah urusan bersih-bersih dan ngobrol dengan Nenek pengupas jengkol kami segera kembali ke rumah peristirahatan, sesampainya disana, Ibu pemilik rumah mendatangi Saya dan Elva lalu bercerita tentang ‘Ibu’ yang merasa dirugikan akibat kejadian kakus di sumurnya telah memarahi salah satu anak pemilik rumah yang usianya sekitar 8 tahun. Kami merasa tidak enak, dan akhirnya meminta maaf berkali-kali untuk meluruskan masalah.Kamipun pergi makan bersama.

Kami makan pagi menjelang siang sekitar pukul 11, kami makan dengan menu telur dadar, tumis kangkung, nasi putih, dan tumis tempe pedas. Waaahhh sumpah nikmat banget! Bener-bener makan enak, ngumpul enak, becanda enak, apa lagi Saya makan dua piring bertiga bareng Isna dan Elva, kami semua duduk lesehan di atas pasir beratapkan nyiur kelapa. Bener-bener ngobatin perasaan kurang nyaman kami soal kakus, meskipun sebelumnya Elva dan Isna mendadak hampir jackpot. Masih teringat kakus kali ya…

Setelah makan kamipun bersiap-siap dengan barang bawaan kami, berpamitan dengan pemilik rumah, dan menyebrang pulang dari Pulau Tegal ke pesisir tempat mobil angkutan yang akan membawa kami ke Pelabuhan Bakauheni. Untuk menyebrang, kami di bagi ke dalam dua kelompok sesuai kapasitas perahu angkutan, mayoritas dari kami menyebrang lebih dulu lalu menunggu di mobil.

“Ada makanan gak ? Makanan makanan” Fasil kami, Kamil nampak memiliki urgensi dengan perut. Sebenarnya kami juga. “Tu ada mie gelas” Kata Desi sambil mengeluarkan berbungkus-bungkus mie gelas yang akhirnya habis kami jarah. “Keluarin dong semuanyaa…” Kata Edo yang juga datang dengan tag lapar di wajahnya, akhirnya semua orang mulai mengeluarkan sisa persediaannya, bubur instan, biskuit, coklat, sampai extrajoss. Kami mencampur bubur instan aneka rasa menjadi satu, ah kalo orang lapar pan mau nasi garem kecap doang pun berasa nasi uduk ayam bakar. Dengan bantuan Edo yang dengan sabar bulak-balik beli aer panas tapi selalu kebagian makanan sisa. Hahaha. Kami semua bisa makan enak. Terima kasih Edo.

Kami makan bergilir sambil menunggu rombongan kedua yang konon katanya belum dapat disebrangkan oleh kapal angkutan. Kami membagi semua makanan serba ber-7, Satu POP Mie untuk 7 orang, bubur 1 wadah ber-7, kenyang gak kenyang tapi asik beud lah! kami makan dengan candaan khas kamil yang sumpah! Bikin Saya terpingkal-pingkal sampai gak behenti. Lagi-lagi Kamil membuli Isna, mereka terlihat seperti Hobbit (Isna) dan Raksasa (Kamil), Isna sampai menjerit-jerit, mungkin dia merasa akan tersedot masuk ke lubah hidung Kamil yang super Woouw. Hahaha.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya rombongan berikutnya datang, kamipun segera berangkat.Sambil terkantuk-kantuk akhirnya kami berhenti di tempat pembelanjaan oleh-oleh YenYen. Fasil kami nampak kalap dengan memasukan hampir semua yang dia lihat ke keranjang *perspektif saya hehe, soalnya keranjang Kamil memang tampak overload. Saya hanya membeli beberapa cemilan saja, maklum, proses kepulangan kami memang agak berbeda ketika kami datang. Terdapat beberapa kendala yang cukup membuat biaya membengkak.

Diperjalanan meuju Pelabukan Bakauheni, Saya, Elva, Isna, Iqbal, Yusmi, Avel, dan Edo yang kebetulan duduk dalam satu angkutan sharing tentang berbagai pengalaman dan masalah, mulai dari cerita yang terjadi saat perjalanan sampai masalah kecengan dan hal-hal pribadi. Pembicaraan itupun membuat waktu terasa singkat, akhirnya kami sampai di Pelabuhan Bakauheni – membeli tiket – lalu bergegas masuk ke kapal.

