Sharing Session

Gunung VS Pantai

IMG_1891

Mohammad Riyan Kamil

Sharing Session kali ini bakalan membahas mengenai traveling ke gunung atau ke pantai, kamu pasti suka bingung mau pilih liburan kemana atau justru kamu malah suka salah satunya saja, nah tema kali ini Gunung vs Pantai yang akan di sharing oleh Mohammad Riyan Kamil

Lelaki berusia 24 tahun ini merupakan lulusan teknik tambang ITB yang saat ini bekerja di salah satu perusahan tambang terbesar di Indonesia, pria asal padang ini sangat menyukai traveling ke gunung karena menurutnya traveling ke gunung membuat adrenalinnya terpacu namun tanpa di pungkiri kamil sapaan akrabnya sangat menyukai pantai buat traveling apalagi bawah lautnya, nah kali ini kamil bakalan bercerita tentang traveling gunung vs pantai, selamat membaca : )

Gunung dan Pantai adalah dua destinasi yang umum dijadikan para traveler sebagai tempat memuaskan keinginan untuk berpetualang. Berawal dari pengalaman jalan-jalan ke gunung dan pantai sejak SMP, dan hobi itu terus berlangsung hingga kuliah, timbullah pertanyaan, lebih seru mana yah jalan-jalan ke GUNUNG atau PANTAI ? Walaupun ketika kerja lebih banyak ke pantai karena less effort dan waktu yang dibutuhkan sedikit, liburan karyawan terbatas jadi pas.

Banyak alasan untuk seseorang menentukan untuk berlibur ke gunung atau pantai. Faktor-faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah:

  1. Teman
  2. Lingkungan
  3. Duit
  4. Keluarga
  5. Hobi

Pertimbangan yang matang tentunya akan kita lakukan ketika diminta untuk memilih antara pantai dan gunung. “Tergantung”, pasti jawaban yang lumrah dipilih orang karena memang penentuan pilihan ini bergantung pada banyak aspek. Aku suka gunung dengan kesenduannya, hutan-hutan pinusnya, kabutnya, hawanya yang segar, pemandangannya yang menenangkan mata, hingga kehangatan yang dapat tercipta begitu cepat bagi para pelancongnya. Tentu, udara dingin di gunung juga bisa menjadi alasan kita.

Pun aku suka pantai dengan keceriaannya, deburan ombaknya, langitnya yang bersih saat malam tiba, dan kedamaian unik yang diciptakannya. Nuansa gunung dan pantai secara kontras berbeda. Gunung lebih bernuansa yang menunjukkan pada kesederhanaan dan kebajikan. Sedangkan pantai lebih bernuansa pesta dan kesenangan. Nuansa yang berbeda pada kedua destinasi ini juga membentuk kepribadian berbeda antara Anak Pantai dan Anak Gunung. Aku akan lebih suka bermain dengan keceriaan, karenanya aku memilih bersama anak pantai.

Mereka lebih bisa menciptakan suasana yang ringan dan mudah mencair. Karakter mereka cenderung ceria, easy-going, impulsif, walau terkadang kurang bijaksana dan sering menganggap enteng suatu masalah. Mereka hangat dan banyak tertawa.

Namun, kadang kita membutuhkan Anak Gunung untuk menolong kita. Karakter mereka cenderung lebih pendiam, pendengar, perenung, dan sensitif.   Anak Gunung juga lebih dingin dan penuh pertimbangan dalam melakukan suatu hal. Lalu kita bisa menaanyakan pada diri kita sendiri, termasuk tipe manakah karakter kita ?
Sebuah artikel di jejaring kaskus.us menceritakan tentang pilihan antar Gunung vs Pantai juga. Berikut potongan artikelnya:

gunung-agung-volcano

Gunung

“Lebih suka ke pantai atau naik gunung ? mungkin – Lebih suka ke pantai atau naik gunung ? mungkin ada hubungannya dengan percintaan.

