Traventurace

20 Desember 2013

07.30 WIB

Tim MaCaN, meeooooong!

Hari ini, gw (Nurmy), Marcel, dan Choki mengikuti FIM Traventurace. Ini merupakanTraventurace perdana yang diadakan oleh FIM. Kami tergabung dalam satu tim, nama tim kami adalah Tim MaCaN, meeoooong!. Ada enam tim yang ikut FIM Traventurace ini, lima tim lainnya yaitu Archipelago, Kuaci, Avatar, Huba-huba, dan Beruang.

Tim MACAN (Marcel & Nurmy)

Nah, sekarang kami lagi mendengarkan rule secara keseluruhan di rumahnya Pa’E dan Bunda, tempat dimana kita memulai perjalanan ini, yang disampaikan oleh Kang @UjangFahmeee selaku Koordinator Acara FIM Traventurace ini dan mba Jetc. Rule yang paling gw ingat adalah kami harus saling berbagi dan menjaga rahasia masing-masing dalam satu tim. Waduh, berat nih buat jaga aib si Choki, tapi tenang chok, gw sama Marcel udah menganggap lo saudara ko.

FIM Traventurace ini juga ada awardnya loh, tau ga sob hadiahnya apa? Empat hari tiga malam keliling Malaysia dan Singapura maaaan. Ajiiiiib. Gw belum pernah nih ke luar negeri, begitu pun Choki sama Marcel. Gw yakin kita bisa dapetin tuh hadiahnya, aaamiiin. Eh, tapi ada juga nih hadiah untuk juara dua, ga kalah serunya, jalan-jalan juga, empat hari tiga malam di Banjarmasin dan sekitarnya. Baru sekarang Traventure hadiahnya juga traventure lagi. Tapi kami sih ga terlalu mikirin itu sob. Kami udah bisa ikut FIM Traventurace aja udah bersyukur banget. Kalau kata Pa’E itu hanya hadiah hiburan aja, hadiah terbesarnya adalah traventurace itu sendiri. Keberhasilan pertama adalah zero accident, hadiah itu keberhasilan kedua, yang penting keep enjoy sob, tapi tetap aja gw, Choki sama Marcel ngebet banget pengen ke Malaysia sama Singapura atau Banjarmasin, hehe.

Kami bertiga sudah bagi-bagi tugas. Ada ketua, PJ Jurnal, dan PJ Dokumentasi. Biasanya kan pemilihan ketua itu di awal, di tim gw beda, karena Choki pengen banget mengabadikan setiap langkah perjalanan lewat foto dan video dan gw juga pengen banget mengabadikan setiap cerita kami lewat goresan tangan jadinya Choki sebagai PJ Dokumentasi dan gw sebagai PJ Jurnal. So, Marcel ga ada pilihan lain, dia sebagai ketua kelompok Tim MaCaN, meeoooong!. Berarti gw udah bertugas nih mulai hari ini. Ahay Jebret.

Sampai tulisan di atas gw bikin, kami belum tau sebenarnya kami mau ngapain, diapain, kemana, bisa makan ga, dan yang paling penting bisa mandi ga? Ada tempat buat kami mandiin si Choki ga? Hehe. Ya sudah, kita ikutin aja alurnya, yang penting semangat, jaga kekompakan, dan nikmati aja.

Sekarang kang Robby lagi ngasih pengarahan terkait pendokumentasian yang baik dan benar. Pesan buat Choki jangan lupa bikin videonya dengan baik dan benar chok. Dengerin tuh harus 16 : 9, harus landscape, jangan 3gp formatnya. Kita bikin video clip yang ajib chok. Rumus terakhir kalau kita ngambil gambar aksi reaksi, bayangin ada garis di tengah, jangan nyebrang (nah yang ini bener-bener ga ngerti gw). Eh, ada lagi nih, PJ Dokumentasi merekam/memoto pada waktu yang senggang, membuat video jurnal dalam format wawancara dan harus sejalan dengan apa yang ditulis oleh PJ Jurnal. Kita harus kompak nih chok, cel. Eiittts, gw juga harus nyatet pengeluaran yang ada di tim gw, 100 ribu untuk masing-masing orang selama enam hari perjalanan.

Udah dulu sob, kita mau berdo’a dulu sebelum dimulai. Semoga diberi kelancaran dan kemudahan.

Angkot 07

20 Desember 2013

16.15 WIB

Hallo MaCaNers, balik lagi nih sama gw. Sekarang gw lagi di angkot 07 jurusan Warung Jamba-Merdeka. Tau dimana? Yap, gw lagi di Bogor bareng dengan Choki dan Marcel tentunya plus kelima tim lainnya. Ternyata Bogor adalah destinasi pertama dari FIM Traventurace.

Setelah dilepas Pa’E tadi pagi di kediamannya, kami diberi amplop oleh panitia yang isinya kertas bertuliskan “Titik 0 km di kota hujan”. Tanpa berpikir panjang kami langsung berpikir (tuing, tuing)’ “wah kita harus ke Bogor”. Langsung aja kami menuju jalan raya. Ternyata timnya Kang Doni, Tim Kuaci, juga berjalan ke arah yang sama. Akhirnya kami memutuskan berangkat bersama.

Gw, Marcel, dan Choki tadinya mau nyari tumpangan gratis ke Bogor, tapi kami ingat kalau ini ibu kota. Akhirnya kami memutuskan naik KRL aja. Nah, di sini muncullah kebingungan, naik apa kita ke stasiunnya? Kami berencana naik KRL dari Stasiun Cawang. Ada beberapa opsi, naik bis 47, naik transjakarta, atau jalan kaki ß yang ini idenya si Choki. Kami coba menunggu bus 47. Lagi nongkrong di pinggir jalan bareng Tim Kuaci, muncullah Tim Archipelago dan Avatar, plus bapak-bapak angkot yang bergantian menghampiri kami menawarkan jasanya. Ada yang menawarkan mobilnya untuk dicarter. Setelah terjadi negosiasi yang cukup alot dengan bapak sopir angkot, diputuskan bahwa……………kami tidak jadi naik angkot. Nunggu bis 47 pun lama, tak kunjung datang. Kami memutuskan untuk naik bis transjakarta aja kalau begitu. Eh, pas udah naik ke jembatan shelter, berdatanganlah itu bis. Memang seharusnya kami harus sedikit bersabar menunggu bisa 47-nya. Kami pun harus menunggu lagi bis transjakarta yang cukup lama.

Sambil menunggu bis, kami memanfaatkan waktu untuk mencari informasi dimanakah letak titik 0 km itu?. Di sudut shelter kami melihat sosok botak (bukan tuyul) yang sedang memegang hp (kayaknya sih smatpon). Ya karena peraturan FIM Traventurace salah satunya ga boleh pakai smatpon untuk mengetahui informasi apapun terkait dengan clue, kami pun mencoba mendekati sosok botak ini. Choki mulai melakukan jurus bayangannya (PDKT maksudnya) dan tanpa sungkan-sungkan kami meminta tolong untuk melihat di Goo*gle dimanakah letak 0 km Kota Bogor itu,clue bertambah suram, berdasarkan penelusuran smatpon milik osok botak ini (eh, ga ada larangan kan ya pakai smatpon punya orang seingat kami dan kami pun ga memegang sama sekali smatpon-nya), letak 0 km itu dekat dengan Hotel Salak. Ya, ya, ya, bertambah informasi tapi masih suram. Cukuplah informasi itu menjadi bekal kami. Kami pun berkenalan dengan sosok botak ini (haha, kenalannya malah terakhiran), ternyata namanya Andrea Firstarisa Kusumah (pasti anak kedua nih), umurnya delapan belas tahun, lahir di Bogor, 10 Juni 1995 (ok orang Bogor juga ternyata ga tahu letak 0 km), calon orang kaya karena dia botak itu ternyata dia baru masuk menjadi mahasiswa STAN Bea Cukai. Ok, kami pun sungkem, hehe. Nah, yang wajib adalah minta fotonya, kami berjanji akan upload fotonya di twitter dan cc-in ke dia, nih akun twitternya @andreventon. Kami pun bersumpah (eh berjanji) bahwa setiap orang yang menolong kami selama petualangan kami di Traventurace ini akan kami abadikan dalam sebuah foto kenangan dan akan menguploadnya ke twitter lewat akunnya Mr. Choki.

“Chok, cel kayanya ga keburu Jum’atan nih kalau berangkat sekarang”, kata gw yang memang pernah naik kereta ke Bogor dan memakan waktu sekitar satu jam. Ok, singkat cerita kami sampai di stasiun Cawang. Kami pun berpisah dengan tim lain. Kami beli tiket KRL terlebih dahulu dan ketika mau masuk stasiun tiba-tiba terjadi pergolakan dalam hati kami (ceileh). Hari ini Jum’at dan kami laki-laki muslim sejati yang tergabung dalam ISIA (Ikhwan Sholeh Idaman Akhwat), melihat jam dan menunjukkan sudah pukul 11.00 WIB.

“Ya udah kita jama’ aja sama ashar, jadi kita sholat dzuhur aja, kita kan musafir”, kata Choki dengan sok gantengnya.

“Begini kawan-kawan yang insya Alloh dirahmati Alloh, kalau kita masih bisa jum’atan kenapa ga. Islam memang banyak memberikan kemudahan, tapi kalian mau JUARA dengan melanggar kaidah-kaidah agama?”, kata salah seorang ustaz. ß yang ini agak dilebay-lebaykan.

Tapi ini serius, motto kami adalah:

“Lebih baik terlambat, yang penting berkat”

Finally, kami memutuskan Sholat Jum’at terlebih dahulu. Alhamdulillah ada masjid dekat stasiun. Waktu menunjukkan 11.15 WIB, kayanya kami membutuhkan laptop atau komputer untuk mindahin dokumentasi yang udah ada di kamera Marcel ke fd supaya memorinya ga penuh. Yap, kami mesti cari warnet. Alhamdulillah nemu dan ga terlalu jauh dari masjid. Choki ngopi foto-foto dan video ke fd, gw dan Marcel berniat membuat tulisan “TOLONG!” di kertas yang panjang, siapa tahu dibutuhkan sewaktu-waktu terutama untuk mencari tumpangan. Niatnya sih beli kertas dari abangnya, eh malah ditawarin gratis kertas-kertas bekas yang masih bisa kami pakai dan manfaatkan. Alhamdulillah, JUM’AT BERKAH. Kami hanya mengeluarkan uang Rp2.000 untuk penggunaan komputer karena ternyata si Choki juga download ulang theme song Tim Macan.

Kami berterima kasih sama si abang yang punya fotocopyan (warnetnya + fotocopyan + jualan pulsa). Lagi-lagi kita ajak kenalan abangnya di akhir. Namanya abang SULE (tapi bukan Sule OVJ ya), asli Bandung tapi kerja di Jakarta (ya kerjanya buka fotocopyan itu) dan abangnya anti kamera sepertinya, ga kaya si Choki yang banci kamera (eh jaga rahasia ya) karena ga mau difoto ketika kita minta foto.

