Sharing Session

Bepergian Dengan Kereta Api

azam

Azzam Ghozi Ahmad

Minggu, 8 Juni 2014 FIM CLUB 8 Traventure mengadakan sharing sessionatau yang kemudian disebut SharSe yang berjudul “Bepergian dengan Kereta Api”. SharSe ini menghadirkan bomber seorang Ahli Geografi Universitas Gadjah Mada angkatan 2011 yang bernama Azzam Ghozi Ahmad dimoderatori oleh seorang jurnalis Kepulauan Riau Batam yaitu saudara Milwan Akbar dan separtikel butiran debu yang baru saja menamatkan sarjana kedokterannya di Universitas Sebelas Maret yaitu saudari @iinms.

Mengawali Sharse-nya, pria kelahiran 27 September ini mengatakan bahwa selama ini perjalanan yang dia lakukan hanya berkisar di Pulau Jawa saja. Perjalanan ini biasa dia lakukan sendirian saja atau dilakukannya sendiri. Perjalanan pertamanya dia lakukan sejak kelas 6 SD. Karena hidup di kota besar dan sekolah di SD yang jauh, tidak diantar jemput orang tua maka tuntutan untuk menggunakan transportasi umum menjadi tantangan bagi bassist danbacking vocal Nasyid Fathul Jihad ini. Sedangkan perjalanan sendiriannya dengan tujuan keluar Jogja justru dia mulai ketika SMA dengan memakai kereta. Sedangkan untuk pengalaman naik kereta yang paling spesial adalah ketika naik kereta Parahyangan ke Bandung. Momen ini menjadi spesial karena dilakukan hanya bertiga tanpa didampingi orang tua dengan durasi perjalanan yang sangat panjang dan masih di tingkat SMP.

Pengalaman pertama kali naik kereta sendiri yaitu ke Pare, Kediri, yang notabene bomber belum pernah melakukan perjalanan kesana. Pada saat itu kereta belum seperti kereta dengan fasilitas seperti sekarang ini, masih belum ber AC, masih ada kemungkinan tidak dapat tempat duduk dan masih makmur kondisi penumpangnya dikarenakan masih banyak yang berjualan. Dari penjual-penjual tersebut bomber semacam mendapat clue sampai mana kereta itu berjalan berdasarkan logat dan suara penjaja makanan yang masuk menawarkan dagangannya di kereta. Kesan dari perjalanan pemateri ke Pare saat itu adalah sangat wow dikarenakan bomber mengalami yang namanya hampir kehabisan tiket kereta (berarti masih dapat tiket kereta-red). Pada saat itu masih belum digalakkan sistem booking online atau pesan jauh-jauh hari, dan malangnya bomber mendapat pengalaman berdiri selama 8 jam dengan posisi tidak enak dan miring yang seharusnya perjalanan bisa dilalui 6 jam. Definisi perjalanan yang ditempuh bomber adalah kereta tujuan Pare dari Jogja dengan harga 35 ribu rupiah, turun di stasiun Kediri, terus lanjut naik angkot dan terakhir naik becak. Waktu tempuh sekitar 8 jam saat itu, kemungkinan sekarang paling sekitar 6 jam. Lanjut bomber mengatakan jika ingin kursus disana mending naik motor, maksimal waktu tempuh memang lama sekitar 8 jam namun kelebihannya disana lebih leluasa buat jalan-jalan ke mana-mana.

Kelebihan dari naik kereta jika dibandingkan angkutan darat lainnya, menurut pria yang secara genetis mempunyai brewok lebat ini adalah molor atau tidaknya jadwal kereta masih bisa diprediksi karena kereta mempunyai jalan sendiri berbeda dengan angkutan darat lainnya. Sedangkan kalau dibandingkan dengan transportasi jalur udara maupun air, jelas kedua transport tersebut jangkauannya lebih luas berbeda dengan kereta yang hanya bisa berada di jalur darat saja. Selain itu kenyamanan memakai kereta, terlebih kereta ekonomi, adalah walaupun seringnya ber-headset jika diperjalanan namun dikereta kita terbiasa bersosialisasi dengan masyarakat umum yang sama – sama menggunakan jasa angkutan kereta api.

