Sharing Session

Herping: Serunya Sensasi “Berpetualang dalam Sunyi”

Hai FIM Traventure! Sharing Session yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan ini akan membahas tentang Herping. Jika sebelumnya bomber berasal dari member Traventure, kali ini bomber merupakan bagian dari member Traventure. Bomber sharse kali ini adalah suami dari member Traventure yang bernama Maysarah Bakri atau yang dikenal dengan Sarah.

Sebelum masuk ke pembahasan Herping, yuk kita kenalan terlebih dulu dengan bomber yang satu ini!

Akhamd Junaedi Siregar

Akhamd Junaedi Siregar

Pria yang menjadi bomber sharse edisi Herping ini bernama Akhmad Junaedi Siregar. Herping sendiri merupakan hobi dari pria yang akrab dipanggil Bang Jun ini. Pria kelahiran Medan 18 Februari 28 tahun silam ini lulusan Biologi dan sedang menggeluti aktivitas desain grafis juga fotografi. Bang Jun sudah pernah traveling ke Sumatera, Jawa, Papua, Malaysia, dan Hongkong dengan traventure interest pada satwa dan budaya lokal tempat yang dikunjunginya. Pria yang mempunyai destinasi impian ke Madinah ini mengaku memiliki pengalaman herping yang tak terlupakan saat herping di Papua.

Mengapa herping di Papua menjadi tidak terlupakan? Lalu apa sebenarnya herping itu sendiri? Apa asiknya herping dan apa bedanya dengan traveling dan petualangan lainnya? Jawabannya ada di dalam sharse kita kali ini. So, yuk kita simak sharsenya!

***

Herping

Herping adalah sebuah kegiatan mengamati amfibi dan reptil. Asal katanya berasal dari herphes, yakni hewan melata. Kedua kelas amfibi dan reptil sebagai obyek pengamatan itu disebut herpetofauna. Biasanya para herper (pengamat amfibi dan reptil) melakukan kegiatan ini pada malam hari mengikuti aliran sungai di suatu hutan atau tempat wisata.

Menggeluti Herping yang Bernilai Edukasi

Para Ilmuan Menemukan Kadal langka yang berhidung seperti pinokio

Kadal Langka

Awalnya kegiatan ini berkembang dari kampus terutama fakultas Kehutanan dan Biologi. Karena temuan amfibi dan reptil banyak mengejutkan pengamat, maka kegiatan ini semakin berkembang. Keutamaannya kegiatan ini adalah memiliki nilai edukasi, olahraga dan cinta lingkungan. Pada saat ini sudah mulai digeluti beberapa komunitas misalnya di Kota Medan, yakni Herpetologer Mania.

Herpetologer Mania berasal dari FMIPA USU dan kemudian anggotanya semakin meluas dari umum dan rutin melakukan kegiatan herping ke berbagai lokasi. Biar lebih mengasyikkan, biasanya lokasi wisata yang masih asri menjadi tujuannya. Di samping itu, ada target-target temuan yang memang menjadi primadona temuan, seperti katak tidak berkaki, katak bertanduk, tuntong laut dan lain-lain. Keasyikan herping biasanya sejalan dengan pengetahuan herper itu sendiri. Jika pengetahuannya semakin baik, maka dia akan memiliki ketertarikan yang lebih mendalam.

Dunia malam itu adalah sesuatu yang sangat menarik. Banyak “bonus” yang bisa dijumpai. Maka orang-orang biasanya tidak melakukan herping sekali saja.

Sesi Tanya Jawab

Fahmi:

  1. persiapan apa aja yang harus dilakukan untuk herping, baik dari segi alat, fisik, teknik, dan lain-lain?
  2. Tolong ceritakan pengalaman herping paling seru!

 Jawaban:

  1. Hal yang pertama disiapkan adalah mental dan keinginan. Alat-alat untuk herping sederhana saja sesuai dengan keperluan di lapangan, misalnya senter kepala, sepatu boat, jas hujan, tenda dan perlengkapan kalau mau bermalam, jangan lupa buku identifikasi. Dan tentunya kamera agar apa yang dilihat terabadikan. Fisik juga harus fit karena di aliran air sedikit lebih dingin.

Teknik herping sendiri,  saya rasa jalan dimulai dari hilir ke hulu dan menerangi kanan-kiri aliran air.

  1. Pengalaman herping paling seru adalah ketika saya pernah ke Papua untuk mencari tempat yang cocok untuk pelepasan kura-kura moncong babi. Saat itu bermalam di aliran sungai dan ketemu orang-orang, satwa dan habitat yang baru buat saya.

Mandira:

Bagaimana cara meneliti satwa liar dalam proses herping, Bang? Kalau satwanya tiba-tiba pergi itu bagaimana?