Kami pun pamit karena sudah waktunya Sholat Jum’at. Seketika itu, si Choki melihat ke mesin pendingin minuman yang terpajang di depan fotocopyan itu, dengan kurang a*arnya Choki berkata “Bang, aduh haus euy, boleh nih minumnya tapi gratis ya”. Mamp*s gw, untung abangnya baik dan Choki pun mengambil satu gelas aq*a dingin dan bikin ngiler gw sama Marcel, kami pun berbagi satu gelas bertiga (cooo cwiiiit).

Ok, kami pun menuju masjid, kekonyolan si Choki pun dimulai lagi. Berhentilah dia di depan tukang pisang cokelat, “piscok”.

“My, my, piscok ngadadahan euy, seribuan”

“Ah nanti Chok, kita juga bakalan dapat makanan nanti dari panitia, sabar, masih hari pertama ini”, kata gw yang sebenarnya gw juga menelan ludah, ngiler melihat piscok berbagai rasa itu.

Lanjutlah langkah kaki kami menuju masjid. Singkat cerita, kami selesai Sholat Jum’at dan jama’ qashar dengan ashar, kami memutuskan langsung menuju stasiun. Si Choki dengan centilnya menggoda gw lagi.

“My, my piscok my”.

Oiya, selain dipercaya sebagai PJ Jurnal, gw juga dipercaya sebagai Bendahara tim ini. Kali ini gw ga mempedulikan si Choki.

Sampailah kami di stasiun, menunggu beberapa menit kereta tujuan Bogor pun tiba. Sesampainya di Bogor kami mencoba memastikan lagi dimana letak titik 0 km itu. Kami bertanya ke Bapak Satpam, malah disuruh tanya ke bagian informasi, di bagian informasi gw dicuekin. Akhirnya gw bertanya ke Bapak Brimob yang kebetulan sedang bertugas di stasiun.

“Oh naik 03 mas, itu di tugu kujang”, kata Bapaknya.

Ok, kami sangat percaya jawaban bapak ini. Secara bapak ini brimob pasti tahulah. Naiklah kami angkot 03, untuk memastikan lagi kami bertanya ulang ke Bapak Sopir, beliau ga tahu. Tanya seangkot juga ga ada yang tahu dimana 0 km itu. Ya, kami tetap pertahankan informasi dari Bapak Brimob itu.

Wah Kang Fahmee udah nelponin terus nih,

“Dimana, dimana, dimana?… (Ayu Ting-Ting)”, Tanya Kang Fahmee.

“Di angkot kang menuju lokasi”, jawab Marcel.

Oiya kami ingat informasi dari sosok botak di awal kalau 0 km itu dekat Hotel Salak. Kami bertanya sama mba-mba di angkot.

“Wah mas, tadi sudah kelewatan tuh”.

Waduuuuh, kelewatan?

Ok, tenang, tenang. Kami tetap berniat turun Tugu Kujang. Turunlah kami di sana. Wah ada Bapak Polantas nih, pasti tahu dimana 0 km, bener ga di tugu kujang.

“Wah mas, kurang tahu coba aja tanya di Balai Kota, di sana pusat informasi. Nah, nah tuh ada Satpol PP, tanya aja ke bapaknya”, jawab Bapak Polantas.

Aduh pak, ko gak tahu? Bukannya Bapak Polantas ya?

Ok kami tanya ke Bapak Satpol PP, beliau pun ga tahu dimana itu letak titik 0 km. Kami pun menunjukkan foto kedatangan tim Huba-huba yang ada di grup WA Peserta FIM Traventurace.

“Oh ini balai kota ini”. Alhamdulillah Bapaknya tahu dan kalian tahu Balai Kota dimana? Sudaaaaah kelewataaaan sama kita tadi. Harus balik lagi nih.

Ya, ya setidaknya kami dapat memetik hikmah dari sini, dari mulai Bapak Brimob, Bapak Polantas, Bapak Sopir, penumpang angkot, bahwa “Don’t judge book by the cover”.

Sudah dulu ya, angkotnya sudah sampai nih di destinasi selanjutnya di Bogor. Nanti gw lanjut lagi ya menceritakan pengalaman-pengalaman seru dari gw, Marcel, dan Choki hanya di FIM Traventurace.

Pondok Bambu

20 Desember 2013

21.45 WIB

Tim MaCaN di Pondok Bambu

Yeeaaaay, akhirnya makan lagi. Sekarang gw dan tim lagi ada di pondok bambu, tempat makan dekat kampus IPB Darmaga, candel light dinner gitu sama teman-teman panitia regional Bogor. Alhamdulillah akhirnya gw ke kota, menemukan air segar yang menghilangkan haus dahaga gw seketika.

Di sini kang Ario bilang kalau kita (semua tim) ternyata molor dua jam dari agenda, Harusnya kita sudah makan dari pukul 20.00 WIB tadi. Semoga bukan karena tim gw, hehe.

Ok sob, sekarang sembari menunggu yang lain selesai bersantap malam, karena gw sudah selesai dari tadi, gw mau cerita lagi ah, ngelanjutin cerita gw yang tadi. Kita flashback ya. Sebelumnya maaf nih kalau alur cerita gw ngaco, ke belakang, tiba-tiba ke depan, ke kanan, ke kiri, hehe.

Sampai mana tadi gw ya? Oia, sampai nyadar kalau kami nyasar, bukan nyasar sih tapi kami terlalu percaya sang Bapak Brimob. Akhirnya kami putar balik lagi menuju Balai Kota Bogor dengan angkot 03. Ya, dan di angkot pun kami diteror lagi dengan lagunya Ayu Ting-Ting oleh Kang Fahmee, dimana, dimana, dimana…

“Iya kang, kami lagi menuju lokasi, tadi ke tugu kujang dulu”, jawab Marcel.

Telepon lagi dan lagi. Akhirnya kami disuruh langsung menuju point yang kedua yaitu Museum PETA. Kami turun di pertigaan, apa ya namanya, pertigaan pecis? Panin? entahlah lupa. Dari situ kami harus berjalan sekiitar 300 meter untuk sampai di Museum PETA. Yeay, yuk lari Chok, Cel, dan Choki pun ga bisa diajak lari. Jadinya jalan cepat aja.

Sesampainya di museum PETA, otomatis kami adalah tim ke enam yang sampai, paling bontot brooo, dan kami pun ‘menyekip’ pos titik 0 km, huaaaa. Seharusnya mungkin di awal kami diberikan batasan waktu sampai pukul berapa maksimal harus tiba di titik 0 km itu, sayangnya ga.

Di Museum PETA kami diberikan materi terkait Sejarah Tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang merupakan cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang disampaikan oleh Bapak Suroso. Alhamdulillah wawasan gw secara pribadi bertambah (ga tau ya kalau Choki sama Marcel dengerin atau ga, hehe) terkait salah satu bagian sejarah bangsa ini. Satu hal yang paling gw inget adalah ucapan Pak Sudirman ketika waktu sakit dan disuruh berobat ke rumah sakit oleh Pak Soekarno, beliau bilang

“Yang sakit adalah Sudirman, bukan Panglima Besar”.

Kami belajar keteladanan dari Panglima Besar Jenderal Sudirman. Informasi-informasi penting lainnya yang disampaikan sebisanya gw catat. Kami diajak keliling Museum untuk melihat diorama-diorama terkait Sejarah PETA. Setelah selesai, kami diajak bermain game sedikit oleh panitia regional Bogor, yaitu menjawab beberapa pertanyaan terkait dengan materi yang disampaikan sebagai penilaian apakah kami memerhatikan dengan seksama atau tidak.

Nah dari Museum PETA, kami diajak ke Rumah Perlindungan Tresna Werdha. Alhamdulillah teman-teman panitia menyediakan kendaraan menuju lokasi, yaitu angkot 07 jurusan Warung Jamba-Merdeka untuk menuju lokasi. Awalnya kami sebenarnya ga tahu mau dibawa kemana. Iseng-iseng nanya Bapak Sopirnya, katanya kita mau ke empang. Empang? Wah, mau basah-basahan nangkap lele nih kita, itu pikiran yang terlintas di otak gw, tapi ternyata empang itu nama daerah. Rumah Perlindungan Tresna Werdha terletak di Jalan R. Aria Suriawinata RT/RW 04/05, Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Sesampainya di lokasi, kami menebak-nebak tempat apa ini? Teman-teman tahu temat apa ini? Ternyata Rumah Perlindungan Tresna Werdha ini semacam Panti Jompo (Tresna: Cinta, Werdha: Orang Tua), tempat berkumpulnya omah-omah yang imut-imut. Opah juga ada tapi hanya ada tiga opah di sini. Ada sekitar lima puluh omah di Rumah Perlindungan Tresna Werdha.

Wah lucu-lucu omahnya. Gw senang sekali bisa bertemu dengan mereka. Begitu pun Marcel dan Choki. Gw udah ga punya nenek. Jadi pas lihat omah-omah ini gw jadi inget nenek gw.

Tujuan kami berkunjung ke Rumah Perlindungan ini adalah untuk menghibur dan berbagi suka, canda dan tawa dengan mereka. Seperti biasanya, Choki selalu beraksi, dimana bumi dipijak di situ Choki ngelawak. Alhamdulillah omah-omah ini terhibur. Luar biasa meskipun sudah berumur, omah-omah ini tetap semangat, masih ceria dengan bernyanyi, ada yang jago pantun malah, dan mereka pun punya Salam Omah.

Dari mereka gw belajar bahwa kami sebagai pemuda jangan sampai kehilangan semangat, terus berjuang menggapai cita, dan jangan pantang menyerah. Jangan sampai kalah dengan omah-omah.

Para peserta FIM Traventurace (termasuk Tim MaCaN) diminta untuk memberikan sesuatu yang berkesan untuk omah-omah, terserah apapun itu dan dalam bentuk apapun itu. Tim MaCaN pun mempersembahkan “Salam Omah” yang telah diaransemen ulang ala MaCaN.

“Om…omah, om, om, omah, Sehat”

“Om…omah, om, om, omah, Kuat”

“Om…omah, om, om, omah, Iyeeeeeh”

Diulang beberapa kali sampai diberhentikan panitia. Selain itu, kami pun memberikan sebuah pin kecil berbentuk angklung secara simbolis kepada salah satu omah sebagai perwakilan. Kami tidak bisa memberikan sesuatu yang mahal harganya, tapi kami yakin omah-omah ini merasakan kalau kami sedang berbagi cinta kasih dengan mereka.

Omah-omah yang ada di Rumah Perlindungan ini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, ada yang asli Bogor, ada yang dari Jember, ada yang dari Aceh bahkan dari Sulawesi. Banyak cerita yang mengharukan dari omah-omah ini dan kami bisa memetik beberapa hikmah dari cerita-cerita tersebut.

Kami masih sangat ingin bercengkrama dengan omah-omah ini tetapi waktu menjadi batasan. Kami pun pamit dan sungkeman kepada semua omah. MasyaAlloh, banyak do’a yang terucap dari omah-omah ini untuk kami dan berkali-kali mengucapkan terima kasih atas kedatangan kami ke sana. Kami yang seharusnya berterimakasih omah. Terima kasih karena telah memberikan kami kesempatan untuk berbagi cinta kasih dengan omah.

Ok, waktunya berangkat ke poin selanjutnya. Kami diberikan clue kemana kami harus pergi selanjutnya.