Bermula dari kecintaan saya terhadap Indonesia, tempat seperti surga dimana sangat banyak pantai dan pegunungan. Setelah berbagai riset yang saya lakukan, akhirnya terbentuklah sebuah kesimpulan yang demikian: ternyata kehidupan cinta dengan lawan jenis itu sangat berhubungan dengan kesukaan pergi ke pantai dengan naik ke gunung.
lebih suka mana ? Kalau sama-sama nilai kesukaannya, pilih aja ngasal.

Pertama-tama mari kita lihat Gunung. Lalu kita bahas dengan proses PENDEKATAN atau dalam bahasa sehari-hari PDKT. Secara umum (mengutip dari teman saya, seorang perempuan gunung). Kalau gunung, tantangannya lebih besar, dan penuh dengan ketidakpastian. Kalau pantai sih lebih bikin perasaan nyaman sejak awal berangkat. Padahal kalau naik gunung dan udah sampai puncak kan sebenernya pemandangan yang kita dapet ya itu-itu aja (lebih bagus pantai), tapi memang ada kepuasan, perasaan “berhasil” mengalahkan diri sendiri, membuktikan kekuatan hingga bisa nyampai puncak.
Jadi meskipun keindahan yg didapat di puncak gunung itu “tidak seberapa” dibandingin pantai, kepuasan dan kebanggaan dalam diri jadi dominan. Nah, sekarang mari kita ganti kata-kata gunung dengan “hubungan percintaan” bagaimana ? sudah terbayang ? pertanyaan ini saya ajukan kepada kaum laki-laki yang menyukai kegiatan naik gunung : “kenapa kamu menyukai naik gunung ? apa yang kamu nikmati dari naik gunung ?”

Jawaban:

saya menikmati setiap langkahnya saya suka perjalanan dan perjuangannya kepuasan yang tidak tertara jika kita bisa mencapai puncak gunung (makanya sering foto-foto kalau udah nyampe puncak gunung) dan ternyata, hasil yang saya temui, dalam proses pendekatan, laki-laki yang suka naik gunung itu : hubungan dengan “saya menikmati setiap langkahnya” Dia sangat menikmati dan membutuhkan proses pendekatan dengan lawan jenisnya. Bermula dari kenalan, menjadi teman, lalu lanjut ke persahabatan, dan akhirnya meraih hasil, apakah dia jadian atau tidak hubungan dengan “saya suka perjalanan dan perjuangannya”
Dalam proses pendekatan, seakan-akan dia berkata: “Lihatlah, aku akan membuktikan bahwa aku pantas bersamamu” Atau “aku akan berjuang untuk mendapatkan kamu” hubungan dengan “kepuasan yang tidak tertara jika kita bisa mencapai puncak gunung” Perjuangan yang dihasilkan dan nilai-nilai keromantisan akan terlihat dengan jelas oleh orang-orang yang berada di sekitar mereka.

Secara kesimpulan, laki-laki yang menyukai gunung itu sangat menyukai dan membutuhkan unsur pendekatan, sebelum dia mendeklarasikan cinta dia kepada cewenya dia tidak akan menyukai hubungan yang terjadi dengan cepat atau instant sebagai contoh, saya pernah menanyakan ini ke laki-laki yang suka naik gunung :

P (pertanyaan) ; J (jawaban)

P: pasti pengen banget naik ke gunung Kilimanjaro

J: wah ya pengen banget dong

P: Tapi lo ga akan mau kan kalo ke puncak Kilimanjaro langsung naik helikopter?

J: ya engga lah, gila aja! dimana asiknya?

secara tidak langsung, laki-laki yang menyukai naik gunung tidak akan merasa perempuan yang langsung menerima dia itu mencintai dia selayaknya dia mencintai perempuan itu.

Karena laki-laki gunung adalah pejuang dan mereka yakin bahwa perempuan itu layak diperjuangkan sekarang, untuk perbandingannya, laki-laki yang suka pantai secara garis besar, laki-laki yang menyukai pantai punya perbedaan yang sangat mendasar dengan laki-laki yang suka naik gunung.