Selain di Pulau Jawa, jalur kereta yang beroperasi untuk umum baru ada di Sumatera. Di luar itu biasanya jalur kereta yang ada masih digunakan untuk kepentingan perusahaan tambang atau perkebunan seperti yang ada di Kalimantan. Lantas mengapa di Jawa dan di Sumatera ada jalur kereta ??? Nah jalur kereta yang ada di Indonesia ini dulunya digunakan untuk distribusi hasil pertanian atau perkebunan misalnya tebu maka kalau pembaca mencoba naik kereta dari Jakarta ke Surabaya (*backsound kereta malam* #skip!) pasti yang dilewati adalah ladang, perkebunan atau sawah. Berdasarkan hasil obrolan bomber dengan kakak kelas bomber yang hobby banget dengan perkereta apian, didapatkan fakta bahwa jalur kereta api itu semakin tertata dengan penambahan rute-rute baru. Di Jawa sendiri, untuk meningkatkan pelayanan dan mempersingkat waktu, maka setiap rute dibuat double track, untuk akses ke timur-barat maupun sebaliknya. Sedangkan untuk rute baru, di Jawa sampai saat ini belum ada wacana penambahan rute baru dikarenakan semakin banyak pemberhentian maka akan berdampak ke rute lainnya dan seperti yang kita ketahui kereta api tidak mempunyai jalan alternatif.

Pulau yang memungkinkan untuk dibangun jalur KA (kereta api-red) sementara ini masih Sumatera dan Jawa karena jalur KA peninggalan Belanda (terkadang kita perlu berterima kasih kepada penjajah juga) hanya ada di dua pulau tersebut. Selain itu mungkin hanya jalur kecil-kecil saja. Kalau di Kalimantan, kurang memungkinkan karena topografinya lebih beragam dibanding Jawa dan Sumatera yang topografi tanahnya lebih settle. Sedangkan untuk pulau-pulau lain, yang kecil-kecil (seperti tempat tinggal moderator-red) kurang memungkinkan dikarenakan jalur darat hanya ditempuh dalam waktu sehari menggunakan mobil saja sudah cukup walau akhirnya statemen ini terbantah oleh saudari Jetc (L’mira Ethnique’s fonder) yang mengatakan bahwa Pulau Seram baru bisa dikhatamkan dengan jalur darat selama kurang lebih seminggu.

Hal ini dimungkinkan karena “ga semua yang lo liat kecil dipeta itu bener-bener kecil –red” dan juga tidak semua pulau kecil itu mempunyai jalan lingkar dalam. Selain topografinya, kontur tanah di lokasi yang akan dibangun jalur kereta api adalah hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan. Semakin beragam dan semakin curam maka akan semakin sulit untuk dibangun rel kereta misalnya di Kalimantan, karena di tengah pulau bergunung-gunung dengan keragaman kontur yang lebih ekstrim dibanding di Jawa, untuk membuat jalur kereta komersil menjadi lebih sulit. Alternatif lain, maka digunakanlah transportasi udara.

Pria yang akrab dipanggil Azzam ini mengatakan kalau dia bekerja di KAI, dia ingin menyelesailan proyek double track di seluruh Jawa dan membuka trayek di Sumatera untuk umum ketika ditanya tentang apa yang akan dia lakukan ketika ditanya tentang visi misinya jika mempunyai kesempatan untuk memperbaiki KAI. Lanjut, karena menurut dia di Sumatera KAI masih digunakan untuk pariwisata, masih sedikit yang digunakan untuk umum. Jadi, buat bikin rute KA baru tidak semudah yang dibayangin, pertimbangan pertama jelas di biaya, cost yang dibutuhkan sangat besar berdasarkan penuturan bomber. Bomber juga bercerita jika ingin mengetahui proses pembuatan jalur kereta ada film yang menampilkan adegan membangun rel di padang tandus.

Diskusi menjadi semakin menarik dengan tambahan sharing dari saudari Miza Alvina yang selanjutnya disebut sebagai bomber kedua. Menurut dia, di Sumatera khususnya Sumatera Barat juga ada kereta. Jika kereta di Sumatera dibandingkan KRL di Jawa jelas sangat berbeda dilihat dari segi waktu tempuh dan shift keberangkatan. Jika di Jawa kereta bisa menempuh jarak “sekian” dalam 45 menit maka di Sumatera jarak “sekian” tersebut bisa ditempuh dalam waktu 2 jam dan juga jumlah shift keberangkatannya pun terbatas yaitu hanya 4 kali. Contohnya yaitu kereta dari Padang ke Pariaman, kereta ini memang benar-benar di desain sebagai kereta wisata, jadwalnya juga cuma jam 6, jam 8, jam 2 dan jam 4 sore. Selain dua perbedaan diatas, bomber kedua juga mengatakan bahwa kereta di Sumatera tidak mempunyai pembagian kelas seperti di Jawa, jadi semuanya sama saja.