Kami Tunggu Anda Di Depan Piramida Milik Kampus Pertanian Terbesar Di Indonesia

Kami langsung tahu kalau kami harus menuju Institut Pertanian Bgor (IPB), tapi kampus IPB yang mana? Ada tiga kampus, Darmaga, Baranangsiang, atau kampus D3? Piramida yang dimaksud itu apa? Gw baru inget, gw pernah ke IPB untuk lomba Statistika di gedung Andi Hakim Nasution, bentuk gedungnya seperti piramida. Gw yakin lokasi yang dimaksud adalah lapangan di depan gedung Andi Hakim Nasution IPB Darmaga. Kami lagi-lagi berangkat paling bontot. Ternyata keterlambatan kami di awal mengakibatkan kerugian bagi kami dalam urutan berangkat di race-race berikutnya. Tetap enjoy aja.

Kami pun menuju jalan raya. Kami berencana untuk mencari tumpangan, di pinggir jalan kami membentangkan kertas bertuliskan “TOLONG!” yang sudah kami buat di waktu pagi tadi. Lima menit berlalu belum ada satu pun mobil yang berhenti mau menolong kami, kecuali mobil angkot yang memang menawarkan jasanya. Selagi kami berteriak-teriak meminta tolong, tiba-tiba datang sesosok pemuda menghampiri kami.

“Mau kemana mas?” tanya pemuda itu.

“Mau ke IPB Darmaga mas”, jawab Choki.

“Kenapa ga naik angkot mas?” tanya pemuda itu lagi.

“Ini kami lagi cari tumpangan mas supaya dapat gratis karena kami minim anggaran”, jawab Choki lagi.

“Oh ini mas ada sedikit dari ibu saya”, kata pemuda itu sambil menyodorkan tangan kepada Choki.

“Oh ga usah mas, ga usah”, kata Choki sambil menyambar tangan pemuda itu dan mengambil apa yang mau dikasi oleh pemuda itu. Chok, chok bener-bener deh.

“Terima kasih mas, terima kasih”, lanjut Choki.

Pas kita lihat apa yang diberi, percaya ga percaya sob, kami diberi uang, mau tahu berapa? 50 ribuuuuu….!!!

Alhamdulillah JUM’AT BERKAH, ada pemasukan buat kami. Sebenarnya kami ga enak menerima pemberian uang itu tapi mau bagaimana lagi kami butuh, kalau ga diambil sayang.

“Sama-sama, itu dari ibu saya mas, yang lagi beli ayam goreng”, jawab pemuda itu. Kami serempak mengucapkan terima kasih kembali. Belum sempat menanyakan nama, mereka sudah pergi naik motor. Alhamdulillah ya Alloh, ternyata masih banyak orang-orang baik di muka bumi ini, satu hari ini kami sudah ditolong oleh banyak orang.

Tapi tetap aja, emang mental gratisan, meskipun sudah dapat uang 50 ribu, kami tetap berusaha mencari tumpangan sampai dibantu preman setempat. Ga dapat-dapat juga, akhirnya kami memutuskan naik angkot saja kalau begitu, hehe.

TOLOOOOONG!!!

Gw kurang ingat waktu itu pukul berapa. Akhirnya kami naik angkot 15 tujuan Laladon, karena menuju IPB Darmaga kami harus ke Laladon dulu lalu di Laladon naik angkot Kampus Dalam. Seperti biasa, di angkot kami ‘ngerusuh’. Kami dapat kenalan lagi, dua orang. Yang satu mas-mas yang ternyata alumni IPB seangkatan dengan Kang Ario dan sekarang sedang mengambil kuliah S2 di ITB. Kami pun mendo’akan semoga akang “X” ini (kami lupa namanya) dimudahkan tesisnya. Yang kedua adalah Ibu Meli (085691418494) yang ternyata adalah pegawai IPB di bagian kepegawaian. Kami cerita kalau kami sedang ikut lomba Traventurace keliling Jawa selama enam hari dan hanya boeh menggunakan uang 100 ribu per orang, tentunya dengan penuh ‘kesedihan’ ceritanya. Mungkin ibunya iba melihat muka si Choki sehingga kami diongkosin angkotnya. Alhamdulillah, lagi-lagi JUM’AT BERKAH.

Udah dulu sob, kami mau berangkat lagi nih. Nanti disambung lagi ya, masih banyak pengalaman seru akan gw share ke kalian. Stay tune aja ya.

Kantor Navigatour

20 Desember 2013

Sekitar Pukul 23.00 WIB

Hallo bro, sekarang terjawab sudah rasa penasaran gw, dimana kami menginap. Ternyata penginapan kami disediakan oleh SPONSOR TERBESAR acara FIM Traventurace ini (eh bukan, sponsor terbesar tim kami maksudnya, kenapa? nnti gw certain ya), yaitu NAVIGATOUR, give applause for Navigatour. Rasakan ngetrip seru dengan konsep enTOURtrainment bareng Navigatour Travel Services. Haha ko jadi promosi, tapi hatur nuhun Kang Fahmeee, kami ga tau gimana nasib kami tanpa Kang Fahmeee, semoga Kang Fahmeee panjang umur, dimudahkan rezekinya, Navigatournya berkah. Aamiin. Bisa dong kami ke Malaysia dan Singapura, haha (peres). Alhamdulillah Choki bisa bobo.

Eh, gw lanjutkan lagi cerita yang tadi dulu ya, yang diangkot. Nah, kami turun di Laladon dan langsung naik angkot kampus dalam. Eeeeh ternyata angkotnya ga lewat gerbang depan (FYI Gedung Andi Hakim Nasution berada di kampus bagian depan), angkotnya lewat belakang kampus. Aduh, kami ga tau jalan bagaimana nih, nyasar lagi, nyasar lagi. Alhamdulillah, untung ada Mas Agustinus Hadi Prasetyo, mahasiswa IPB tingkat II, no HP-nya 085714141060, twitternya @potterprasetyo, FB: Agustinus Potter, wah penggemar Band The Potter nih kayanya kalau kata si Choki, hehe. Bukan Chok, dia penggemar Harry Potter, dasar choko-choki, mikirnya semena-mena. Kami diantar sampai depan Gedung Andi Hakim Nasution yang menjadi check point terakhir hari ini. Yeaaaaaaah. Kami tiba urutan ketiga loh, berhasil nyalip tiga tim, uh yeah. Nah, dari Gedung AHN ini kami dibawa ke suatu tempat, yaitu Pondok Bambu untuk makan malam, setelah itu dibawa ke kantor Navigatour untuk istirahat. Menyenangkan sekali hari ini.

Sekarang gw mau cerita kenapa Navigatour menjadi SPONSOR TERBESAR tim kami. Ternyata waktu di Pondok Bambu, si Marcel menghilangkan Name Tag yang menjadi identitas masing-masing tim. Marcel, marcel, ada-ada saja kamu nak. Rencananya kami mau print ulang itu name tag. Marcel minta soft file-nya ke Mba Jetc, tapi ga dikasih. Akhirnya, ya sudah kita buat aja cel, pikir gw. Kami butuh kertas dan tali, nah di NAVIGATOUR tersedia semuanya, hehe. Dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada Kang Fahmeee, kami pun bisa memakai kertas, tali rapia, dan spidol untuk membuat name tag baru semirip mungkin dengan name tag asli yang hilang. Yah, lumayan miriplah hasilnya. Nah itu sebabnya kenapa NAVIGATOUR bisa menjadi sponsor terbesar kami, hehe.

Sekarang gw mau istirahat dulu ya, Choki sama Marcel juga sudah tertidur pulas nampaknya. Hari esok pasti lebih menantang lagi. Terima kasih kepada FIM Hore sebagai panitia FIM Traventurace regional Bogor untuk hari pertama ini. Judul hari ini adalah JUM’AT BERKAH.

“Lebih baik terlambat, yang penting berkat”.

21 Desember 2013

07.00 WIB

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillah, Tim MaCaN bisa mengikuti Traventurace hari kedua dengan penuh semangat dan masih dalam keadaan sehat. Hari kedua diawali dari tempat kami menginap, yaitu ‘Hotel’ Navigatour. Setelah sarapan, sekitar pukul 08.00 WIB, kami dikumpulkan oleh Kang Ario di halaman Navigatour. Kang Ario menginformasikan kalau kami akan dibawa menuju suatu tempat dan kemungkinan perjalanannya jauh, jadi silakan kalau mau ke toilet dulu ya ke toilet dulu.

Gw, Marcel, dan Choki sudah menebak-nebak mau kemanakah kita, wah kayaknya kami mau ke kota pempek nih, Bandung. Masih kabur waktu itu tebakan kami. Kami diharuskan ditutup matanya untuk menempuh perjalanan ini. Dari mulai masuk kendaraannya kami sudah ditutup matanya. Wah ini FIM Traventurace atau FIM Trafficking? sampai-sampai ditutup mata segala, hehe. Di mobil, gw duduk paling belakang kayanya, di tengah-tengah antara Bintang dan Yudi. Choki di depan bagian kiri gw. Marcel terpisah dari kami berdua, dia di mobil yang satunya sepertinya. Sebelah kanan Choki ada Teh Putri, sebelah kirinya si muka datar (kaca). Berdasarkan penerawangan Choki, kami naik travel ‘Geulis’, berarti benar kami ke Bandung nih. Kita lihat saja nanti, nikmati aja dulu perjalanannya dengan mata tertutup. Integritas kami diuji di sini.

Gw dan Choki tertidur pulas di perjalanan. Alhamdulillah. Kami terbangun sekitar pukul berapa ya, ga ada yang tahu karena ga ada yang bisa lihat jam, mobil masih berjalan, tapi sepertinya macet, berarti kami sudah keluar tol dan sampai di Bandung (eh benar Bandung bukan ya). Mobil akhirnya berhenti dan kami diminta keluar dari mobil satu persatu dengan mata masih tertutup. Bandung bukan ya?

Terdengar suara si jul disamar-samarkan, tapi gw dan Choki kenal betul kalau itu si jul. Semakin yakin kalau kami di Bandung tapi Bandung sebelah mananya? Kami digiring menuju suatu tempat. Suasana sekitar ramai sekali sepertinya.

“Hati-hati ada lubang”, teriak seorang Ibu.

“Terima kasih Bu, Bu kita lagi dimana ya?”, tanya gw.

“Tegal lega”, teriak Ibu itu.

Yes, kami di Bandung. Tegal lega brooo. Tapi kami pura-pura ga tahu, hehe. Kami dibariskan dan akhirnya disuruh buka penutup matanya. Ternyata benar, sekarang kami berdiri di depan Monumen Bandung Lautan Api. Kalian tahu bagaimana rasanya ditutup matanya selama tiga jam lebih? Pas buka mata rasanya mata ini penuh dengan belek, susah banget lihat sekitar. Pupil mata harus kembali menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke mata.

Kami disambut oleh panitia FIM Traventurace regional Bandung dari FIM KECE.SELAMAT DATANG DI BANDUUUUUNG. Tidak perlu basa-basi lagi, kami langsung diberi clue untuk menuju lokasi chalange, dimana clue-nya:

Temukan Aku, aku sebuah lokasi. Temukan Aku, aku sesuatu yang sering dilupakan orang-orang jaman sekarang. Temukan Aku, karena aku menyimpan ‘harta karun’ dari tanah yang sedang kau injak. Temukan Aku, jika kau ingin mengmbil ‘harta karun’ tanah ini. Temukan Aku jika kau ingin membantu orang lain mengetahui ‘harta karun’ tanah ini. Jangan Temukan Aku, jika kau tidak cukup berani, pulanglah ke tanah kalian! Temukan Aku.