Dia tidak peduli apapun caranya untuk bisa sampai ke tujuannya (pantai) entah itu naik motor, mobil, pesawat, helikopter atau cuma dengan jalan kaki karena yang ingin dia nikmati, bukanlah perjalanannya, tapi tujuannya (pantai) entah itu hanya berjalan di tepi pantai, menyelam, mencari kerang, memancing, berperahu, selancar air atau lain-lain.

Oleh karena itu, hubunganya dalam percintaan, laki-laki yang menyukai pantai tidak menyukai proses pendekatan atau jika dia cuma sedikit lebih menyukai pantai daripada naik gunung dia lebih banyak merasa tidak nyaman dengan pendekatan atau lebih parahnya, ketika dia benar-benar menyukai pantai dan tidak menyukai naik gunung 100%, dia tidak membutuhkan proses pendekatan tapi apakah berarti dia tidak romantis ?

Mungkin sebagian orang di sekitarnya akan merasa dia demikian, bahkan terkesan player karena dengan mudahnya laki-laki itu menyatakan cinta. Padahal, justru sebetulnya perasaan cinta itu mulai dibangun ketika hubungan itu dimulai sebagaimana dalam filosofi pantai, perbedaan dengan gunung yang dinikmatinya adalah perjalanan menuju ke tujuan, yang dinikmati dari pantai adalah tujuannya atau bisa kita gambarkan seperti ini (untuk laki-laki dan perempuan)

naik gunung : proses dulu baru mencapai hasil | pantai : hasil dulu baru memulai proses

Keromantisan dalam percintaan bagi laki-laki pantai itu akan terlihat setelah mereka memulai hubungan. Perjuangannya pun akan terlihat setelah mereka jadian perlu kita ingat juga bahwa kehidupan di pantai itu tidaklah selalu berjalan mulus. Kadang ada badai angin ribut, kadang airnya pasang, kadang surut, kadang ombak yang terlihat tenang pun ada arus bawah yang sangat berbahaya, bahkan kadang ada Tsunami.

Jika itu dianalogikan pada kehidupan percintaan, tentu itu menjadi sebuah perjuangan untuk bertahan dalam percintaan itu dan keindahan yang ada di kawasan pantai pun berbeda-beda. Ada pantai yang berombak sehingga kita bisa main selancar, ada pantai karang yang kita bisa nikmati keindahan karangnya, ada muara yang bisa ditelusuri keanekaragaman hayatinya, atau minimal, pantai akan terlihat lebih cantik ketika matahari terbit atau terbenam. Dengan kata lain, laki-laki pantai akan selalu mencari keindahan dari hubungan ini dia akan terus berusaha membuat perempuan itu tidak kecewa ketika memilih dia.

Laki-laki gunung akan mengatakan “Lilhatlah, aku akan membuktikan bahwa aku pantas bersamamu” laki-laki pantai akan mengatakan “Inilah aku, jika kamu tidak suka, tinggalkanlah aku” “dan jika kamu mau bersamaku, akan aku perlihatkan betapa indahnya percintaan yang akan kamu alami”.

Perempuan yang suka dengan pantai memiliki sikap tenang tapi juga berjiwa petualang. Baginya halangan bukanlah hambatan. Perempuan tipe ini juga gak terlalu memedulikan penampilan. Untuk urusan fashion, dia termasuk cuek meskipun gak juga sembarangan. Sayangnya cewek yang menyukai pantai mungkin sedikit memiliki sikap pembosan. Selain itu emosinya juga mudah naik turun seperti ombak yang kadang pasang dan surut. Tapi asyiknya kemampuan dia mengendalikan emosinya inilah juga yang menjadikannya pribadi yang cukup menyenangkan.