Kembali ke bomber pertama, seorang mahasiswi S2 yang sedang menyelesaikan tesisnya bertanya ke bomber mengenai pengalaman pahit bomber selama naik kereta dan pernah tidak bomber merasakan ketidaknyamanan di dalam kereta yang notabene bau, banyak yang jualan, ada copet, cowo jail dan lain lain serta bagaimana mengantisipasinya. Menurut keterangan bomber, pengalaman paling pahit adalah (seperti biasa) ketinggalan kereta hanya 5 menit saja, kereta dikejar ke gambir, eh masih saja ketinggalan lagi 3 menit. Kondisi jam 22 malam (artinya kereta tersebut pemberangkatan terakhir), hujan, flu, meriang, duit cuma 200 ribu, bawaan banyak, dan lemes. Akhirnya bomber minta dianterkan sama supir taksi ke kampung rambutan, memelas biar hanya bayar 90 ribu, sisa lainnya untuk naik bis disitulah bomber pertama kalinya merasakan calo bis. Selain itu pengalaman pahit yang lain adalah pengalaman pertama naik kereta sendirian, 8 jam berdiri miring dan ngangkang, ke Pare, dengan waktu normal sebenarnya bisa ditempuh hanya dalam 6 jam. Antisipasi untuk ketidaknyamanan dalam kereta adalah bomber mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum perjalanan, janggut kumis jangan dicukur biar ga kalah saing sama premannya, serta mengakrabkan diri dengan tetangga selama perjalanan. Lanjut bomber menceritakan bahwa terakhir merasakan kereta tak ber-AC adalah awal masuk kuliah sekitar 2011 akhir karena setelah itu mulai ada perubahan di KAI, dari smoking area di lorong dekat toilet (lupa istilahnya apa) hingga tidak diperbolehkan merokok sama sekali di kereta. Sampai bomber tidak dapat lagi membedakan lokasi dari cara pedagang menjajakan mijon L .

Seorang peserta SharSe yang berasal dari Banjarnegara Gilar-Gilar menanyakan tentang keberadaan kereta semacam di film Harry Potter, jika ada perjalanan kemana, dan berapa jam. Selain itu dia juga menanyakan tentang kelebihan kereta jaman dahulu dibanding sekarang. Bomber menjawab bahwa kereta macam di Harry Potter katanya dulu di Indonesia ada, cuma yang model kamar-kamar itu bomber masih kurang tau. Dulu banget sewaktu bomber SD ada yang seperti itu di daerah Ambarawa. Bomber menambahkan keretanya Hogwart Express kurang spesial soalnya tidak ada penjual mijon dan pipanas, yang ada malah penjual permen karet rasa muntahan atau kodok coklat sertacard magic. Seorang peserta yang bertugas sebagai notulen menambahkan bahwa Kereta Kayu Solo yang dipakai sebagai kereta Wisata di Solo bentukannya mirip dengan Hogwart Express hanya saja tiketnya mahal dikarenakan bahan bakarnya masih menggunakan kayu. Perjalanan sekitar 9 kilometer dibayar dengan selembar duit gambar Ir. Soekarno L. Dari segi kenyamanan, lanjut bomber, kereta tahun 2000an mungkin dibanding sekarang sangat kurang, tapi justru disitulah hal yang dirindukan dan spesial dari KA ekonomi. Bomber melanjutkan bahwa for your informationtidak ada jalur kereta menuju museum kereta.

Pertanyaan terakhir berasal dari mantan ketua angkatan FAPERTA 2007 yang baru saja akhir tahun kemaren lulus (ciiee selamat!!!). Beliau menanyakan pendapat bomber terkait “revolusi ignasius jonan” dilihat dari baiknya maupun keburukannya. Bomber berpendapat tentang “revolusi jonan” itu sebagai berikut:

Baiknya:

  • Untuk pengguna KA ekonomi memang jadi lebih nyaman karena bebas asap rokok
  • Untuk pemesanan tiket, jadi lebih tertib, kerumunan, rusuh, calo, semakin terkurangi. (Kalau pun calo masih ada)
  •   Pejabat KA (dari masinis, kepala stasiun, dkk sampai cleaning service-nya) menjadi semakin disiplin dan melayani.

Buruknya:

  • untuk perjalanan jauh, beli tiket langsung berangkat kemungkinan besar kehabisan tiket. Kalau pun masih ada, itu pun untung-untungan.
  • meski stasiun dan KA jadi lebih tertib, lapangan kerja pedagang-pedagang kecil penjaja paket alat cukur-gunting-sisir-cermin-cutter yang cuma 10ribu dan kawan-kawannya jadi tertutup, tergantikan oleh alfamart ato indomaret yang harganya memang lebih lebih lebih dibanding yang dekat kampus

Lanjut bomber, untuk mempersiapkan transportasi Indonesia yang semakin baik kedepannya, bomber rasa revolusi KA ini bernilai positif, hanya perlu memfasilitasi para pedagang tadi dengan beberapa hal, misalnya kios-kios khusus di luar stasiun (Biasanya tiap stasiun besar punya spot yang bisa digunakan minimal untuk 5 kios kecil). P.S: mulai awal 2013, stasiun-stasiun di Jawa sudah mulai sunyi setelah jam 20.00 WIB.