Panjang amat clue-nya ya. Hasil analisis kami menyebutkan bahwa lokasi yang dimaksud adalah sebuah museum. Tanpa berpikir panjang kami bertiga langsung punya jawaban yang sama, MUSEUM SRI BADUGA. Lokasinya sangat dekat, depan Tegal lega. Kami langsung mencari gerbang keluar yang dibuka. Alhamdulillah langsung depan Museum Sri Baduga, geser sedikit.

Kami sampai di depan museum tapi ga terlihat ada panitia di sana. Wah, jangan-jangan kami salah lokasi nih. Kami mengecek sekeliling museum dan bertanya ke Pak Satpam. Ga ada juga. Ternyata panitia sembunyi di dalam dan akhirnya menampakkan dirinya. Ada kang ihsan dan hisan di sana. Kami tim pertama yang tiba di museum. Horreeee.

Kami langsung diberi tugas untuk mencatat sebanyak-banyaknya nama benda yang ada di museum dan diberi waktu selama sepuluh menit. Yuk, kami langsung bagi tugas mencatat. Sepuluh menit berlalu dan kami menghadap lagi Kang Ihsan. Kami diminta untuk memperagakan aktivitas Pandemas dan harus mirip dengan yang ada di dalam museum. Alhamdulillah Choki ingat. Kemudian kami diminta untuk menuliskan uang Belanda yang bernilai 25. Kami diberi waktu lagi selama tiga menit untuk masuk ke dalam museum. Kami kira ditulis di kertas milik kami, ternyata ditulis di kertas panitia. Alhamdulillah Marcel ingat. MaCaN saling melengkapi. Kami langsung mendapatkan clue kedua dan tiga bungkus nasi padang untuk makan siang. Clue-nya yaitu:

Aku merupakan sebuah tempat yang merupakan perpaduan dua budaya yang cukup bertolak belakang sebenarnya, satu budaya berasal dari tengah dunia dan satu lagi berasal dari timur yang berada di tanah paling luas di dunia, itu lah aku. Namun, aku pasti selalu dikunjungi minimal satu kali oleh orang-orang sekitar pada hari terakhir weekday dan aku saudaranya Lautze! Carilah aku.

Oke, untuk clue yang satu ini kesotoyan tim MaCaN terlihat jelas. Tanpa mencermati clue dengan baik, kami langsung menuju suatu tempat di pusat Kota Bandung yaitu Museum Asia Afrika.

Analisis kami:

Asia >< Afrika : Budayanya bertolak belakang Asia : Timur dunia dan merupakan tanah paling luas di dunia Afrika : Tengah dunia Kami menggunakan angkot Tegal lega-Kalapa. Dari Kalapa kami naik angkot Kalapa-Sukajadi, turun di dekat Menara BRI dan langsung berlari ke Museum KAA. Ternyata lokasi yang dimaksud BUKAN di situ. Ga ada siapa-siapa di sana. Kami mengelilingi Museum KAA, ga ada siapa-siapa. Sampai ditegur Satpam karena si Choki nyelonong masuk museum, padahal museumnya belum buka, hehe. Kami analisis lagi clue-nya. Kami melihat waktu menunjukkan sekitar pukul 12.00 WIB. Sepertinya ini berhubungan dengan masjid karena sudah masuk waktu zuhur. Masjid yang mempunyai arsitektur China. Analisis kami: Timur tengah >< China : Budayanya bertolak belakang

Timur Tengah : Tengah Dunia

China : Timur dunia dan merupakantanah paling luas di dunia

Masjid : Minimal satu kali dikunjungi oleh orang-orang sekitar pada hari

terakhir weekday (Jum’at)

Masjid Lautze 2 berarti, karena clue mengatakan bahwa ‘aku saudaranya Lautze’. Yang kami tahu Masjid Lautze berada di Jakarta. Kami langsung menuju Masjid Lautze 2 yang letaknya sekitar satu kilometer dari Museum KAA. Kami berjalan kaki ke sana. Ternyata ga ada orang juga. Ketika kami sedang kebingungan, Kang Fahmeee tiba-tiba menelpon dan bilang kalau itu bukan lokasi yang dimaksud, mati kita.

Assalamu’alaykum Wr. Wb

Akhirnya kami tanya ke Bapak Marbot Masjid Lautze 2 apakah ada masjid yang arsitekturnya sama dengan Masjid Lautze 2. Katanya ada di dekat Matahari, Masjid Imtijaz namanya. Kami pun menelpon Kang Fahmeee untuk konfirmasi dan beliau bilang bukan, hampir benar katanya. Heeem. Meskipun begitu, kami langsung menuju Masjid Imtijaz. Jaraknya sekitar dua kilometer dari Masjid Lautze 2. Kami berjalan dan berlari. Ternyata BENAR kalau masjid yang dimaksud adalah Masjid Imtijaz, di sana sudah ada Teh Ufi, menyusul ada Teh Sifat dan Kang Yuli. Kami menjadi tim pertama lagi yang tiba di lokasi kedua.

Di Masjid Imtijaz kami diberi waktu sampai pukul 13.40 WIB untuk sholat, makan dan istirahat sambil menunggu tim lain datang. Setelah itu, kami dikumpulkan oleh Teh Sifat untuk mendapatkan clue selanjutnya. Kami menjadi tim pertama yang mendapatkan clue. Kami harus mendapatkan lima clue baru dapat menerima challenge selanjutnya.

Setiap tim mendapatkan clue yang berbeda-beda. Tim Avatar, Huba-huba, dan Beruang tidak sempat makan, istirahat, dan sholat karena mereka baru datang dan memilih melanjutkan race. Clue pertama yang kami dapat:

Aku merupakan satu dari dua bangunan kokoh tertua di Bandung. Bentukku yang besar mampu menampung banyak orang, aku dimiliki para pemilik perkebunan loh, dan aku terletak di Jalan Tamblong, Siapakah Aku?

Sumpahnya, ini clue paling membingungkan dan ambigu. Kami menganalisisnya dan analisis kami sebagai orang Bandung sebagai berikut:

Dua bangunan kokoh tertua di Bandung adalah Savoy Homan dan Grand Preanger. Yang berada di Jalan Tamblong adalah Grand Preanger, berarti bangunan yang dimaksud adalah Grand Preanger. Kami semakin yakin karena Grand Preanger adalah hotel yang pasti mampu menampung banyak orang. Tapi apa Grand Preanger dimiliki oleh para pemilik perkebunan? Tanpa pikir panjang kami langsung saja berlari ke arah Jalan Tamblong. Di depan Grand Preanger ga nampak satu pun panitia. Kami sampai masuk ke halaman dan parkiran hotel, ga ada juga.

Kami berpikir keras, gw ingat kata-kata Teh Sifat dia bilang bisa saja di tengah-tengah atau pinggrian-pinggiran. Ternyata itu letak clue selanjutnya. Gw, Marcel, dan Choki menyebar menyusuri Grand Preanger bagian luar. Akhirnya gw mendapatkan clue selanjutnya di sela-sela tanaman. Belakangan kami tahu bahwa Grand Preanger memang dimiliki oleh para pemilik perkebunan. Alhamdulillah kami sudah mendapatkan clue selanjutnya, yaitu:

Aku adalah penyebar informasi merdekanya Negara pertama kali, aku terletak di jalan yang penuh dengan kesakasian peradaban presiden pertama kali, aku berada di dekat penyimpanan uang Negara Indonesia. Aku adalah….

Oke, oke, dengan kesotoyan kami, inilah analisis pertama Tim MaCaN untuk clue ini:

Penyebar informasi merdekanya negeri pertama kali: Pikiran Rakyat

Jalan yang penuh dengan kesaksian peradaban presiden pertama kali: Jalan Asia Afrika

Dekat tempat penyimpanan uang Negara: BNI

Nah, kebetulan sekali di Jalan Asia Afrika ada Kantor Pikiran Rakyat, tapi tidak tampak adanya BNI, yang ada adalah ATM CIMB Niaga di depan kantornya. Kami pikir mungkin tempat penyimpanan uang Negara itu adalah ATM. Dengan begonya, selama sepuluh menit kami bertiga ‘ngubek-ngubek’ halaman Pikiran Rakyat sampai tempat sampahnya, masuk ATM juga ‘NGUBEK-NGUBEK’ TEMPAT SAMPAHNYA. Gak ada broo.

Di tengah kebuntuan ini, Alhamdulillah Tim MaCaN punya orang sebrilian Marcel, dia langsung teriak ANTARA. Dia berlari secepat kilat dan langsung hilang ditelan bumi. Antara apa? Antara cinta dan dusta? Antara madu dan racun? Kita baru ngeuh setelah Marcel kembali lagi dan memberi tahu bahwa maksudnya adalah kantor ANTARA. Ternyata seharusnya analisis yang benar adalah:

Penyebar informasi merdekanya negeri pertama kali: ANTARA

Jalan yang penuh dengan kesaksian peradaban presiden pertama kali: Jalan Asia Afrika

Dekat tempat penyimpanan uang Negara: BNI

Alhamdulillah Marcel mendapatkan clue yang ketiga. Pintar kamu nak. Nah, clue yang ini agak berbeda dengan clue-clue sebelumnya. Kami diminta memecahkan teka-teki

CFD Dago

22 Desember 2013

09.15 WIB

Assalamu’alaykum Wr. Wb

Hallo mas bro dan mba sis semuanya, gw, Choki, dan Marcel masih di Bandung nih di hari ketiga Traventurace, berarti ini hari kedua di Bandung. Gw menulis ‘diary’ ini di sela-sela istirahat di CFD Dago, di pos yang menyusun kata Traventurace.

Ok, gw mau cerita dari shubuh tadi ya. Tadi shubuh kami (tim gw, Avatar, Kuaci, Huba-huba, dan Archipelago) berangkat dari rumah Teh Dessy sekitar pukul 04.50 WIB dengan menggunakan angkot yang semalam kami carter. Alhamdulillah sampai di Taman Pramuka pukul 05.15 WIB dan ternyata tim Beruang belum datang. Kami akhirnya menunggu Tim Beruang terlebih dahulu untuk mendapatkan clue pertama untuk misi pertama hari ini. Alhamdulillah Tim Beruang akhirnya tiba di lokasi. Karena kemarin kami tiba urutan ketiga di check point, kami pun mendapatkan clue setelah Archipelago dan Huba-huba. Sebelumnya kami adu yel-yel terlebih dahulu. Kelakuannya Choki lagi-lagi ga ada habisnya, terlalu centil beryel-yel, dia terpeleset, kalau mau lihat videonya ada di Kang Ario, hahaha.

Kami berhasil memecahkan clue pertama dan menjadi tim pertama yang berangkat ke lokasi, tentunya dengan analisis yang ngaco. Clue yang kami dapat adalah…..