Kelas ekonomi terlihat ramai dan meriah, karena selain cukup padat juga terdapat hiburan malam yang diramaikan oleh penyanyi lagu dangdut dan lagu-lagu lawas dengan iring-iringan organ tunggal.  Beberapa orang diantara kami memutuskan untuk pindah ke kelas yang lebih tinggi, sedangkan Saya, Elva, Isna, dan Erni sudah tidur berjejer saling menopang kepala. Saat bangun kami merasa bingung kenapa hiburan organ tunggal ini selesai dengan cepat, tapi ketika kami sadar kami sudah sampai di Pelabuhan Merak. Jadi selama ini kami berempat tidur pulas selama hampir 3 jam dan kami merasa baru tertitur barang 10 menit. Pules gilla…

Saat jembatan penyebrangan dari kapal ke dermaga di buka, kami menjadi urutan pertama yang keluar dari kapal, kami berjalan bergegas dan langsung menuju Indomart terdekat. Glek glek glek aahhh… freshtea terasa benar-benar fresh saat melewati kerongkongan kering yang menahan haus sejak di Bakauheni karena persediaan air sudah luluh lantah. Kami pun berjalan bersama sampai ke terminal bus, lalu kami saling berpelukan dan pamit karena dari point inilah kami berpisah menurut destinasi kepulangan masing-masing. Saya, Teh Sifat, Elva, Isna, Iqbal,Yusmi dan Hamdan berangkat dengan bis yang sama menuju Bandung. Tak lama berselang Saya dan Elva sudah tertidur.

Diperjalanan kernet membangunkan kami, dengan tampang bingung khas bangun tidur, Saya butuh waktu sedikit lebih lama untuk menelaah keinginan seorang pemuda dengan pakaian oranye yang betah mengganggu Saya dan Elva sejak tadi. Untuk mempermudah proses pembayaran dan mempercepat kembali ke alam mimpi, Saya meminta Teh Sifat untuk membayari ongkos Saya. Setelah proses pembayaran berakhir kamipun kembali tidur dengan pulasnya. Saya hampir tidak memperdulikan cucuran air buangan AC yang menetes membasahi jaket yang Saya kenakan, Elva juga kadung malas mengurusi penumpang di depannya yang menggeser kursi hingga membuat kaki terasa tidak nyaman. Well… kami lelah dan mengantuk.

Akhirnya kami terbangun karena dikejutkan oleh musik keras dari speaker di dalam bis. Oh ternyata kami sudah sampai Terminal Leuwi Panjang, jam menunjukan pukul 5 pagi, kami segera turun dan membawa barang bawaan lalu berpisah menuju tujuan masing-masing.

Hidup bukanlah Tujuan, tapi perjalanan * Tulisan di Carrier Iqbal

Pernikahan bukan balap karung * By. Kamil

Bersama tidak harus sama, tapi bersama kita bisa
Farewell My Friend
See You at Next Chapter

-FIN-

Cerita Kelompok 3 : 

“Perjalanan Buta The Ujug-Ujug Familiy”

Pagi itu stasiun Gambir tambah ramai dengan kehadiran kami, sebuah keluarga tak sedarah yang terikat karena kesamaan misi. Sesi perkenalan semakin semarak dengan hadirnya bulatan donat yang diberikan oleh Ka Mirza, seorang senior Forum Indonesia Muda yang terlihat ramah, easy going dan konon dalam waktu dekat ini akan melangsungkan pernikahan. Semoga lancar semua persiapannya deh, Ka! J Btw, donat cukup membuat kami bertenaga untuk berjalan menuju tugu Monas yang bersebelahan dengan stasiun Gambir.

Di tugu Monas ini, Ka Mirza memimpin perkenalan lanjutan. Perkenalan asik diiringi gaya-gaya kocak dan lagu “Jugijagijug” sebagai kata kunci perkenalan.

We’re the last but..

Tugu Monas menjadi saksi pembagian tim yang ditentukan dengan gambreng style. Takdir Tuhan, kami dipersatukan sebagai tim keluarga berencana dengan Hamdan (The Papah) sebagai ketua, Yusmi (The Mamah) sebagai penulis jurnal, Edo (The Kakak) sebagai dokumentasi dan Isna (The Bungsu) sebagai penulis jurnal disertai seorang fasil paling cantik bernama Vanesa (The Eyank).

Beginilah resikonya mengikuti perjalanan buta, semua serba buta sampai kami dapatkan amplop berisi uang R. 25.000 dan tulisan berisi destinasi perjalanan;

Menara Siger, Pelabuhan Bakauheuni, LAMPUNG!!

Can you imagine that? Lampung Brooo!. Rp. 25.000 per orang!. Subhanallah.. Tapi amplop putih nan buta itu cukup menggugah jiwa petualang kami untuk terus bergerak maju. Fighting!