Diantara tempat lainnya, mungkin perempuan yang menyukai gunung adalah perempuan yang agak‘rebel’. Rata-rata perempuan yang menyukai gunung sebagai destinasi wisatanya adalah perempuan yang kuat dan tak gampang menyerah. Mereka juga cukup visioner dan jago dalam menyelesaikan masalah. Namun, karena rasa optimis dan percaya dirinya ini seringkali si pecinta gunung ini dianggap keras kepala atau susah menerima pendapat. Baginya apa yang dianggap betul itulah kebenaran yang absolute. Tapi bagi kaum pria yang ingin mendapatkan sahabat wanita terbaik, mungkin wanita pecinta gunung inilah kaum yang paling bisa menjadi sahabat terbaik.

  •   Peradaban Gunung dan Pantai

Hasil diskusi dengan seorang demografis menyatakan bahwa orang gunung itu lebih mudah dikasih tau daripada orang pantai. Orang gunung itu lebih mudah untuk diajak maju sedangkan orang pantai itu lebih suka status quo, suka meremehkan orang yang memberikan ide untuk maju, tapi kalau lihat orang lebih maju sirik. Dicontohkannya orang gunung kalau punya hasil alam ada kemauan untuk menyimpan hasil bumi sedang orang pantai kalau lagi musim ikan ya foya-foya sedangkan ikan yang bertumpuk-tumpuk itu nilai jual jadi rendah dan banyak yang terbuang, sementara kalau lagi gak musim ikan baru deh minjem sana sini.

Dia menganalisa hal itu terjadi karena faktor alam dimana kalau di pantai alamnya kan monoton (hanya dapat melihat laut) sedangkan kalau di gunung bervariasi. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa orang pantai itu lebih terbuka terhadap nilai-nilai dari kebudayaan lain. Seperti yang kita ketahui, pantai adalah tempat berlabuh beragam kapal dari berbagai penjuru. Pada jaman dulu belum ada pesawat, jadi ke moda transporatasi yang digunakan adalah dengan kapal. Tentu saja berlabuhnya kapal dari kampung orang lain juga ikut membawa nilai-nilai kebudayaannya ke masyarakat di pantai itu. Sedangkan kalau orang gunung, lebih tertutup karena sangat sedikit kontak dengan dunia luar. Jangankan dengan orang-orang di negara lain, dengan orang-orang di pesisir satu pulau pun belum tentu bisa berinteraksi, karena terhalang oleh kondisi geografis.

Contohnya orang Jawa, mereka yang di pantai (terutama Pantura) dengan mereka yang di daerah pegunungan aja sudah memiliki beberapa perbedaan. Selain itu juga orang Minang yang di pesisir dengan yang di daerah pegunungan (Darek) juga tidak lepas dari perbedaan. Misalnya di pesisir kebudayaannya banyak dipengaruhi India, Persia, dan Arab, kalo di darek kebudayaannya masih cukup asli.

  •     Seputar Gunung dan Pantai

Indonesia memiliki lebih dari 400 (empat ratus) gunung dan yang masih aktif berjumlah lebih dari 130 (seratus tiga puluh). Sedangkan pantai, bergantung pada definisi kita akan pantai itu sendiri. Mengingat Indonesia adalah negara kepulauan dan negara maritim, otomatis garis pantai yang membentang dan menyelimuti pulau-pulaunya sangatlah fantastis, lebih dari 99.000 kilometer. Iniadalah potensi yang sangat besar bagi para traveler untuk memuaskan batinnya.

Sudah menjadi hal yang lumrah bagi kita ketika mendengar cerita-cerita aneh yang berbau mistis terkait dengan gunung atau pantai. Cerita mistis di Pantai Selatan sudah sangat terkenal di telinga masyarakat Indonesia. Selain pantai itu, ternyata masih ada pantai lain yang juga memiliki cerita mistis, misalnya adalah pantai Watu Ulo di Jember dan Pantai Menganti di Kebumen.

