Sharing Session

Kain Tradisional Indonesia

999602_3417921302113_51292411_n

Qadrjatsiah Elmir

Bomber sharse kali ini adalah Qadrjatsiah Elmir untuk memudahkan orang lain perempuan keturunan padang ini biasa dipanggil Jetsi/Jetc, ibu satu orang anak ini memiliki bisnis online bernama L’mira Ethnique sesuai dengan passionpendidikannya yaitu Magister Desain ITB, Jetc sangat tertarik skali dengan fashion perempuan berjilbab yang syar’i dan bermotif nusantara, sangat terlihat jelas dalam desain-desain buatannya yang selalu menyertakan unsur kain tradisional dalam hasil karyanya.

Nah kali ini Jetc bakalan sharing tentang ragam kain tradisional di nusantara dan kenapa seh kita harus cinta sama produk negeri sendiri, yuk dibaca hasil sharing kali ini :
Kenapa akhirnya memilih tema kain tradisional karena saya suka akan ragam kain di Indonesia dan ada sedikit basic keilmuannya disana karena menurut pengalaman dan pengamatan saya selama ini, orang-orang Indonesia masih kurang berminat pada kain tradisional, padahaaall..begitu kemarin misalnya, pada kasus“Malaysia curi batik Indonesia”, orang-orang Indonesia buru-buru sibuk dan kesel karena hal tersebut. Padahal, begitu melihat batik, masih ga tau mana printingan mana yang asli.

Nahhh kan sekarang hari Jumat orang-orang kantoran pada pake batik, sedihnya mereka udah bangga bilang “jika cinta produk Indonesia, pakailah batik”  padahaall..banyak di antaranya yang bukan pakai batik, melainkan pakai kemeja dari kain pabrikan biasa, yang dicetak dengan motif batik…daaann..sedihnya lagi, banyak di antaranya yang diimpor dari Cina.. ironis.

Tanya  :

  1. Bisa jetsi jelaskan ga, kain mana yang menurut jetsi paling susah proses pembuatannya ??
  2. Gimana cara kita generasi muda buat cinta sama kain tradisional, yah yang kita tau harganya mahal yah jets ??

Jawab :

  1. Yang paling susah ? sebenernya kalo ada waktu, jetc mo jelasin sejelas + sesederhana mungkin, pembagian kain Indonesia sih dan masing-masing punya ciri khas prosesnya masing.
  2. Terus kalo gimana caranya biar cinta kain Indonesia, sebenernya ga susah dan ga mahal kok. mulailah dengan BERILMU. artinya, mengetahui mana aja yang EMANG BENER kain Indonesia, mana yang printingan semata. Terus, lihat langsung dan cobain gimana cara bikinnya. Kalo udah gitu, otomatis jadi cintaaaa dan banggaaa karena dibalik proses pembuatannya tersebut, tersimpanBANYAK cultural wisdom di dalamnya. ya ketelatenan, keuletan, sifat menghargai proses, bekerja sama, dan lain sebagainnya.

Pembagian Kain Tradisional

berdasarkan cara pembuatan (secara sederhana)

  1. Reka Rakit/ Structure Design : Yang proses membuat motifnya, bersamaan dengan membuat kainnya.  Contoh : Rajut, Makrame (seperti noken tas khas papua), Anyaman, Tenun (ada ikat, lurik Jawa, geringsing Bali, ulap  doyo Dayak, buna Timor, sotis Timor, pahikung Sumba, songket Minang, dll).
  2. Reka Latar/ Surface Design : Yang proses membuat motifnya dilakukan SETELAH kainnya sudah selesai dibuat. Contoh : Batik Jawa, Jumputan Palembang, Bordir Aceh, Sasirangan Banjarmasin, Tapis Lampung, dll dsb.

Nahh, masing-masing itu tingkat kesulitannya beda-beda, tapi yang jelas, pembuatan motif denga cara reka rakit, jauuuuh lebih susah daripada reka latar. Karena kalo reka rakit, istilahnya kita emang BIKIN KAIN DARI NOL. sedangkan reka latar, bisa dibikin DI ATAS KAIN PABRIKAN. Oh ya, bisa juga setelah dibuat reka rakitnya, dibuat lagi reka latarnya. misal: TENUN GEDOG TUBAN. Abis ditenun secara manual, dibatik lagi di atasnya.

Tambahan dari deni, jangan lupa bilang kenapa kita memilih kain indonesia asli, bukan bikinan cina atauprint, karena menghargai proses dan nilai spesialnya karena limited edition.

Ferrari cars are produced at limited number with special price for special people

Tanya :

  1. Kemarin aku baru beli kain dari bajo, terus kata temenku itu kemungkinan dari jepara, karena aku ga ngerti kain-kainan, mau nanya gimana caranya kita tau itu kain asli dari tempat itu atau bukan, tipsnya dong kak ?