Hasil analisis kami adalah kami harus menuju tempat yang ada menjual kacang, cokelat, air di hari ini tanggal 22/13 (clue-nya salah sepertinya, di clue 22/12). Kami menebak itu adalah Car Free Day Dago, ternyata salah. Jangan menyerah sampai 21 kali salah menebak. “Tebakan” yang kedua adalah Gasibu. Alhamdulillah benar dan kami langsung mencari kendaraan untuk menuju ke sana. Niatnya sih menumpang tapi ga ada yang mau ditumpangin, entah kenapa, mungkin karena kami bawa Choki. Kami memutuskan untuk naik angkot Panghegar-Dipatiukur. Saking ga mau kelompok lainnya lihat, kami meminta angkotnya belok kiri, yang tadinya jalurnya lurus melalui tempat kami berkumpul tadi di Taman Pramuka. Sesampainya di gasibu kami mencari penjual kacang, kami bagi tugas menyebar ketiga wilayah menyisir gasibu. Kami sudah mengelilingi gasibu tapi sama sekali ga menemukan apa yang dicari karena kami pun ga tau sebenarnya kami mencari apa. HP Marcel pun berbunyi, Kang Fahmeee menelpon katanya cari panitia yang mengibarkan bendera biru. Alhamdulillah kami menemukan Kang R dan Kang Edo di gasibu, tapi keduluan sama Tim Kuaci. Bendera biru yang dimaksud pun baru dibuat ternyata pemirsa.

Di pos chalange Gasibu, kami ditantang untuk sarapan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Barang elekteronik, dompet, dan uang kami disita oleh Teh Sifat. Tenang, kami kan MaCaN, kami kan gokil, hehe. Choki punya ide bagaimana kalau kita ngamen, ngamennya ke Satpol PP lagi. Gila lo Chok, mau kena razia kita. Tapi kami pun ga mempunyai pilihan lain. Kami ngamen pakai yel-yel tim MaCaN.

can…macan, can, can, macan…meong

can…macan, can, can, macan…meong

Yel-yel kami pun dihargai 12 ribu oleh Bapak Satpol PP ( lupa gw namanya). Terima kasih bapak. Kebetulan di dekat tempat kami mengamen ada ibu jualan bubur. Kami pun jujur sama ibunya (belakangan diketahui namanya Ibu Wati), kalau kami perlu makan tapi hanya punya uang 12 ribu. Kami pun mendapat tiga mangkuk bubur seharga 13 ribu/mangkuk dengan harga hanya 4 ribu/mangkuk. Alhamdulillah Bu Wati memang baik. Semoga buburnya semakin laku, cabangnya semakin banyak. Aamiin.

Kami menjadi tim pertama yang menyelesaikan misi ini dan berhak mendapatkan clue menuju lokasi selanjutnya. Tetapi sebelumnya berlangsung percakapan seperti ini.

“Kang R kami selanjutnya kemana nih?”, tanya gw.

” Ada lah, nanti lihat aja clue-nya”, jawab Kang R.

“Gini, kalau menurut ‘urang’ kita selanjutnya ke monumen perjuangan, iyakan Kang R?”, tanya Choki.

Garis muka Kang R sedikit berubah. Kelihatan sekali sepertinya tebakan Choki benar.

Kami pun diberikan clue-nya. Kami harus ke “markas power rangers”. Naaah, benarkan tebakannya Choki. Monumen perjuangan karena bentuknya mirip dengan markasnya Gordon, Alpha, dan Power Rangers, oleh sebagian pemuda Bandung dinamakan “markas power rangers”. Kami tidak mau membuang waktu, dengan langkah cepat kami langsung menuju ke sana. Letaknya tidak terlalu jauh dari Lapangan Gasibu. Di monumen perjuangan sudah menunggu Kang Yuli. Kami harus memutar lewat belakang untuk masuk ke monumen. Di monumen kami dijelaskan sedikit tentang sejarah monumen ini oleh Kang Yuli. Poinnya adalah monumen ini dibangun sebagai penghormatan dan penghargaan untuk para pejuang kemerdekaan dari Jawa Barat.

Monumen perjuangan bukan merupakan lokasi chalange, hanya tempat istirahat aja, karena untuk menuju lokasi chalange selanjutnya terdapat clue lagi. Clue selanjutnya dari Kang Yuli adalah kami harus menuju tempat peresmian pertama kali Car Free Day Dago. Sebagai warga Bandung, jelas kami bertiga tahu. Kami memutuskan naik angkot Kalapa-Dago.

Ikut joget senam dulu ah…

Sesampainya di sana, di tempat peresmian pertama kali Car Free Day Dago yang ada tulisan D A G O, ga ada panitia sama sekali. Di sana yang ada panggung dan kumpulan ibu-ibu yang sedang joget senam. Gw dan Choki ikutan dulu senam sama ibu-ibu, sembari mencari panitia. Eh, ternyata Kang Ihsan muncul dari Dago atas berjalan santai, sepertinya baru datang. Kalah sama peserta nih panitianya.

Hidup Kang Aher!!!

Lagi-lagi ini bukan merupakan lokasi chalange-nya, kami mendapatkan clue lagi. Tapi kami dipersilakan istirahat terlebih dahulu. Ya kami manfaatkan saja unuk berinteraksi dengan para pengunjung CFD Dago. Bertemu dan berfoto dengan Kang Aher. Ada salam dari Kang Aher untuk Pa’ E dan Bunda. Kang Aher pun kami minta untuk mengucapkan Selamat Hari Ibu untuk Bunda. Benar-benar Gubernur yang low profile.

Clue yang kami dapat mengharuskan kami menuju salah satu Bank Usaha, cari di sepanjang jalan Car Free Day Dago. Panitia sepertinya sengaja supaya kami bisa menikmati CFD Dago Bandung. Gw, Choki, dan Marcel barengan sama Tim Kuaci menuju lokasi yang dimaksud. Kami memanfaatkan setiap momen perjalanan dengan berinteraksi dengan berbagai elemen masyarakat di acara CFD ini. Mulai dari menandatangani spanduk Selamat Hari Ibu dari Forum Komunikasi Anak Bandung dan mendapatkan snack gratis, kami menolak padahal tapi dipaksa, ya sudah kami ambil aja snack-nya, hehe.

Ga ketinggalan Choki pun menggoda cewek-cewek Bandung, mojang-mojang Bandung, dari mulai bilang kalau kami sedang ikut lomba keliling indonesia (Jawa Chok, Jawa), sampai minta foto dan twitternya. Ampun dah chok, ga habis pikir gw sama Marcel sama kelakuan lo. Oia, SELAMAT HARI IBU BUAT IBU, MAMA, BUNDA, UMMI, EMAK-NYA NURMY, CHOKI, DAN MARCEL, JUGA BUAT SELURUH DUNIA YANG TELAH MENJADI LILIN PENERANG BAGI ANAK-ANAKNYA.

Yo, akhirnya kami sampai di lokasi yang dimaksud. Di sini sudah menunggu Kang Hisan dan Teh Ina. Chalange pun diberikan, setiap tim harus memilih dua orang yang ditutup matanya dan satu orang sebagai petunjuk. Kami diharuskan mengumpulkan huruf dengan warna yang sama sampai membentuk kata TRAVENTURACE. Tim MaCaN memilih warna pink dengan gw sebagai petunjuk, Choki dan Marcel yang ditutup matanya.

Ternyata warna pink ga lengkap, ada huruf yang ga ada yaitu V, E, N, dan C. Akhirnya diganti dengan warna yang lain untuk huruf yang ga ada. Alhamdulillah chalange terlewati dengan lancar. Hikmah dari chalange ini adalah dalam satu tim kami harus percaya satu sama lain, melangkah seirama satu kata menggapai asa dan cita. Kami pun diberi waktu istirahat lagi. Gw, Choki, dan Marcel memanfaatkan waktu istirahat untuk kembali berinteraksi dengan komunitas-komunitas yang ada di CFD, berbagi cerita dengan mereka. Kami pun memanfaatkan waktu untuk ke toilet, hehe. Gw juga manfaatkan waktu untuk menulis ‘diary’ ini.

Dari lokasi chalange, kami pun mendapatkan clue kembali untuk menuju lokasi selanjutnya.

Dimanakah Pak Ronald bekerja?

Oke, maksudnya adalah McDonald, kami langsung ke sana bareng lima tim yang lainnya.

Dari McDonald kami dijemput angkot yang sudah berisi tas-tas kami di dalamnya. Kami menuju Rumbel Riksa, tempat chalange selanjutnya. Eh, ternyata tempat chalange-nya bukan di rumbel tapi di Asrama Putra Sangkuriang ITB. Karena kami menjadi tim pertama yang tiba di lokasi chalange sebelumnya, kami mendapatkan keuntungan berupa kelebihan waktu selama dua menit untuk chalange selanjutnya.

Sebelum chalange, diadakan game terlebih dahulu. Nama gamenya perang tembak-tembakan kalau ga salah dan kami kalah terus karena si Marcel, hiyaaaaat, greget banget.

Masing-masing tim mengirimkan satu perwakilannya untuk masuk ke arena chalange terlebih dahulu. Katanya chalange ini menguji selera masing-masing tim. Gw udah curiga dari awal, kayaknya ini master chef – master chef-an. Mudah-mudahan ga deh, secara kami laki-laki semuanya. Gw dan Marcel mempercayakannya kepada Choki sebagai perwakilan Tim MaCaN. Tujuh menit berlalu dan dua anggota lainnya dari masing-masing tim dipersilakan memasuki arena chalange.

Ok, kaki gw lemes seketika, ternyata benar dugaan gw, kami harus memasak. “LOMBA MASAK”. Tidaaaaak. Tapi Tim MaCaN bukan tim yang gampang menyerah. Kami yakin pasti bisa. Choki dengan ilmu biologinya, Marcel dengan teknik sipilnya, dan gw dengan statistik, pasti bisa mengolah bahan masakan yang diambil oleh Choki. Sebentar, sebentar, ngomong-ngomong bahan masakan apa saja yang diambil Choki?

Astaghfirullohal’adziiim, CHOKIIIIIII. Kaki gw lemas lagi. Kalian tau ga apa yang diambil Choki? Ayam satu ekor, semua bakso dia ambil, tahu, tempe gede, sosin, ikan, semangka, seledri, bawang merah, bawang putih, cabai, bumbu-bumbu yang lain. Astaghfirulloh, cobaan apa ini.

Tim lain bilang kalau MaCaN curang, baksonya diambil semua, curang apanyaaaaaa? Kalau boleh nih, nih ambil semua baksonya, ambil semua bahan masakan kami kalau mau, biar kami ga masak. Rasanya pengen ambil pisau dan mutilasi si Choki. Mau diolah kaya gimana ini?

Sok-sokan masak

Ya, ya, ya, kami berjuang sekuat tenaga untuk menghasilkan makanan yang layak makan. Perjuangan kami tanpa arti jika tidak dibantu Lala,seorang adik rumbel yang telah membantu kami memasak. Kami harus mempunyai ilmu manajemen supaya lala mau membantu kami memasak. Aa do’akan semoga lala jadi anak sholehah, tercapai semua cita-citanya. Aaamiiin.

Akhirnya kami berhasil membuat empat masakan yang insya Alloh telah bersertifikat halal dari MUI meskipun kehigienisannya kami tidak bisa menjamin. Ini nama masakan-masakan kami:

Ayam goreng goyang tubuh, Tempe tinggal celup, Sayur Sosateb, Semangka Dadu Cinta (The Love of Watermelon Dice) Bandingkan dengan masakan tim lain.