Pasca pembagian tim, kami tidak langsung berangkat seperti tim yang lain. Kami tertinggal dan sempat menjadi bahan tertawaan panitia. Tapi ya sudahlah, rapopo. Banyak hal yang harus didiskusikan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan karena tidak ada seorang pun dari kami yang mengenal Jakarta dengan baik. Hamdan dan Edo bergegas menghubungi teman-temannya yang mengetahui track tercepat menuju Menara Siger hingga menghasilkan beberapa opsi, diantaranya:

  1. Melaju bajaj ke stasiun Duri, Tanah Abang kemudian naik kereta dengan harga Rp. 5000. Huhm,,menggiurkan.. Tapi jadwal kereta itu ada jam 09.00 dan jam 14.30 saja. Saat itu sudah pukul 08.30, setelah mempertimbangkan waktu yang kami miliki, akhirnya kami urung memilih opsi itu.
  2. Naik bus way menuju RS. Harapan Kita kemudian naik bis ke Pelabuhan Merak. Huhm,,kami tidak melihat adanya opsi lain, jadi…mari maju jalan!.

Mengambil keputusan untuk memilih opsi dua ternyata cukup beresiko, terutama dalam efektivitas waktu. Petama, kami harus berjalan cukup jauh untuk mencari shelter Gambir 1 karena hanya dari shelter itu kami bisa menemukan bis tujuan kami. Cuaca panas dan tidak ada pemandangan bagus di sisi kiri kanan kami, hanya jalan yang lebar dan gedung-gedung tinggi. Saat itu, yang membuat nyaman perjalanan adalah teman-teman satu tim yang baru juga bertemu tapi sudah bisa akrab seperti teman lama. Setelah tiba di shelter Gambir 1, kami langsung membeli tiket bus way dengan harga Rp. 3.500 per orang. Um,,agak bingung juga sih, kami harus membayar tiket fasil gak ya? Hehe.. Tapi untungnya, Fasil kami langsung maju dan membeli tiketnya sendiri. Alhamdulillah,,keuangan aman. Tung itung itung, uang Rp. 100.000 dikurangi harga tiket bus way Rp. 14.000, tersisa Rp. 96.000. kami masih harus memikirkan biaya bis dan tiket kapal. Kami pastikan uang kami kurang, tapi kami sepakat untuk menambal kekurangnnya dengan berjualan. Awalnya, kami mau menggunakan sebagian uang kami untuk membeli sesuatu untuk dijual kembali, tapi akhirnya kami memutuskan untuk menyimpan semua uang tersebut dan menjual barang yang kami miliki untuk menambah uang ongkos.

Busway menuju Harmoni pun datang. Resiko kedua mengambil jalur ini adalah kami harus transit untuk mencapai tujuan utama kami. Pertama, kami naik bus way menuju Harmoni dan dari Harmoni naik bus Way menuju Kalideres dan turun di RS Harapan Kita. Menunggu adalah ujian pertama kami. Kami harus menunggu cukup lama karena bis yang kami maksud belum juga tiba. Kami menunggu dengan perasaan cemas bercampur pengharapan, semoga bisa sampai sebelum waktu yang ditetapkan. 10 jam, maksimal jam 18.00 harus tiba di Menara Siger!. Ckckck.. pergolakan rasa juga semakin mewarnai perjalanan kami, terutama saat fasil memberitahukan ada tim yang hamper sampai di Pelabuhan Merak. Ow..!. Tapi ya sudah, lebih baik ikut berbahagia saja tim manapun yang sampai lebih dulu. Toh kami pun tidak sedang berleha-leha saat ini. Yang terpenting adalah berusaha sebagi mungkin dan nikmati perjalanan.

Perjalanan ini bisa kami isi dengan bercanda, diskusi rencana-rencana untuk mensiasati keuangan yang minim dan membuat yel-yel walau sedikit dibumbui duduk bersandar dalam kegalauan. Biasalah,,anak muda!. Hehe.. Setelah beberapa kali transit dan berjalan menuju shelter berikutnya, akhirnya kami tiba di RS Harapan Kita. Beruntung, saat itu kami langsung menemukan bis AC menuju Merak tapi harganya melambung Rp. 25.000 dan tidak cukup dengan kondisi keuangan kami yang tinggal Rp. 21.500 per orang. Saat itu mulai terjadi perbedaan pendapat antara menunggu bis berikutnya atau terus maju dengan harga itu. Rasanya tidak mungkin jika harus menunggu bis berikutnya, jadi kami beranikan diri untuk menawar harga. Alhamdulillah, pak sopir yang baik itu membolehkan kami naik dengan membayar Rp. 20.000.  Masuk ke dalam bis, mendapatkan tempat duduk yang nyaman dengan AC yang berhembus menyejukkan badan, rasanya hal itu menjadi kenikmatan tiada tara setelah kami menantang panas Jakarta. Sisa uang kami Rp. 1.500 per orang. Mari bobo cantik terlebih dahulu, tiba di Merak nanti..kami akan melancarkan aksi berjualan..