Pada akhir Sharse, bomber memberikan sebuah konklusi yaitu kereta api hanya salah satu model transportasi di Indonesia yang sedang berproses untuk menjadi lebih baik, khususnya dari segi kenyamanan. Beruntunglah bagi orang-orang yang pernah mengalami proses revolusi KA tersebut. Azzam Ghozi Ahmad, selaku tertunjuk bomber malam itu, hanya menyampaikan seperti yang dia tahu, pengalaman pribadi, maupun hasil sharing dengan orang-orang yang terlibat di KA. Pengetahuan bomber masih terbatas dan mungkin yang lain lebih tahu dari dirinya. Oleh karenanya, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan pada SharSes malam itu maupun dari kekurangan ilmunya. Sharse pun ditutup dengan ucapan permintaan maaf dan salam.

***eittssss***

Tunggu dulu, ternyata SharSe tentang perkereta apian ini sangatlah seru, Poro Sederek. Walhasil setelah sharse ditutup pun masih dilanjutkan diskusi hangat tentang perkereta apian. Berikut dibawah ini adalah notulensi diskusinya.

Diskusi dibuka dengan pertanyaan hangat pertama dari Teh Siti Fatimah, berikut pertanyaannya:

  1. Sejak kapan berjanggut?
  2. Apakah ada niatan untuk mencukur janggut ?? Yah minimal ga segondrong sekarang
  3. Pernahkah ada yang komplen orang sekitar atau orang lain tentang janggut kamu ??
  4. Pengalaman buruk apa yang pernah dialami terkait janggut yang kamu miliki ??

5.Terakhir deh yang paling akhir, karena kak azzam berjenggot, berapa usia yang orang lain tebak sama usia kak azzam??

-Sekian-

Dan Jawaban dari bomber adalah :

  1. Sejak SMA kelas 2 udah tipis, karena sering dikerok, jadi lebih cepat tumbuhnya.
  2. Sekarang sudah ga gondrong kali teh, tergondrong dan terpanjang itu pas traventurace kemaren.
  3. Ada yang bilang geli, ada yang bilang keren, ada yang bilang tua, ada yang bilang gaul. Dan karena jenggotlah aku bisa cepet akrab sama yang bercelana bahan dan cingkrang ampe yang bercelana jeans sobek-sobek.
  4. Pengalaman terburuk adalah salah cukur yang membuat harus cukur habis. Ini janggut genetis, jadi ngejaganya harus dengan tingkat kesakralan yang tinggi karena janggut ini adalah ASET yang harus dilindungi.
  5.  Mayoritas pada bilang 2007 teh.
  • infrastruktur rel kereta, siapa yang bikin dan mengelola ? sedangkan infrastruktur jalan raya untuk mobil, siapa yang bikin dan mengelola ?
  • bahan bakar untuk kereta dan bahan bakar untuk travel / bis, mana yang disubsidi dan mana yang tidak disubsidi ?
  • wilayah Jawa dan Sumatera banyak digunakan sebagai lahan pertanian ketika zaman Belanda, yang mana distribusi dari lahan pertanian ke pabriknya pakai lori. Misalnya tebu di Jawa timur – Jawa tengah – hingga jogja. Ladang tebunya banyak di Jawa timur, pabrik gula banyak di jogja (dulu sampe ada 5 perusahaan besar, sekarang nyisa madukismo). So, dibuat rel untuk lori tersebut, makanya di Solo bisa kita temui juga rel kereta di pinggir jalan raya. Itu bekas lori zaman belanda. Kenapa lewatnya Solo ? Karena topografinya relatif datar.
  •  nah, kalau di pulau-pulau seperti Kalimantan, Papua, Sulawesi, Halmahera, maupun lainnya, salah satu faktor kenapa tidak ada rel keretanya adalah topografi yang dominan berbukit.