pantai watu ulo jember

Pantai Watu Ulo

Masyarakat Jember menceritakan bahwa nama pantai Watu Ulo bermula dari kisah berikut. Pada zaman dahulu Ajisaka (baca: Ajisoko) datang ke tanah Jawa. Di Jawa, negeri Medang Kamula, ia mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan kesaktian kepada masyarakat. Saat mengajari murid-muridnya, ilmunya didengar ayam yang sedang mencari makan di bawah pondok perguruannya. Seharusnya, siapapun tidak boleh mendengar ajaran Ajisaka, selain murid yag sudah diijinkan. Karena mendengar mantra-mantra yang diajarkan kepada muridya, seekor ayam itu mendadak bertelur yang amat besar, tidak seperti biasanya .Saat telur itu dierami dan menetas, ternyata yang keluar dari cangkang telur bukan anak ayam, tetapi anak naga raksasa, yang mampu berbicara seperti manusia. Anak naga itu bicara terus, dan menanyakan siapa ayahnya. Oleh masyarakat setempat naga itu diberi tahu kalau ingin tahu siapa ayahnya, disuruh tanya ke rang sakti bernama Ajisaka. Lalu, anak naga itu mendatangi Ajisaka dan bertanya siapa ayahnya. Ajisaka tidak terkejut, lalu diberi tahulah anak naga itu bahwa sebenarnya anak naga itu memang anaknya yang tercipta dari telur ayam lewat mantra-mantra. Walaupun mengakui naga itu sebagai anaknya, Ajisaka tidak mengijinkan naga itu ikut dengannya. Ajisaka menyuruh anak naga itu bertapa di pantai laut selatan. Kemudian anak naga itu bertapa di pantai selatan.

Saat bertapa, naga itu sesekali bangun dari meditasi untuk makan binatang apa saja di sekitarnya. Ratusan tahun ia bertapa, badannya tambah besar. Badannya di Jember, kepalanya sampai Banyuwangi, dan ekornya memanjang sampai Jawa Tengah. Karena tubuhnya membesar akibatnya makanan di sekitarnya tidak cukup, maka sesekali naga itu mencari makan di tengah laut selatan.

Karena lamanya bertapa sampai badannya ditumbuhi lumut seperti kayu. Suatu hari, penduduk di sekitar pertapaan naga kehabisan kayu bakar. Penduduk menemukan kayu besar dan memanjang maka dipotonglah kayu itu. Saat dipotong kayu itu mengeluarkan getah seperti darah, sehingga semua penduduk terheran-heran tetapi penduduk tetap saja mengambilnya sebagai kayu bakar.

Sampai sekarang naga yang telah besar itu masih bertapa di pantai laut selatan, tetapi tubuhnya tidak lengkap lagi karena dipotong penduduk untuk kayu bakar, tinggal kepalanya ada di Banyuwangi, badannya di pantai selatan Jember, dan ekornya di Jawa Tengah. Bagian-bagian tubuh itu mengeras seperti batu, dan sampai sekarang masih bisa ditemukan batu-batu seperti sisik kulit ular di pantai selatan Jember. Oleh penduduk, pantai itu disebut pantai “Watu Ulo” (Batu Ular) karena batu-batunya tersusun seperti sisk kulit ular. Konon pada saatnya naga itu akan berubah menjadi manusia yang sakti dan akan menjadi pemimpin dan penguasa di tanah Jawa atau Indonesia. (Dikumpulkan dan diceritakan ulang dari cerita masyarakat Jember dan sekitarnya).

Disadur sepenuhnya dari buku Mitos dalam Tradisi Lisan Indonesia Karya Dr. Sukatman, M.Pd. halaman 35-36.

mengan

Pantai Manganti

Sejarah Pantai Manganti: Seseorang panglima perang Kerajaan Majapahit melarikan diri ke pesisir selatan Jawadwipa lantaran hubungan dengan idola hati tak disetujui sang raja. Mereka berjanji bersua di pinggir samudra berpasir nan indah. Setiap hari, sang panglima juga selalu menunggu idola hati yang nyatanya tidak kunjung tiba diatas bukit kapur sembari melihat laut terlepas. Ia menunggu serta selalu menunggu.