Suasana di dalam bis sangat sejuk walaupun tampak sangat panas saat melihat kondisi di luar bis. Pemandangan beralih dari jalan penuh pepohonan, gedung-gedung dengan tabung yang besar dan beralih di lautan lepas, kami hampir menjejak Merak.

Tiba di Pelabuhan Merak, pemandangan yang kami dapat diluar dugaan. Sungguh, kami berharap ada banyak orang dengan penampilan hartawan yang bias kami dekati dan kami persuasi untuk membeli barang dagangan kami, tapi ternyata lebih banyak yang sesame pedagang atau orang-orang yang tampilannya menengah ke bawah. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkah. Kami membuat dua tim dengan 2 orang perempuan dan 2 orang laki-laki agar kerja kami lebih efektif. Tim perempuan ditolak di percobaan pertama dan Alhamdulillah berhasil di percobaan berikutnya. Tim laki-laki proses berjualannya berjalan lebih mulus, di percobaan pertama mereka langsung mendapatkan Rp. 29.000 sehingga total uang yang terkumpul adalah Rp. 52.500 ditambah uang sisa ongkos Rp. 6000, totalnya Rp. 58.500. Alhamdulillah cukup untuk membeli tiket, bahkan kami masih mempunyai sisa. Setelah selesai membeli tiket, kami memberitahukan bahwa ada seorang laki-laki yang membolehkan kami naik kapal secara gratis. Fasil tampaknya jago memikat hati hingga bias mendapatkan penawaran ini, tapi apa boleh buat, tiket kapal sudah ada di tangan. Meskipun demikian, rasanya lebih membanggakan karena tiket itu kami beli dengan usaha kami sendiri dan kami tidak dibantu oleh Fasil. Yap, itu cukup fair karena memang fungsi Fasil bukanlah untuk membantu kami, tapi memastikan agar kami selamat di perjalanan.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 12.00, kami bertemu dengan kelompok lain di masjid Pelabuhan Merak dan mengagumi keberuntungan mereka yang mendapatkan voucher dari Fasil mereka. Wowow banget lah..!. kelompok itupun pergi lebih dulu, sebenarnya bias saja kami ada di kapal yang sama tapi kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu hingga akhirnya Fasil kami memberikan kami uang untuk makan, Rp. 5000 per orang. Ternyata dari tadi Fasil kami menahan lapar dan menawarkan diri pada panitia untuk mentraktir kami makan. Tapi panitia melarang dan membuat keputusan untuk memberikan kami jatah uang makan. Sebenarnya, jatah Rp. 5000 per orang itu sangat sedikit karena harga satu porsi nasi padang saja sudah Rp. 20.000. Tapi bagaimanapun kami harus mensiasati ini. Alhamdulillah, kami bias menawar sebungkus nasi padang dan lauk pauk seharga Rp. 15.000. Oke, masih ada kembalian Rp. 5000, ditambah uang sisa tiket Rp. 6.500 jadi total sisa uang kami adalah Rp. 11.500.

Pelabuhan, lautan lepas dan kapal laut rasanya seperti pengalaman luar biasa karena kami melalui berbagai tantangan sebelumnya. Mungkin rasanya seperti Jack Dawson yang mendapat kesempatan menaiki kapal Titanic. Tapi lagi lagi ini Indonesia, saat aula kapal Titanic menyuguhkan music klasik, kami disuguhi dangdut koplo. Goyang Massss.. hhaha.. Kami menikmati makan siang di aula kapal. Disinilah tragedy itu terjadi, Fasil kami terkena percikan cabe sambel padang!. Matanya sudah memerah dan tampak menahan kesakitan. Isna teringat cara tradisional dengan mengkedip-kedipkan mata kedalam segelas air. Lalu dia membeli air mineral kemasan yang ditawar paksa dari harga Rp. 3000 menjadi Rp. 2000. Alhamdulillah, dengan cara tradisional itu, mata Fasil kami membaik. Merah di matanya perlahan hilang dan tidak terasa panas lagi. Selanjutnya,,Isna, Edo dan Fasil banyak menghabiskan waktu di luar aula kapal, menatap lautan lepas dan berbagi cerita. Kami membiarkan Hamdan dan Yousmi bercengkrama menikmati bulan madunya dengan iringan lagu dangdut di dalam aula. Hingga akhirnya mata kami takjub melihat kekokohan Menara Siger. Ya Tuhan,,kami hampir sampai..