JAWAB

  1. YES, exactly. sekarang, kain tenun yang di KOMODITI kan sudah sangat merajalela. dan kebanyakan memang datang dari TROSO, sebuah desa di Jepara, Jateng, yang kebanyakan orang sana bermata pencaharian sebagai penenun. Mereka ini, membuat tenunan dengan cara SEMI MASSAL. Karena masih dengan cara ditenun, tapi bukan dengan tenun gedog, melainkan ATBM (alat tenun bukan mesin). dengan ATBM ini, tenunan bisa dibikin dengan ukuran LEBIH BESAR (bisa sampai lebarnya 2m, di saat tenun gedog hanya mampu menghasilkan kain sepanjang rentangan tangan manusia). Tenunan bisa dihasilkan lebih banyak, bisa direproduksi berulang-ulang, kerja lebih efektif dan lebih cepat.

Tentang keberadaan mereka, seperti pisau bermata dua. di satu sisi, beberapa orang   seringkali merasa tertipu karena MEMBELI TENUNAN YANG PALSU (alias bukan dari daerah setempat). Tapi jangan salah, ternyata TROSO ini sering bahkan DIMINTA oleh daerah-daerah lain untuk membantu menghasilkan tenunan dengan motif dari daerah mereka.

Waktu itu jetc penelitian tentang tenun SUMBA (adati), JEPARA (komoditi) & LOMBOK(mempraktekkan keduanya). Dari sana jadi tau, bahwa ternyata, orang Troso juga seringkali membantu penenun dari daerah lain, misalnya suku Bayan di Lombok Utara, untuk meramu pewarna tenun sehingga tidak mudah luntur. Dan pengakuan ini, diucapkan oleh penenun Lomboknya langsung, bukan orang troso yang ngaku-ngaku :)

Nah sekarang, gimana cara membedakannya ?

Tenun Gedog Tradisional (adat, biasanya dihasilkan oleh desa-desa terpencil dengan nuansa adat yang kental seperti di Bali, NTB, NTT, Maluku, dan sebagian Sulawesi dan Kalimantan)

  1. Lebar tenunan tidak mungkin melebihi rentangan kedua tangan kita. kalo pun lebih, pastinya di bagian tengahnya ada jahitan sambungan.
  2. Biasanya menggunakan kapas yang dipintal sendiri. Efek : tenunan lebih lembut, adem, mudah lapuk, dll).
  3. Biasanya menggunakan pewarna alam. Efek : warna relatif lebih gelap, kayak mudah luntur, aroma tumbuhan-tumbuhan/ akar-akarannya kental banget. kayak bau obat herbal.

Tenun ATBM (yang kebanyakan dibikin di Jepara)

  1. Lebar tenunan bisa sampe 2 meter, tanpa ada jahitan sambungan di tengah-tengahnya.
  2. Biasanya menggunakan benang toko : Lebih kasar, diraba ga adem.
  3. Biasanya menggunakan pewarna buatan : Warna lebih terang/ jelas, aromanya seperti kimiawi gitu tapi, tenunan jepara juga banyak yang lebarnya kecil, jadi memang sengaja dibikin buat dijadikan sebagai syal.

hmm..untuk membedakannya harus disejajarkan sih fotonya. Nanti yah kalo ada waktu lagi jetc sejajarkan keduanya, biar bisa lebih jelas membedakannya.

Tanya :

  1. Gimana cara bedain batik asli atau printingan ?
  2. Jenis kain tradisional apa yang paliiing mahal & susah didapatkan kajets selama ini ? Kenapa pengen banget ?
  3. Gimana menurut kajets dengan beberapa daerah di indonesia yang ga punya kain batik asli (bukan songket), dan hanya punya corak khas saja. Misalnya seperti di Kalimantan Timur & Tengah. Jadinya kan masyarakat mau ga mau tetap beli kain tersebut untuk bahan pakaian biar bisa makai ciri khas daerahnya, padahal kebanyakan terbuat dari printingan.

JAWAB

  1. Cara bedain batik beneran sama printingan ? ohya, btw mayy,,tiba-tiba jetc keingetan. waktu ke papua, ternyata selain jual batik cap motif papua, juga jual BATIK SABLON. Pas saya tanya, mereka bilang : iya, disablon. Ga pake malam (lilin buat ngebatik), tapi juga ga diprinting pake pabrikan. alias mereka bikin sendiri. Jadiii bisa jadi memang, untuk beberapa motif khusus yang jarang seperti papua atau ukir dayak, feeling jetc bisa jadi mereka bikinnya yah disablon itu may.. walaupun bukan DIBATIK, tapi at least yang bikin PENGRAJIN INDONESIA juga, bukan buatan cina.. #hope so yang perbandingan tenun dan perbandingan batik nanti jetc fotoin aja yah belakangan, biar lebih mudah juga menjelaskannya, gapapa ya…okee lanjuttt.
  2. Yang paling susah didapetin, udah jelas.. ULAP DOYO. dari mana coba may ? yess,, it came from your tribe! DAYAK! nahh,, maya sendiri tau ga ULAP DOYO ini seperti apa bentuknya ?? (sekalian terkait dengan pertanyaan no 3)