Alhamdulillah chalange pun selesai, pasti bertanya-tanya kan ikan dan seledrinya kemana? Begini, kata panitia kalau ada masakan yang ga dimasak itu harus dimakan mentah-mentah oleh peserta, jadi gw mengambil start duluan, gw makan seledrinya, sebagian bakso, dan tahu mentah, supaya kalau nanti ada ayam atau cabai yang ga dimasak, biar Choki dan Marcel yang makan mentah-mentah. Untuk ikan, Marcel sotoy banget jadi orang, dia ngerebus daging ayam dan ikang barengan, pas diangkat, mungkin karena terlalu lama daging ikannya luntur, yang tersisa hanya kepala dan tulangnya. Clear?ok clear, gw juga ga tau kami ini masak atau ngerendem pakaian sampai bisa luntur gitu.

Gw dan Choki sholat dulu. Pas balik lagi, semua masakan kami sudah lenyap ditelan bumi. Sudah habis ga tersisa bro. Dihujat tapi tetap aja dihabiskan. Kami akui masakan kami tidak higienis tetapi dengan kejadian ini, harus diakui memang masakan kami uuuuueeenaaaak. Setelah sesi penilaian dan makan, kami ada sharing dengan Tante Agustin selaku Ketua Rumbel Riksa itu sendiri.

Waktunya pengumuman siapa yang menjadi juara FIM Master Chef. Juaranya adalah Tim Kuaci, kedua Tim Beruang, Tim MaCaN? Jelas tim terakhir. Yap, nilai masakan kami paling kecil dari enam tim yang ada. Kami tidak peduli itu, yang pentimg kami bahagia dan bisa berbagi kebahagiaan itu dengan adik-adik Rumbel Riksa. Pembelajaran yang didapat adalah Laki juga harus bisa masak bro.

Sekitar pukul 16.00 WIB kami dibawa ke Surapati Core oleh panitia dengan menggunakan angkot. Di Surapati Core kami kembali mendapatkan clue untuk mencapai check point terakhir. Jawaban dari clue itu adalah kami harus ke Terminal Cicaheum. Karena di chalange sebelumnya kami urutan keenam, kami pun mendapatkan clue paling bontot. Niatnya nyari tumpangan, tapi lagi-lagi ga ada yang mau berhenti, kenapa sih, jauh-jauh coba Chok. Akhirnya naik angkot menuju Terminal Cicaheum. Alhamdulillah kami berhasil menyalip tiga tim dan tiba di check point di urutan ketiga. Yeeee, prok, prok, prok. Lalu, pertanyaannya adalah ngapain kami di Terminal Cicaheum? Rasa penasaran gw terjawab ketika gw mendapatkan tiga lembar tiket dari panitia yang harus ditukarkan dengan tiga kaos bersih. Yo, pas gw buka tiketnya, itu merupakan tiket bis Budiman jurusan Yogyakarta.

Uh yeeeaa kami ke Jogja mameeen. Sedih campur bahagia. Sedih karena kami harus meninggalkan Bandung dan berpisah dengan teman-teman FIM KECE. Bahagia karena kami akan ke jogja dan bertemu dengan teman-teman FIM GJ. Terima kasih FIM Traventurace. Terima kasih teman-teman panitia regional Bandung dengan Historical Race-nya. Banyak pelajaran yang kami dapat di Bandung. Terima kasih Bandung. WE LOVE BANDUNG.

24 Desember 2013

16.00 WIB

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillahirrobil’alamin, sekarang gw lagi di Kereta Api Progo menuju Jakarta bareng Marcel, Choki, dan juga teman-teman tim yang lain. Kami berbeda gerbong dengan lima tim yang lain. Sambil menikmati indahnya karunia Alloh di sepanjang jalan, gw mau cerita lagi nih pengalaman seru kami bertiga, tim MaCaN dalam FIM Traventurace edisi Yogyakarta. Mulai dari hari pertama di Yogyakarta ya tanggal 23 Desember 2013 kemarin.

Bus Budiman yang kami naikin sekitar pukul 06.30 WIB sampai di Terminal Giwangan Yogyakarta. Sesampainya di Giwangan, Choki kebakaran jenggot karena tasnya basah dan semua barang di dalamnya pun basah. Ternyata hampir semua tas peserta basah semua. Menurut informasi, semalam kami melewati daerah yang terkena banjir sehingga air masuk ke bagasi. Tetapi hal ini ga menjadi masalah besar bagi tim gw maupun tim yang lain.

Sebelumnya kami mengira akan disambut secara langsung oleh teman-teman FIM GJ, tetapi ternyata kami diberikan clue terlebih dahulu untuk dapat bertemu dengan mereka. Clue disampaikan melalui SMS ke Marcel.

Temukan kami di pintu keluar terminal.

Kami bertiga langsung berlari menuju pintu keluar dengan informasi dari penjaga/petugas terminal. Di pintu keluar belakang ga terlihat tanda-tanda teman-teman FIM GJ. Kami mengitari terminal dan akhirnya sampai di pintu keluar bis di depan. Tim gw disusul oleh Archipelago dan Huba-huba. Belum terlihat juga tanda-tanda panitia. Di saat kami sibuk mencari di sekitar pintu keluar, ternyata tim Archipelago melihat posisi panitia dari FIM GJ di seberang jalan. Akhirnya mereka mencapai lokasi untuk clue pertama ini di urutan kesatu, huba-huba kedua, dan kami ketiga. Di sana sudah menunggu mas azam, mas naul, mba rona, shendy, dan panitia yang lain. Di sini kami disambut secara hangat dan juga diberi clue untuk menuju lokasi berikutnya.

Matur nuwun uang 10 ribunya pak

Kami diberi clue di atas, Aksara Jawa. Ampun, kami sebagai orang sunda saja lupa dan ga tahu Aksara Sunda, ini diberi clue dengan Aksara Jawa. Selain itu kami juga harus sarapan makanan khas Jogja dan sebelum makan, makanannya harus ditwitpic terlebih dahulu. Kami berhasil memecahkan clue ini dengan bantuan bapak-bapak brimob. Kami diharuskan ke Taman Budaya Yogyakarta. Kami pamitan kepada bapak brimob untuk menuju lokasi yang dimaksud clue. Sambil pamitan Choki dengan begitu PD dan konyolnya malah meminta uang untuk ongkos menuju Taman Budaya. Sebenarnya sudah menjadi skenario kami, tapi agak sedikit melenceng karena kesemena-menaannya Choki. Alhamdulillah kami dapat rezeki Rp10.000 dari bapak brimob.

Matur nuwun atas tumpangannya Pak Mudo

Karena kami orang baru di Jogja, kami ga tahu harus naik apa ke Taman Budaya Yogyakarta. Kami berusaha mencari tumpangan. Gw terharu banget akhirnya kami dapat tumpangan untuk pertama kalinya. Kami menumpang mobil colt-nya Pak Mudo walaupun ga sampai Taman Budaya Yogyakarta karena beliau harus pulang ke rumahnya, tapi terima kasih banyak pak atas tumpangannya. Kami pun turun dan berniat mencari tumpangan lagi. Sambil mencari tumpangan kami juga mencari informasi ke warga sekitar kira-kira kalau dari tempat kami sekarang menuju Taman Budaya bisa pakai kendaraan umum yang mana. Tumpangan tak kunjung dapat, alhasil kami naik bis yang trayeknya melintas di depan taman budaya.

Sesampainya di Taman Budaya Yogyakarta yang terletak di Jalan Sri Wedani, kami mencari angkringan terlebih dahulu untuk sarapan. Alhamdulillah dapat dan kami pun membeli nasi kucing tiga bungkus plus dapat gratisan peyek dua (sebenarnya bukan gratisan sih tapi si Choki yang minta). Bapak yang punya angkirangannya namanya Bapak Gundul. Langsung aja nasi kucingnya difoto dan ditwitpic sama Choki.

Kami pun langsung masuk ke taman budaya. Eh, udah ada Tim Avatar aja di sana dan dinobatkan sebagai tim pertama yang tiba di Taman budaya. Padahal mereka belum beli makan dan nge-twitpic. Akhirnya kami berusaha menjelaskan sama Mas Dito sebagai penjaga pos ini dan menunjukkan kertas clue yang diberikan bahwa peserta harus nge-twitpic dulu makanan khas Jogja sebagai menu sarapannya pagi ini. Alhamdulillah keadilan berhasil ditegakkan, kami yang dinobatkan menjadi tim pertama yang tiba di lokasi. Di Taman Budaya Yogyakarta ini secara resmi pesertaFIM Traventurace diterima oleh panitia regional Yogyakarta.

Ternyata chalange sebenarnya baru diberikan di pos ini. Setiap tim akan menjadi juragan selama satu jam, 08.45-09.45 WIB. Tim MaCaN sendiri harus menemui Pak Warsito, juragan es teh di Pasar Beringharjo.

Hujan pun turun mengguyur Kota Yogyakarta. Sulit sekali menemukan Pak Warsito. Kami sudah naik turun tangga pasar, ternyata lapak es teh Pak Warsito berada di sudut terluar pasar. Yes kami menemukannya.

Gw kira Pak Warsito sudah tua, ternyata masi muda. Beliau baru satu tahun menjadi juragan es teh di Beringharjo. Pak Warsito mempunyai satu orang istri dan satu orang anak. Meskipun baru satu tahun beliau sudah mempunyai banyak langganan. Jadi setiap harinya beliau tidak menjajakan es tehnya lagi tetapi tinggal mengantar kepada langganan-langanannya. Oia bukan hanya es teh yang beliau jual tetapi ada juga teh anget, es dan jeruk anget, kopi, dll. Selama satu jam kami membantu Pak Warsito menyiapkan pesanan pelanggannya dan mengantarnya kepada para pelanggannya. Tepat pukul 09.45 WIB kami pun pamit kepada Pak Warsito karena kami telah menyelesaikan misi kami. Pak Warsito memberikan amplop kepada kami. Yes clue selanjutnya. Kami buka dan clue-nya adalah:

Tataplah merapi dan lawanlah arus kendaraan sebelum pukul 10.00 WIB.

Berarti kami harus ke jalan raya bro. Menurut posisi merapi dan informasi yang diperoleh kami harus menuju Jalan Malioboro dan alhamdulillah dekat dengan tempat Pak Warsito tinggal keluar sedikit.

Kami pun melawan arus kendaraan dalam keadaan terguyur hujan. Kami pantang menyerah. Kami tiba di ujung Jalan Malioboro pukul 09.55 WIB. Tidak ada tanda-tanda panitia di sana. Hujan pun semakin deras, kami memutuskan untuk terus berjalan menuju Tugu Jogja karena arus kendaraannya masih satu arah. Di Tugu Jogja pun tidak ada tanda-tanda panitia. Marcel kemudian menelpon Mas Indra. Kata Mas Indra kami kejauhan, clue ada di ujung Jalan Malioboro. Kami harus balik lagi. Jarak dari Malioboro ke Tugu Jogja sekitar 1,5 km. Kami harus mencari tumpangan nih. Alhamdulillah kami mendapatkan tumpangan mobil colt, ini tumpangan kedua yang kami dapatkan selama Traventurace.