Kapal mulai merapat. Saat itu kurang lebih pukul 16.00. Kami memulai lagi langkah mendekati Menara Siger. Persediaan air tinggal sedikit lagi sedangkan panas sangat menyengat membuat dua orang diantara kami kelelahan. Yousmi dan Fasil tertinggal jauh di belakang dengan wajah memerah karena kepanasan. Hamdan, Edo dan Isna menunggu sambil mencari jalan alternative agar bias sampai lebih cepat ke Menara. Kami menemukan jalan alternative itu, melewati SD dan sedikit menanjak. Tapi kami harus tetap semangat, sedikit lagi, perjalanan hamper sampai di tujuan. Dua orang yang tertinggal tadi sangat hebat melawan rasa lelahnya, kami bias berjalan beriringan lagi hingga akhirnya kami tiba. Kami menginjakkan kaki di Menara Siger kurang lebih pukul 16.30, kurang dari target yang ditetapkan. Alhamdulillah, kebanggan itu semakin terasa saat melakukan cap tangan sebagai symbol kedatangan kami. Kokohnya Menara Siger, barisan pegunungan, lautan lepas dan mentari yang mulai menarikan senja membersamai canda tawa kami mentertawakan kekonyolan kami sepanjang perjalanan. Rasanya masih tidak menyangka kami ada di Lampung setelah beberapa jam yang lalu kami adalah kelompok yang tertinggal di Monas oleh kelompok-kelompok lain. Kami kelompok yang terakhir meninggalkan Monas, tapi kami bukan kelompok yang paling terakhir tiba di tujuan. Alhamdulillah..

Adzan magrib berkumandang, kami melaksanakan shalat magrib dan isya berjama’ah di masjid dekat Menara Siger. Saat itu, Kamil yang merupakan Fasil dari kelompok yang lebih dulu tiba menjadi imam. Kamil itu orang yang gokil abis, tapi bacaan qur’annya sangat baik. Hehe,,jadi melihat sisi yang berbeda dari orang tersebut. Selesai shalat, kami menunggu aba-aba untuk pergi ke Bandar Lampung sambil mengobrol santai dengan peserta yang lain. Tak disangka, panitia pun tiba membawakan nasi padang. Kami semua memutuskan untuk berjalan terlebih dahulu ke tempat truk yang akan membawa kami ke Bandar Lampung. Lucunya, setiba di dekat truk yang ada di SPBU, kami semua dengan sangat percaya diri duduk di pinggiran SPBU dan mulai membuka bungkusan nasi sampai akhirnya penjaga SPBU dating dan menyuruh kami pindah karena ternyata tempat yang kami duduki adalah tangki bensin. Hahha.. Kami pun pindah ke tempat yang di rekomendasikan dan mulai menikmati hidangan makanan padang.

Kenyang mengisi makanan, kami pun lebih bertenaga untuk menaiki truk menuju Bandar Lampung. Kondisi di dalam truk cukup nyaman karena kami tidak langsung menduduki atas mesin tapi menduduki keramik yang dibawa sopir truk tersebut. Kelompok kami terpisah. Yousmi dan Fasil ada di truk yang lain dan Hamdan, Edo beserta Isna ada di truk yang satunya lagi. Truk Yousmi dan Fasil diisi dengan acara berbagi cerita tentang pengalaman masing-masing sedangkan truk yang ditumpangi Hamdan, Edo dan Isna tampak kelelahan dan tertidur. Saat itu, hanya Isna yang masih terbangun karena asik berbicara di telpon dengan keluarganya menggunakan bahasa sunda. Ternyata, orang-orang yang tertidur itu tidak benar-benar tidur karena mereka menguping pembicaraan Isna dan keluarganya hingga akhirnya ada sebutan Penyiar Radio Bandung buat Isna. Tim kami memang penuh dengan julukan. Yousmi dan Hamdan dijuluki pasutri karena mereka memang pasangan yang baru menikah. Tinggal Edo yang tampaknya belum punya julukan. Hehe..

Perjalanan panjang pun pasti memiliki ujung. Ujung perjalanan kami malam itu adalah Bandar Lampung, tempat berdirinya rumble Lamda, rumbelnya anak FIM Lampung. Lagi-lagi ada kisah menarik tentang fasil kami, Vanesaa (The Eyank), si fasil cantik kami kesulitan turun dari truk, walhasil semua turun tangan untuk membantu si fasil cantik turun. Kami sudah kelelahan dan akhirnya mengumpulkan sisa tenaga untuk perjuangan esok hari. Bias jadi ada tantangan yang lebih dahsyat lagi besok, jadi..selamat beristirahat..!