Jawaban:

Itu mantapnya herping dan hewan malam ini. Kita bisa dekat sekali sama amfibi dan reptil. Jarang sekali kita kehilangan objek, kecuali jenis cicak malam. Di luar itu umumnya bisa kita dekati hingga 20 cm.

Sifat:

  1. Boleh diceritainkan pengalaman paling tidak menyenangkan pada saat herping?
  2. Hewan apa yang sampai saat ini belum difoto? Dan kenapa alasannya?
  3. Adakah komunitas herping di indonesia? Untuk melakukan herping apakah harus bisa foto? Dan apakah harus malam herping amphibi dan reptilnya?
  4. Kalau herping malam-malam menakutkankah? Pernahkah ketemu hantu saat herping?

Jawaban:

  1. Hampir tidak ada waktu menjalaninya, tapi setelah itu tenda bocor yang harusnya jadi menikmati capai di sisa malam.
  2. Yang belum terfoto sampai saat ini adalah kadal gunung api, alasannya kadal gunung api hewan langka dan hanya menyukai lingkaran cicin api. Catatan temuannya sudah lama sekali oleh ahli yang sudah wafat.
  3. Untuk komunitas, di Medan ada. Namanya Herpetologer Mania. Yang lain sifatnya pecinta yang memelihara. Yang lainnya juga ada yang sifatnya lebih kaku, yakni penelitian seperti di IPB.

Untuk melakukan herping tidak harus bisa fotografi. Karena kenikmatan itu sifatnya personal, jadi kalau seseorang sudah cukup puas dengan melihat saja, cukuplah itu.

Memang tidak harus malam, misalnya untuk herping kadal-kadalan. Sebagian besar amfibi dan reptil aktif malam hari, jadi kita lebih baik menyesuaikan.

  1. Kita bahkan ingin ketemu hantunya. Bahkan cewek-cewek lebih banyak menyukai kegiatan ini.

Sifat:

Menanggapi point satu dong. Maksudnya tenda bocor apa?

Jawaban:

Maksudnya, saat kegiatan mencari amfibi reptil selalu menyenangkan. Tapi waktu mau istirahat dan merenggangkan kaki, tenda kami pernah kehujanan, airnya masuk dan membasahi seisi tenda. Waktu yang seharusnya untuk menikmati capek, jadinya untuk memperbaiki tenda :)

Enra:

  1. Kepuasan seperti apa yang didapat dari herping?
  2. Aku pernah coba melihat dan memotret hewan-hewan kecil di kebun dekat rumah, tapi belum pernah yang ekstrim. Hewan paling mengerikan seperti apa yang pernah Bang Jun dapatkan?
  3. Herping ini ada jurnalnya gak, Bang?

Jawaban:

  1. Wah sangat puas sekali-mungkin untuk saya. Kalau bertemu jenis hewan yang jarang atau belum pernah ditemui sebelumnya itu akan memberi kita kepuasan, dan mungkin tidak bisa tidur malam itu.
  2. Semua jenis ular mengerikan, tapi berhasil memotretnya akan memuaskan. Tentunya untuk menangani ular harus ada ilmu tambahan.
  3. Jurnalnya ada, saya sendiri tidak terlalu suka membaca yang ilmiah. Sulit saya cerna. Saya sendiri jadi Pemred untuk tabloid digital Herpetologer Mania. Mungkin bisa dibaca-baca :)

Inah:

  1. Terus lokasi herping di mana yg recommended buat newbie?
  2. Kira-kira untuk yang mau mencoba pertama kali harus bergabung dengan komunitas atau bisa bersama yang pernah/terbiasa herping saja?

Jawaban:

  1. Di habitat amfibi reptil, ciri-cirinya lembab atau ada genangan air. Misal kolam, danau, atau mungkin saja destinasi wisata, misal air terjun, dan lain-lain.
  2. Sebaiknya jangan dilakukan sendiri, minta dikawani yang sudah pernah. Saya pernah ajak sebuah kelas fotografi, mereka tidak melihat apa-apa padahal suara katak ada di mana-mana. Mungkin sekali dua kali herping sudah bisa menjajaki tempat yang lebih menantang.

Azzam:

Bagaimana teknik ‘mendapatkan momen yang pas’ dalam memotret reptil yang kadang gerakannya tidak diduga-duga, misal tiba-tiba muncul lalu kita baru siap-siap kamera dan hewan tersebut sudah menghilang?

Jawaban:

Itu enaknya amfibi reptil, mereka cukup jinak, asal tidak banyak suara. Biasanya kita bisa dekati dan cara yang baik fokuskan ke mata objek, biasanya hasilnya akan fotojenik. Mau yang lebih mantap, sabar dan tunggu sampai objeknya melakukan sesuatu, sedangkan kita sudah siap menekan shutter. Mantap.