Di ujung Jalan Malioboro ternyata clue tertempel di aksara Jawa. Perasaan kami tadi di sini ga ada deh. Wah jangan-jangan belum ditempel tadi. Hem…hem. Langsung kami buka aja. Clue selanjutnya dalam Bahasa Jawa, kami ga ngerti sama sekali dan minta tolong untuk diartikan sama orang di sekitar sana. Intinya kami harus meminjam becak ke tukang becak. Cari penumpang yang mau beli kue oleh-oleh khas Jogja dan uang hasil tarikan becaknya diberikan ke tukang becak. Ucapkan terima kasih.

Susah banget meminjam becak. Mereka rata-rata kurang percaya sepertinya. Harus mencari yang menganggur nih. Alhamdulillah dapat. Gw bertugas menarik becak, Choki bertugas mencari penumpang dan dokumentasi, Marcel sebagai jaminan menemani Bapak becaknya (enak banget lo cel). Langit Kota Jogja masih menangis, jadi gw dan Choki menarik becak sambil hujan-hujanan. Lima menit belum juga dapat penumpang bro. Alhamdulillah Alloh selalu memudahkan jalan kami. Choki berhasil mendapatkan penumpang, dua orang pemuda asal Klaten yang sedang berlibur ke Jogja. Dari mimik mukanya sih sepertinya dipaksa si Choki nih. Kasihan. Tapi yang penting dapat tumpangan. Uye. Tau ga tujuan mereka kemana? Ternyata jauh banget tujuan mereka. Gw baru pertama kali menarik becak, banyak yang luka bro, nabrak sana-sini, ga tahu remnya yang mana. Jadi kalau mau ngerem kayak ngerem sepeda pixi aja. Ini tantangan yang paling tidak safety sebenarnya. Menarik becak itu susah, untuk pemula tentunya terlalu banyak resiko. Tapi di sini kami belajar kalau menjadi tukang becak itu penuh perjuangan, kami berjanji tidak akan naik becak lagi, kasihan mamang becaknya. Yang jelas seperti yang dikatakan tim Archipelago, mulai sekarang kami tidak akan menawar terlalu berlebihan kalau naik becak. Kadang kita seenaknya saja menawar tanpa memikirkan bagaimana susahnya menarik becak. Tanpa disengaja kita sudah melakukan ketidakadilan terhadap orang lain.

“Kapok gw naik becak”, kata dua pemuda ini

Gw udah ga bisa membedakan mana keringat mana air hujan. Tapi perjuangan ini membuahkan hasil kami dibayar 25 ribu bro (ini ga yakin karena kasihan atau dipakasa harus bayar segitu, hehe). Sesudah menarik becak, gw berencana langsung mengembalikan becaknya. Choki ketinggalan jauh di belakang dan akhirnya naik becak buat mengejar gw. Eh pas balik ternyata jalannya satu arah, gw harus muter, ampun dah, kaki udah mau copot aja. Berusaha dan berjuang sampai titik darah penghabisan. Selesai sudah tantangan yang satu ini, menarik becak ternyata susah gan. Kami tim ketiga yang menyelesaikan tantangan ini.

Selanjutnya kami diminta untuk langsung ke masjid DPRD Yogyakarta untuk sholat, istirahat, dan makan. Sambil istirahat, kami bertiga berdiskusi sekaligus melakukan evaluasi terkait kekompakan tim kami. Seperti biasa, pasti ada saja sesuatu yang ketinggalan dari si Marcel, kali ini dia ketinggalan handphone di tempat dimana dia menemani Bapak becak ketika gw dan Choki menarik becak. Alhamdulillah HPnya masih ada.

Sekitar pukul 13.00 WIB kami diberi clue selanjutnya:

Ada sesuatu yang hilang! Bawa satu kaos putih polos berbahan katun tiap kelompok ke Pulau Cemeti. Pastikan kalian sudah di sana sebelum jam dua.

Gw tahu Pulau Cemeti ada di komplek Taman Sari. Kami mau mencari tumpangan, tapi susah nih di Malioboro (kali ini bukan karena si Choki). Akhirmya kami jalan kaki, jalan cepat, dan sesekali berlari. Mampir dulu ke Ramayana buat beli kaos putih polos. Mahal banget bro, Rp30.000. Ya udah, udah dapat kaos kami langsung melanjutkan perjalanan. Bertemu dengan tim Huba-huba, kami balapan sama mereka, hehe.

Gw dan Marcel ga nyadar kalau Choki ketinggalan, ternyata dia jauh di belakang. Eh ditunggu-tunggu ternyata dia dapat tumpangan motor dan malah duluan, tapi solidaritasnya tinggi jadi dia turun di depan dan menunggu gw dan Marcel. Bangga kita sama lo cok.

Kami menjadi tim pertama yang menyelesaikan misi dan dipersilakan memilih clue selanjutnya.

Selamat datang di komplek taman sari. Pulau Cemeti merupakan salah satu bagian dari sejarah tamansari. Susuri jalan ke arah selatan melewati terowongan java heat, masuk taman sari, cari dan susun Jogja yang hilang sesuai warna amplop.

Warna amplop tim gw itu merah/orange. Kami langsung menuju ke tamansari, luas banget ternyata. Kami bingung dengan clue ‘cari dan susun Jogja yang hilang sesuai dengan warna amplop’. Kaki rasanya mau copot. Tetap semangat. Kami mengelilingi komplek taman sari. Hitung-hitung wisata, hehe.

Pertama kali kami pikir kami harus membatik di taman sari di kaos putih yang dibawa. Ternyata bukan. Kami harus menyusun puzzle. Ini tantangan yang cukup menguras tenaga, emosi, dan waktu. Salah satu tantangan tersusah bagi gw secara pribadi karena harus menyusun puzzle yang tersebar di komplek istana air taman sari. Yang membuat kami emosi adalah di clue tidak disebutkan secara spesifik kalau potongan puzzlenya ada di istana air, disebutkan kalau kita harus mencari di komplek tamansari yang begitu luasnya.

Tim Huba-huba menjadi tim pertama yang berhasil mengumpulkan potongan puzzle dan menyusunnya. Di belakang puzzle terdapat clue untuk menuju tempat berikutnya sehingga mereka bisa langsung pergi menuju lokasi berikutnya.

Kelompok kami baru terkumpul lima potongan, kurang satu potongan lagi. Akhirnya potongan terakhir detemukan oleh Kang Doni. Nuhun kang. Kami pun menunggu Tim Kuaci, Beruang, dan Avatar untuk menuju lokasi selanjutnya.

Pukul 15.00 WIB kami menuju lokasi selanjutnya, yaitu langgar kidul KH. A. Dahlan. Pertamanya kami menuju Masjid Agung Kauman, ternyata lokasinya bukan di sana. Kami tanya warga dan akhirnya berhasil tiba di lokasi urutan ketiga.

Kami istirahat sebentar kemudian mengikuti kegiatan selanjutnya yaitu sharing dengan keturunan keempat KH A. Dahlan dari istri ketiganya yang dari Cianjur. Kami mendapatkan wawasan tentang Sejarah Muhammadiyah, KH. A. Dahlan itu sendiri dan komplek KH. A. Dahlan. Banyak sekali wawasan yang kami peroleh tentang salah satu tokoh pembaharu Islam di tanah Jawa itu.

Selesai sharing kami menuju Masjid Agung Kauman untuk melaksanakan sholat maghrib dengan ditemani LO. LO kami dan Tim Beruang adalah Shendy. Setelah sholat, kami diajak jalan-jalan keliling sekaten dan makan di angkringan. Ternyata masih ada clue yang harus diselesaikan lagi. Kami harus ke Terminal dan diberi uang Rp10.000.

Alay banget yang buat clue

Dari Terminal Condong Catur, kami semua disediakan bis dan dibawa ke tempat istirahat di rumah salah satu warga di Desa Merapi.

Horeee, naik TransJogja

Hari keempat FIM Traventurace ini sungguh melelahkan dan meninggalkan banyak kesan bagi kami. Seharian hujan-hujanan sepertinya membuat badan kami sangat menuntut haknya untuk segera istirahat. Gw kasian sama Choki, karena bajunya basah semua ketika tiba di Jogja, dia tidur dengan menggunakan jas hujan. Gw mau meminjamkan baju sebenarnya, hanya postur tubuh gw ga sekekar postur tubuh dia. Yang sabar ya Chok. Terima kasih untuk hari pertama Traventurace edisi Jogja. Jogja punya cerita.

Stasiun Jatinegara

25 Desember 2013

01.00 WIB

Hari kelima FIM Traventurace atau hari kedua di Jogja tidak kalah berkesannya dengan hari pertama. Suasana yang begitu dingin di waktu shubuh menjadi sedikit lebih hangat ketika kami Sholat Shubuh berjamaah dan berbagi kearifan atau tafakur alam di lereng merapi sambil melihat sunrise, romantis banget buat kami bertiga. Masya Alloh, ciptaan Alloh tiada kurang satu pun.

Matahari mulai meninggi, roda kehidupan pun mulai berputar. Banyak warga yang sudah memulai aktivitasnya untuk menambang pasir di tempat kami berbagi kearifan. Pasir tersebut merupakan sisa-sisa erupsi merapi tahun 2010 silam. Hari ini kami ditugaskan melakukan analisis sederhana terkait dampak erupsi merapi terhadap lingkungan serta solusi yang dapat dilakukan. Kelompok kami mewawancarai beberapa penduduk setempat, diantaranya Pak Amir dan Pak Burhanudin. Kami membuat mind map dari hasil analisis sederhana kami, gabungan ilmu biologi Choki, sipilnya Marcel, dan Statistikanya gw.

Sebenarnya Choki sedang dalam keadaan sakit, badannya demam karena mungkin kemarin hujan-hujanan dan semalam hanya memakai jas hujan aja buat bobo. Tapi salut buat Choki, dia tetap semangat dan tetap bisa membuat kami ketawa.

Sekitar pukul 09.00 WIB kami berpamitan kepada Bapak yang punya rumah. Kami akan menuju lokasi tantangan berikutnya. Tau ga dimana? Di pos Kinahrejo, lereng Merapi. Uwooo.

Kami di sini ditugaskan untuk membuat video dari hasil analisis kami tadi. Kami diberi waktu selama satu jam sekaligus bisa melakukan lava tour. Gw, Marcel, dan Choki pun membuat sebuah lagu, nadanya mengambil dari soundtrack Sinetron Kera Sakti, liriknya kami gubah sesuai dengan hasil analisis kami, meskipun agak sedikit ngaco. Oia, gw mau tebak-tebakan, haram haram apa yang enak? Jawabannya haram jadah, jadah apa? JADAH TEMPE, hehe, ga nyambung ya? Biarin. Tapi JADAH TEMPE memang ada dan itu makan siang kami yang disediakan oleh teman-teman FIM GJ, uenaaaak pollll tapi kurang sambal kemarin.