Minggu, 30 Maret 2014

Pagi yang cerah dengan mentari yang bersinar berlebihan. Hehe.. Setelah shubuh berjama’ah, kami memulai pagi dengan antrian panjang di kamar mandi. Untungnya Yousmi dan Isna sudah mandi sejak jam 03.30 pagi jadi bias menggunakan waktu menunggu untuk menikmati pemandangan. Pemandangan dari lantai 2 rumbel Lamda adalah lautan. Kata Eva, laut itu hanya bagus saat dilihat dari jauh. Ternyata, hal itu bukan hanya guyonan saja karena jika dilihat dari dekat yang lebih dominan adalah pemandangan lautan sampah dibanding indahnya laut biru. Teman-teman FIM Lampung sudah membuat suatu program bernama Bank Sampah untuk mengatasi ini tapi masih terhambat kemauan warga untuk bekerja sama. Ternyata selain menambah keberanian untuk travelling, perjalanan kali ini juga membuka inspirasi untuk lebih giat mengamalkan ilmu yang dimiliki lewat berbagai kegiatan yang berguna untuk masyarakat.

Matahari terus bergerak meninggi. Panitia meminta kami turun untuk berolahraga. Kali ini, olahraga dipimpin oleh Tian, FIM Lampung. Namanya mungkin olahraga eror karena gerakannya yang kocak, tidak jelas urutan antara pemanasan, pendinginan dan gerakan utama. Yang penting ikuti alunan music dan tetap hepi.

Beres olahraga kami diperbolehkan mencari makan. Lalu kami pun berjalan-jalan mencari makanan, namun saying, lampung bukanlah Bandung yang mempunyai berjuta kuliner hingga akhirnya kami hanya duduk di kursi pinggir jalan dan berlatih yel kelompok. Saking asiknya berlatih yel, kami lupa waktu. Ternyata ada Eva dan Tian yang mencari kami untuk segera kembali ke rumble. Disana diadakan tantangan kedua, yaitu lomba masak. Kami mendapat bahan makanan sisa sebagai konsekuensi keterlambatan. Oke, disini kami punya telur, bayam dan tempe dengan beberapa bumbu. Tadinya, telur mau dibuat semur tapi karena waktu terbatas jadinya dibuat telur dadar. Menu kami adalah telur dadar rica-rica, bayam toping bawang, tempe goring enak dan sambel pedas manis. Alhamdulillah, meskipun terlambat dating kami bias menyelesaikan tantangan tepat waktu. Telur memang agak gosong tapi rasanya pas, tempe enak dan sambal pedas manis terasa pas hanya saja bayam yang kami buat bawangnya terlalu banyak dan kurang matang karena terburu waktu. Tapi semua bias dinikmati walau proses memasak agak dibumbui pertengkaran kecil di rumah tangga tentang pembagian tugas, meskipun demikian semua bias dibawa hepi. Karena semua orang membantu dan bahu membahu. Hahha..

Awalnya kami berpikir bahwa kami tidak bisa makan seenak ini karena dari awal panitia hanya menanggung satu kali makan saja. Tapi Alhamdulillah, nikmat makan masakan sendiri itu luar biasa. Setelahnya kami bersiap dengan penyuluhan. Kami berkenalan dengan adik-adik rumble Lamda yang sangat ceria dan penuh semangat. Kami bercerita dengan adik-adik, mengobrol, melakukan beberapa permainan sampai adu nyanyi yang terjadi di adik-adik usia 5 tahun ke bawah. Lucunya, ada satu adik bernama Dafa yang ketika diminta maju untuk bernyanyi inginnya menyanyikan lagu Bulan Besar. Tapi dia tak juga bernyanyi meskipun sudah berdiri cukup lama. Akhirnya kami menginisiasi lagu Bulan Besar itu dengan nada Bintang Kecil, liriknya jadi, “Bulan Besar,,di langit yang biru..”. Tawa kami semua pecah dengan kekonyolan itu. Hahha..

Makan sudah, membersamai adik-adik sudah dan tiba waktunya untuk beristirahat. Seharusnya jadwal setelah ini adalah makan siang di tempat warga yang hajatan, tapi urung karena masih menunggu teman-teman dari komunitas lain yang belum dating. Kegiatan pun diisi dengan acara pribadi. Ada yang bermain game konsentrasi, ada yang jalan-jalan, ngobrol dan ada yang tidur. Sekitar jam 13.00 kami dimobilisasi untuk berangkat menuju pulau Tegal menggunakan landrover. Perjalanan agak terhambat karena landrover yang dipesan ternyata kurang sesuai dengan jumlah orang dan bawaan yang ada hingga akhirnya kami harus menunggu landrover lain baru bias bergerak maju. Acara ini memang memiliki banyak waktu untuk menunggu sesuatu, tapi karena orang-orangnya nyaman akhirnya waktu menunggu pun tidak terasa membosankan. Landrover pun tiba, kami bergegas pergi menuju pulau Tegal yang konon penghuninya masih jarang. Sekitar jam 15.00 kami tiba di pemberhentian menuju pulau. Sekarang kami menunggu perahu yang membantu kami sampai di pulau itu. Waktu menunggu kami isi dengan makan (makanan padang lagi) dan ngobrol-ngobrol santai dengan peserta lain.