Iin:

  1. Antisipasi supaya binatang menghilang saat diamati itu bagaimana caranya?  Maksudnya saya masih tidak ngedong kalau mendekati tanpa suara. Karena biasanya di hutan banyak bunyi kresek-kresek. Ada tekniknya tersendiri kah untuk mendekati hewannya?
  2. Pernahkah bertemu atau motret buaya?
  3. Selama herping perlu membawa perlengkapan medis jugakah?
  4. Lalu kalau memotret hewan malam hari pake flash atau bawa lampu tembak? Apa cukup pakai headlamp saja? Mode yang biasa dipakai mode apa?

Jawaban:

  1. Kalau begitu kita mendekatinya pelan-pelan. Cahaya senter saja, dan jangan terlalu liar. Itu saja saya rasa, amfibi reptil tidak seliar yang kita duga kalau malam hari.
  2. Kebetulan belum pernah memotret buaya, sebab masih punya koleksi foto di penangkaran.
  3. Tentu saja bawa. Kalau herping dengan komunitas, ada penanggungjawabnya sendiri di bagian medis.
  4. Kalau saya biasanya pakai flash eksternal, saya taruh posisinya di samping objek biar dimensinya muncul. Saya lebih suka mode Aperture Priority dan tergantung fotografernyalah itu :)

Bening:

  1. Selain reptil ada lagikah klub semacam herpetologer mania untuk jenis hewan lain di Indonesia? Misalnya serangga, bekicot, atau burung?
  2. Kalau boleh tahu, bagaimana awalnya Bang Jun bisa jatuh cinta pada herphes?
  3. Biodiversitas reptil di Indonesia sesuatu banget ya?

Jawaban:

  1. Ada, kurasa banyak. Contohnya Wildlife Photografer Indonesia. Yang burung biasanya ada di tiap provinsi. Yang serangga ada fotografer makro di Kota Medan. Biasanya komunitas itu kalangan ilmuan atau fotografer, akan sedikit beda dengan Herpetologer Mania.
  2. Awalnya karena tugas kuliah. Habis itu ketagihan sampai sekarang.
  3. Pasti. 7 jenis penyu dunia, enam di antaranya ada di Indonesia. Kura-kura ada 40 jenis, termasuk yang terkaya di dunia. Begitu juga dengan lainnya. Untuk jenis katak sifatnya endemisitsnya tinggi. Di Sumatera ada yang hanya ditemukan di sini, misal Huia sumatrana, dan lain-lain.

Arif Rahman:

  1. Pernahkah ikut perlombaan foto hasil herping?
  2. Di Indonesia dan di dunia, di mana sih tempat yg menurut ilmu, pernah baca atau pengalaman, kang Jun yang paling asik untuk herping?
  3. Kira-kira, dari herping bisakah mendapatkan penghasilan?                             

Jawaban:

  1. Kebetulan tidak suka yang lomba-lomba. Biasanya kita diajakin menjuri lomba :)
  2. Bagi saya Papua adalah salah satu yang asyik, karena setiap temuan adalah hal baru bagi saya di Sumatera. Di Sumatera kita tidak punya kura-kura leher ular :)
  3. Saya menulis cerita dapat honor, terus sekarang lagi diusahakan bikin buku dan paket. Saya pikir ke depan akan menjadi sebuah kegiatan yang juga tak kalah menariknya dengan industri pariwisata yang lain.

Angga:

images (2)

Stripped frog

  1. Ini katak jenis apa?
  2. Saya pernah menemukan ular di jalan. Saya ambil dan saya masukkan dalam botol untuk saya bawa pulang.  Lalu ortu saya memarahi dan meminta saya melepas ular tersebut.

Jawaban:

  1. Itu katak bergaris (Stripped frog). Jenis ini adalah katak pohon yang paling umum dan biasanya ditemukan di daerah pemukiman manusia. Di hutan primer sangat jarang, bahkan tidak ada.
  2. Sebaiknya ular tidak ditangkap. Apalagi ular berbisa, kemungkinan akan membahayakan keluarga. Biar ular bebas, apalagi masih anakan ular, dia perlu main-main :)

***
Tanpa terasa, waktu sharse kali ini berlangsung melebihi batas waktu seharusnya. Di akhir sharse ini Bang Jun menambahkan bahwa herping adalah kegiatan perjalanan positif yang memberi pejalannya kebaikan dan jalan yang dilaluinya persahabatan. Herping menjadi salah satu kegiatan yang bernilai edukasi, olahraga, dan cinta lingkungan. Dengan membesarkan  kegiatan positif semacam ini, maka kita mungkin telah mengecilkan ruang gerak kegiatan yang sia-sia. Semoga kelak kita semua bisa mencobanya. Terima kasih.

Amin. Semoga suatu hari nanti keluarga FIM Traventure bisa melakukan herping bersama! ^_^