Pukul 12.00 WIB kami kembali ke bawah, ke pusat Jogja tepatnya ke Museum Batik Nasional dan Museum Sulaman Nasional. Museum Batik Nasional ini didirikan tanggal 12 Mei 1976, sedangkan Museum Sulaman Nasional didirikan tanggal 12 Mei 2000. Di sini kami diberi wawasan terkait perbedaan batik tulis, cap, dan printing, juga ditantang untuk membatik di kaos putih yang tadi disuruh bawa ke Pulau Cemeti. Tantangannya adalah membatik nama kelompok dan identitas kelompok.

Selain itu, kami juga diminta menebak lima kain, mana yang batik tulis, cap, dan printing. Dari sini, kami semakin bertambah lagi wawasannya, terima kasih FIM Traventurace edisi Jogja. Kami semakin cinta batik.

Mba Jetc: Yuk dipilih-dipilh batiknya jeng, jangan sampai tertipu mana batik asli mana batik palsu, yuk dipilih

Pukul 15.00 WIB kami harus segera ke Stasiun karena kereta yang membawa kami ke Jakarta akan berangkat pukul 15.30 WIB. Berat rasanya meninggalkan Jogja. Terima kasih FIM GJ atas semua nilai yang terkandung dalam Traventurace edisi Jogjanya, kalian luar biasa. Semoga kami punya kesempatan lagi ke Jogja.

Selama perjalanan di kereta, gw, Marcel, dan Choki berusaha menyelesaikan kewajiban kami untuk menulis jurnal perjalanan dan membuat video jurnal. Bukan sebagai tugas tetapi sebagai bentuk penghargaan kami atas pengalaman yang begitu berharga dari perjalanan ini.

Melawan kantuk untuk menghasilkan karya layak dibaca pun ditonton

Sampai tulisan ini dibuat, gw, Marcel, dan Choki masih di stasiun Jatinegara.

disambut oleh Kak Mierza dan Kak Ratna dengan memakai sarung yang diselendangkan. Bayangkan sob, pagi-pagi buta kami semua teriak-teriak di stasiun melakukan beryel-yel ria sampai diliatin banyak orang.Kami sampai stasiun Jatinegara sekitar pukul 00.30 WIB. Langsung Kami semua dibawakan makan malam oleh mereka. Alhamdulillah, terima kasih kakak2. Sayangnya kami dilarang keluar stasiun sampai mereka datang kembali pukul 04.45 WIB untuk memberikan clue kemana selanjutnya kami harus pergi. Nanti shubuh kami pun harus menggelar konser dengan menyanyikan lagu khas betawi, masing-masing kelompok memilih satu lagu yang akan ditampilkan. Kelompok gw memilih lagu ‘eh ujan gerimis aje’. Ok, kayaknya seru nih.

Kami pun istirahat di stasiun dengan menggelar sleeping bag. Gw melanjutkan nulis jurnal ini, Choki melanjutkan videonya, dan Marcel….tidur dengan pulasnya. Kami tidak mendokumentasikan suasana di stasiun saat itu karena disibukkan dengan tugas masing-masing.

Kak Mierza dkk pun datang pukul 04.45 WIB, di saat kelompok gw masih belum siap dengan lagu ‘e ujan gerimis aje’ nya. Akhirnya Marcel goo*gling buat nyari lirik lagunya. Kayaknya urat malu gw, Choki, dan Marcel udh putus (eh Choki dari dulu udah ga punya urat malu deng), kami dengan PD nya beraksi menyanyikan lagu tersebut, ga peduli orang-orang sekitar. Kami hampir aja diusir SATPAM, dilarang melakukan pertunjukkan karena mengganggu orang lain, hehe. Tapi Kak Mierza dapat mengatasinya dengan mudah, the show must go on.

Setelah itu, kami pun diberi clue dimana kami harus menuju tempat biasanya teman-teman FIM mendapatkan Nasi Padang gratis dan di sana sudah menunggu dua orang anak kecil sebelum Pukul 07.00 WIB.Tanpa berpikir panjang gw, Choki, dan Marcel udah tau kalau tempat yang dimaksud adalah Taman Wiladatika, tempat dimana Pelathian FIM selama ini berlangsung. Terima kasih Bunda karena udah ngasih tahu kami lewat cover FB Bunda, hehe.

Banyak tim yang tertipu, mereka menyangka kalau tempat yang dimaksud adalah Mabes FIM di Rawamangun, hehe.

Kami memutuskan naik taksi ke sana, karena gw, Choki, dan Marcel masih ngerasa ngantuk. Di taksi kami bisa istirahat meskipun sebentar. Sekali-kali merasakan hidup seperti orang kaya, hehe. MaCaN memang ganas, pukul 06.05 WIB kami udah sampai di Taman Wiladatika. Belum ada siapa-siapa, mba jetc, Bunda, Pa’ E, kang Fahmeee pun kami yakin belum ke sini. Kami foto terlebih dahulu di depan patung dua anak kecil yang dimaksud.

Berlari kea rah wisma pelatih, kami melihat garis Finish, tapi tiba-tiba dihalang oleh Kak Afdil, belum boleh katanya, ada chalange lagi di sini. Waaah, kami kira udah selesai. Gw, Choki, dan Marcel pun memutuskan istirahat dulu di Masjid. Choki dan Marcel belum mandi jadi mereka mau mandi dulu katanya. Kalau gw sih udah ganteng dari stasiun juga. Menyusul datang Tim Kuaci, kemudian rombongan Tim Avatar, Beruang, dan Huba-huba. Yang terakhir datang adalah Tim Archipelago. Kami pun menunggu di masjid.

Sekitar Pukul 07.30 WIB kami dikumpulkan oleh Kak Adib dan diberi clue yaitu harus mengumpulkan 7 pilar karakter FIM yang tersebar di Taman Wiladatika dan harus berwarna sama. Kami disuruh memilih kendaraan. Choki memilih mobil. Aduh chok, pakai mobil itu ga leluasa ke sana kemarinya, tapi apa buat, pilihan ga bisa diubah. Yang tim gw sayangkan adalah kenapa enam tim ini harus dibagi menjadi dua kolter, satu kloter dengan tiga tim yang datang pertama ke Wiladatika dan satu kloter lagi sisanya. Jadi untuk melakukan misi ini otomatis kloter kedua gimana pun berusahanya ga akan bisa menyusul tim di kloter pertama karena harus menunggu kloter pertama selesai. Alasan panitia adalah karena kendaraannya terbatas, kalau begitu kenapa kami ga jalan kaki aja semuanya, lebih fair atau tiga tim terakhir ini diperbolehkan melakukan misi berbarengan dengan tiga tim lainnya tapi ga dapat fasilitas kendaraan. Belakangan diketahui karena persoalan ini, Tim Archipelago dan Beruang ga dapat menyelesaikan misi sampai tuntas karena keterbatasan waktu.

Tinggal satu nilai lagi yang belum ada dan itu ada di tengah-tengah kolam. Gimana nih? Gara-gara ini kami kesusul oleh Tim Kuaci. Tapi alhamdulillah ada bapak-bapak yang mau nolongin kami mengambil satu sisanya. Yes lengkap. Kami pun mendapat clue selanjutnya yaitu cari tempat di sekitar kolam renang yang dapat melihat pemandangan Jalan Tol dari sana. Kami pun langsung tau lokasinya ada bagian samping luar kolam renang. Kami langsung menuju ke sana dan lagi-lagi Marcel ketinggalan barangnya, kali ini sandal dan dia pun lupa menyimpannya dimana. Jadi kelamaan nyari sandal deh.Gw, choki, dan marcel dengan mudah mengumpulkan 7 karakter FIM ini dengan memilih warna ungu. Kami pun mendapatkan clue kedua yaitu harus menuju kolam renang. Di kolam renang udah ada Kak Vanesa. Misi kali ini berbentuk sandi morse, jadi harus dipecahkan dulu apa maksudnya. Ga perlu waktu terlalu lama tim MaCaN emang cerdas. Misi kali ini adalah mengumpulkan 7 nilai kepemimpinan dengan warna yang sama dengan 7 pilar karakter FIM yang tersebar di kolam renang. Mulai dari kolam ukuran setengah meter sampai dua meter. WHAAAAAT? DUA METER? DIE MEEEN, DIEEE. Tenang, tenang, ada Choki dan Marcel pikir gw. Gw langsung nyebur aja di kolam yang setengah meter, yang penting nyebur, bukannya ga bisa berenang sih, cuma gw belum pakai sun block. Semua yang ada di kolam setengah meter udah gw ambil dengan mudahnya. Sekarang tinggal yang di kolam dua meter. Ayo Chok, Cel, katanya kalian jago berenang. Ternyata eh ternyata Marcel ga bisa berenang juga, buktinya di kelelep waktu nyebur di kolam dua meter, alesannya dia Cuma kuat 10 detik katanya, lebih dari itu ya kelelep. Choki dengan sok-sok an membantu, eh malah ikut-ikutan kelelep, seguru seilmu kalian. Gw yang liat malah melongo karena jujur memang gw ga bisa berenang juga. Akhirnya mereka diselamatkan oleh pelampung. Jangan sok-sok an makanya ngina gw ga bisa renang, dasar bocah.

Pada chalange ketiga penjaganya adalah si Jali, bayi besar, lebih besar dari si Choki. Ini adalah Chalange merayap, tapi rupanya permainan curang diperlihatkan oleh Jali, katanya kalau ga menyentuh tali rapia ga akan disiram air, eh ini ga nyentuh malah disiram air juga.

Selesai di tantangan ini, kami diharuskan menuju jantungnya Wiladatika. Yaeah pasti ini tempat syutingnya Indos*ar, di air mancur. Ternyata benar. Tantangan di sini kami diharuskan menjodohkan chalange-chalange yang udah kami lewatin di Bogor, Bandung, dan Yogyakarta denga 7 pilar karakter FIM dan 7 nilai kepemimpinan. Di sini agak lama membutuhkan pemikiran yang matang, kami mengerahkan semua rasa, karsa, dan cipta kami. Meskipun belakangan diketahui ternyata tidak sedikit yang salah ketika kami menjodohkan, hehe.

Setelah itu, kami harus berlari sampai garis FINISH, kami disambut dengan begitu meriahnya di garis FINISH bak Pahlawan pulang dari medan tempur. Ini menandakan FIM Traventurace sudah selesaaaaaaai… Yaaaaaahhhhh. LAGI, LAGI, LAGI, MALAYSIA, SINGAPUR, BANJARMASIN, SABANG, LAGI, LAGI, hehe.

Peserta FIM TRAVENTURE

Alhamdulillah kami Tim MaCaN berhasil mengikuti FIM Traventurace sampai akhir tanpa kekurangan satu apapun dan sehat walafiat. Kami sampai di garis FINISH di urutan kedua setelah Tim Kuaci.

Kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pa’E, Bunda, Mba Jetc, Kang Fahmeee, FIM HORE, FIM KECE, FIM GJ, FIM DEJAPU, dan seluruh pihak yang telah mendukung acara FIM Tarventurace ini. Terima kasih telah memberikan kesempatan kepada kami untuk ikut. Banyak cerita dan berjuta pengalaman berharga yang kami rasakan. Terima kasih.

Hari terakhir ini ditutup dengan begitu hangatnya. Terima kasih sekali lagi.

HIDUP MACAAAAAAN, HIDUP FORUM INDONESIA MUDA. AKU UNTUK BANGSAKU!

Tim macan :

– Nurmy

– Choki

– Marcel