Perahu pun tiba, kami naik dan menikmati penyebrangan. Setiba di pulau, kami menyimpan barang dan berjalan-jalan menyusuri pantai. Pemandangan sangat menakjubkan dan terasa lebih nikmat karena keakraban diantara kami, baik itu panitia ataupun peserta makin erat terjalin.

Saat yang lain tengah asyik menikmati senja di pantai, Yusmi (The Mamah) dan Hamdan (The Papah) memilih untuk blusukan ke rumah-rumah penduduk. Dalam agenda blusukan dadakan itulah, pasangan ini disuguhi kopi oleh Ibu Supiyan yang tinggal tidak jauh dari rumah pak Nur Saman tempat homestay rombongan. Ibu Supiyan sudah mulai sepuh, tinggal sendirian di rumahnya yang hanya terdiri dari kamar tidur dan dapur. Dari Mbah Supiyan pulalah pasangan ini mendapatkan informasi mengenai jumlah rumah yang menghuni pulau tegal, terdapat sekitar empat belas rumah warga tanpa kakus dan hanya beberapa rumah yang disertai sumur. Menurut cerita, hanya kalangan berada saja yang memiliki sumur. Ibu Supiyan juga bercerita tentang sekolah formal di sana yang sudah tidak digunakan lagi serta Mushola yang sepi jamaah. Sebelum pamit pulang untuk kembali bergabung bersama rombongan, pasangan ini sempat meminta ijin untuk menggunakan sumur dan kakus milik anak perempuannya yang terletak tak jauh dari rumah Ibu Supiyan.

Malam tiba dengan rombongan gemintang yang mencerahkan gulita. Perasaan tergiring teduh, nyaman, rileks menatap indahnya malam diiringi lagu-lagu dari playlistnya Sufi. Malam itu semarak karena diisi dengan sesi keakraban dan acara tukar kado. Malam itu makin menginspirasi keinginan untuk berperan di masyarakat setelah mendengar cerita dari Sesil dan Dika tentang pergerakan mereka mengajar di Pulau Tegal. Alhamdulillah, Tuhan mempertemukan kami dengan orang-orang hebat yang menambah kuat keinginan untuk bermanfaat. Alhamdulillah..

Malam semakin larut, besok kita akan menjemput mentari pagi, jadi..selamat beristirahat!.

Senin, 31 Maret 2014

Kami bangunn jam 05.00 dan bersegera untuk menunaikan shalat shubuh. Jarak dari rumah yang kami tempati ke mushala cukup jauh. Ya, memang di pulau Tegal ini belum banyak fasilitas-fasilitas umum. Jangankan mushola, fasilitas sanitasi pun jarang ada. Konon, di pulau Tegal ini hanya orang-orang yang sudah kaya yang mempunyai sumur dan televise. Televisi pun hanya televise saja yang dimanfaatkan layarnya untuk menonton VCD yang sebelumnya mereka beli di kota. VCD yang sama yang bias mereka putar berulang-ulang. Kami membayangkan hidup mereka damai, jauh dari infotainment yang tidak memusingkan, jauh dari tayangan sinetron yang tidak mendidik tapi juga jauh dari hiburan-hiburan.

Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh untuk shalat, kami pun kembali ke rumahdan panitia mengajak kami untuk berjalan-jalan menyusuri pantai. Memang kami belum beruntung melihat matahari terbit, tapi kami mendapat keberuntungan lain saat melihat pantai yang indah dengan biru yang jernih dan pasir putih. Badan rasanya tidak sabar untuk cepat berenang, walaupun ada beberapa dari kami yang tidak berenang. Hehehe.. Perjalanan menyusuri pantai lebih seru lagi saat Sufi mengajak kami berjalan menuju Batu Putih. Disana pemandangannya lebih indah lagi, pantai luas sejauh mata memandang. Setiba di Batu Putih, kami bergantian menggunakan pelampung untuk snorkeling. Situasi bawah laut tampak damai. Ada bintang laut biru yang sendirian di antara timbunan karang warna warni. Ubur-ubur merah yang bergerak lincah. Ombak yang mengayun-ayun badan kami diantara massa air. Di depan kami adalah barisan pepohonan, di sekitar kami adalah pegunungan dan lautan biru yang membentang luas. Kami merasa kecil, hanya bagian kecil dari penciptaan yang maha dahsyat. Subhanallah..kami bersyukur mendapat moment ini untuk menikmati ciptaan Tuhan dan mentadaburi keadaan kami. Alhamdulilah..