Setelah pertanyaan full kepo yang dilontarkan mahasiswi S2 UNISBA jurusan komunikasi bisnis tersebut selasai di Jawab, diskusi berlanjut lagi dengan hadirnya bomber ketiga yaitu Saudara M. Fahmi. Mengawali diskusinya pria yang sudah mempunyai 1 istri dan 1 anak tersebut menyatakan bahwa traveling baginya dengan menggunakan kereta itu sangat ROMANTIS. Bayangkan kereta sebagai sebuah benda yang berisi baaaanyaaak orang tersebut, semuanya bergerak menuju arah yang sama. Lalu tempat duduknya (terutama yang kelas bisnis dan ekonomi) yang berhadapan, membuat kita bisa ngobrol sambil bertatapan dengan lawan bicara kita. Pengalaman romantis bomber ketiga dengan istrinya (saudari Yas-red) di kereta adalah : Yas tidur menyenderkan kepalanya di bahu bomber sepanjang perjalanan Stasiun Senen Jakarta – Stasiun Lempuyangan Jogja, sementara Alanna (putri bomber-red) tidur di dalam stroller di hadapan mereka berdua (#okesip #skippp!!!). Beberapa film tentang traveling-by-train yang pernah bomber ketiga tonton yaitu: before sunrise, the darjeeling unlimited merupakan film yang sangatrecommended untuk di tonton.

Satu perspektif lain tentang KAI ditinjau dari aspek bisnis. Coba bandingkan rute Jakarta-Bandung, yang ditempuh oleh kereta KAI dengan mobil travel dan bis. Selanjutnya coba Jawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

Dari Jawaban atas 2 pertanyaan itu aja, bisa disimpulkan kalau tantangan KAI jauh lebih besar dari perusahaan travel atau bis. Rel dibikin dan dikelola oleh PT. KAI sedangkan jalan raya dibikin dan dikelola sama pemerintah dan jalan tol dibikin dan dikelola sebagian oleh jasa marga sebagian oleh BUMN/swasta. KAI pakai bahan bakar non subsidi, travel / bis pakai bahan bakar subsidi. Intinya adalah untuk infrastruktur rel, KAI mesti bikin dan ngelola sendiri sedangkan infrastruktur jalan yang dipakai perusahaan travel / bis dibuat dan dikelola oleh pihak lain. Contohnya jalan kabupaten atau kota dikelola dinas bina marga dan ciptakarya atau sejenisnya, Jalan Provinsi oleh Dinas Pekerjaan Umum atau sejenisnya dan jalan nasional oleh kemen PU.

Selanjutnya mencoba mereview ulang tentang perbedaan kereta api di beberapa daerah di Indonesia, ada banyak alasan kenapa hanya beberapa pulau tertentu yang dijumpai adanya kereta api, diantaranya:

Ada sedikit hal yang spesial di Sumatera tentang perkereta apian. Di Sumatera topografi tanahnya memang ada banyak yang berbukit, namun hal tersebut di akali dengan adanya kereta dengan rel bergerigi. Jalur kereta di Sumatera juga melewati gua-gua, hutan-hutan dan lahan pertanian. Sisi yang satu tebing, sisi lainnya jurang. Ada rel yang bahkan miring macem roller coaster. Rel bergerigi itu untuk ‘narik’ kereta di tanjakan dan ngendaliin laju kereta di turunan dalam artian lain gerigi ini berfungsi agar kereta tidak turun saat nanjak dan gerigi inilah yang menahan kereta api supaya tidak merosot. Di Sumatera, kereta api awalnya (bahkan sampai sekarang) dipakai untuk mengangkut barang tambang, terutama batubara. Istilah ‘babaranjang’ sampai sekarang pun masih cukup popular. Nah, jelaslah kalau bukan karena pertanian, berarti bekas tambang.

Tentang Kalimantan, kenapa di Kalimantan tidak ada kereta karena angkutan sungainya lebih efektif dan efisien. Karena sungai pulalah ongkos bikin rel di Kalimantan jadi mahal. Sebenarnya menurut bomber pertama, Kalimantan sudah mulai siap karena memang dari 5 pulau terbesar di Indonesia, Kalimantanlah yang secara geologis lebih tua, lebih stabil. Makanya Soekarno pernah mewacanakan ibukota nantinya pindah ke Kalimantan. Balik lagi ke keretanya, tinggal bagaimana usaha berbagai pihak buat menyibak gunung-gunung disana sama pembangunan relnya. Toh secara lahan juga Kalimantan ready buat transmigran.

Berbeda dengan Kalimantan, jalur transportasi yang paling efektif di Papua adalah lewat jalur transportasi darat. Maka jika pada masa masa kampanye seperti ini dan ada capres yang menjanjikan akan membangun jalur kereta api di Papua, maka tinggal seberapa besar itikad capres tersebut buat memotong gunung di sana karena memang topografi di Papua tidak bagus untuk dibikin jalur kereta api.