Berenang, snorkeling dan menyusuri pantai ternyata cukup melelahkan. Kami kembali ke rumah dan bersiap untuk membersihkan diri. Isna, Elva, Ayu dan Erni pergi bersama mencari sumur yang bias ditumpangii mandi. Tiba di satu sumur, kami diizinkan mandi tapi tuan rumah marah-marah karena katanya ada yang BAB tapi tidak dibersihkan. Lalu beberapa menit kemudian Teh Sifat dating dan tuan rumah kembali marah. Tuan rumah menuduh The Sifat yang melakukan itu karena cirri-cirinya memang mempunyai suara yang besar. Akhirnya kami harus bergotong royong membersihkan kotoran itu bersama. Ada yang mengambil air, mengeduk pasir dan paling parah adalah memasukkan kotoran itu ke dalam keresek. Parah.. Ini adalah jackpot setelah sekian lama bertualang. Blind jackpot in this blind travel.. Kami belajar bahwa tanggung jawab adalah sikap yang harus kita bawa kemanapun. Dan saat ini masih terngiang kata-kata tuan rumah, “Orang kota kok tingkahnya dusun”. Mereka meskipun tidak mempunyai toilet tapi melakukan pembuangan dengan cara yang tertib. Menggali dengan botol minuman di hutan dan menutupnya kembali dengan pasir. Mereka sebagai pribumi saja menjaga kebersihan, jadi tidak salah jika mereka marah dengan sangat dahsyat karena kejadian ini. Huhm..ini pelajaran berharga yang dicerna sambil menahan rasa ingin muntah. Tapi meskipun ngenes tapi ya dibawa lucu juga. Hahha..

Pasca bersih-bersih diri, kami kembali ke rumah, shalat dan beristirahat. Kali ini kami menunggu kapal dating. Setelah kapal dating, kami pergi menyeberang dan setibanya disana kami menunggu lagi teman kami di kloter kedua yang belum dijemput. Seperti biasa, masa menunggu adalah masa eror. Jika kemarin-kemarin masa menunggu dipakai untuk bermain game, sekarang kami sudah tak punya daya lagi untuk bermain. Yousmi dan Hamdan beristirahat sedangkan Isna, Edo dan teman-teman lain (The Sifat, Kamil, Desi, Ayu, Erni) mengeluarkan makanan-makanan sisa dan membabat habis semuanya. Hingga akhirnya rombongan kedua pun tiba dan kami bersiap berangkat menuju bakauheuni. Di perjalanan sempat ada beberapa diskusi terkait ongkos, tapi kami terima apapun keputusannya, yang penting bias pulang dan beristirahat. Hahah..

Kami tiba di Bakau dengan menggunakan landrover, membayar tiket kapal laut dan menyeberang. Ada yang di ruangan VIP dan ada yang nahan diri di ruangan aula dengan para biduan-biduan yang menyajikan dangdut koplo. Tiba di Merak, kami terpisah sesuai dengan tujuan kami pulang. Tim kami bertiga pulang ke Bandung, kecuali Edo yang memilih Jakarta sebagai tujuannya. Kami berpisah, badan pegal-pegal dan tenggorokan mulai menunjukkan tanda-tanda kurang sehat. Tapi gejala fisik itu perlahan juga akan hilang, tapi kenangan manis akan terus membekas dan tak pernah hilang.

Terima kasih atas semua inspirasi, keberanian untuk melakukan perjalanan walau terhimpit keterbatasan. Kesungguhan untuk menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain. Canda tawa dan penerimaan layaknya anggota keluarga. Senang bias memutuskan untuk ikut kegiatan ini. Senang bias belajar untuk membelalakkan mata meskipun ini perjalanan buta. Terima kasih.. Terakhir, mohon maaf kalau kelompok kami mempunyai kesalahan yaaa.. Kami bangga sebagai tim yang mandiri, kami senang memiliki fasil tercantik yang bermain fair, tidak banyak ikut campur dalam keputusan tim tapi malah ngomporin dengan berita-berita kelompok lain yang lebih maju hingga akhirnya kami panas dan berusaha lebih baik lagi. Kami bangga dengan panitia yang transparan dan bersahabat. Terima kasih.. Tetap semangat!!!.