FYI, dayak itu (merupakan suku asli yang banyak mendiami provinsi Kaltim dan Kalteng), punya kain tradisional lohhh,, yaitu Ulap Doyo tapi tampaknya skill mereka yang masih diasah sampe sekarang itu, menjalin manik-manik tradisi menenunnya tampaknya hampir hilang nih dan jangan-jangan, suku dayak yang masuk ke wilayah Malaysia, lebih mau mengembangkan skill menenun ini padahal, most if Dayaks itu tinggalnya di kalimantan bagian Indonesia loh hmmm lagi-lagiiii,, ironisss

11

Gambar Suku Dayak Menenun kain Ulap Doyo

  1. Yahhh mangkanya jangan beli yang printingan may, tapi yang cap. emang sih kalo jetc lihat diINACRAFT (bahkan!) misalnya, kebanyakan printingan, sediihhh….tapi tetep ada kok yang bikin pake BATIK CAP dan memang, lagi-lagi.. mahallll..hmm tapiii kalo kita mulai menularkan ilmu ini ke orang-orang sehingga orang-orang jadi timbul kesadarannya pake yang BATIK BENERAN (alias batik tulis ataupun cap), maka lambat laun pengrajin batik kalimantan ini jadi makin banyak produksi, akibatnya harga jadi turun dong.. nahh sekarang ini harganya mahal karena sedikiiiit banget orang yang mau beli, ujung-ujungnya orang mikir, yaudah, mending saya ga usah bikin batik capnya aja, sehingga barang langka, akibatnyaaa,, harga mahal.

Tanya :

  1. Kak jetc di share dong cara terbaik untuk nyimpen kain tradisional terutama yang pake metode reka rakit, perlu ada perlakuan khusus gak ?
  2. Terus cara bedain tenun yang hasil atbm dan tanaan gimana ya. Contohnya kain tenun rangang bali, aku banyak nemuin yangg bukan handmade.

JAWAB

  1. Iya, paling bagus itu dipajang terus masukin ke dalam bingkai kaca. Pastikan ga ada elemen kayu di sekitarnya, karena KAIN ADATI yang reka rakit itu SANGAT MUDAH LAPUK (jetc pernah kejadian sarung perempuan dari Sumba Timur, habis dimakan rayappp,, sedihhhh banget, da deni saksinya. Nah, kalo mau mudah, seperti yang jetc lakukan sekarang : Lipat rapi, masukan ke dalam box kontainer Plastik, dan jangan sampe lembab, misalnya kena hujan. It’s a BI NO! RAYAP itu musuh abadi TENUN ADATI
22

Box tempat menyimpan kain tenun

  1. Nah tentang tenun rangrang, lagi-lagi bisa dilihat dari 3 hal yang jetc tulis di atas yah : UKURAN + SERAT atau benang (efeknya ke tekstur dan penampakan) + PEWARNA yang digunakan (efek ke penampakan dan aroma) nah, kalo mau lebih jelas, lagi-lagi bagusnya diliatin ke jetc, atau kedua jenis tenunan tadi kita sejajarkan, maka akan lebih mudah terlihat bedanya. Awalnya pasti akan sering terkecoh, tapi kalo udah terbiasa, mungkin jadi lebih sulit dikecoh.. hehe.. psst.. btw, SERINGKALI bahkan pedagang kain sekali pun, ga tau tuh apa perbedaannya mana tenun gedog mana tenun atbm.. lagi lagi, ironisssss

Tanya

  1. Berapa sih jumlah kain tradisional di Indonesia ? Baik jenis ataupun motifnya.. udah pernah ada yang ngitung belum yaa ?
  2. Kain tradisional apa yang nilainya paling tinggi kak ?

JAWAB

  1. Tentang berapa jumlah kain tradisional, kayaknya belum ada data valid yang bisa menjustifikasi dengan tepat, karena memang ada banyak sekaliii baik dari segi jenis maupun motifff AMAT SANGAT BANYAK. Tapi, sudah ada kok beberapa buku yang membahas tentang TENUN TRADISIONAL, contohnya karangan Suwati Kartiwa. hmm tapi setelah jetc baca-baca pas penelitian tesis kemarin, ternyata MASING-MASING BUKU MEMBAWA ILMUNYA, alias ga ada buku yang bisa menuliskan dengan lengkap seluruh info yang diperlukan. Misalnya, Buku A cuma bahas 20 jenis tenunan, ehh ternyata di buku B, ada 5 jenis tenunan yang belum dibahas di buku A. begitupula dengan buku C, D, dan seterusnya.
  2. Kain tradisional yang nilanya paling tinggi : sejauh ini, yang jetc simpulkan: MAKIN ANTIK, MAKIN MAHAL. thats why, some people meyakini tenunan itu salah satu jenis ASET YANG BERHARGA. Itu sudah dibuktikan beberapa tahun lalu temen mama sakit dan menjual tenun-tenun tradisional yang dia punya dengan harga yang cukup tinggi terbuktikan ? nahh, masing-masing daerah punya tenun antiknya masing-masing. Ini beberapa contoh kain antik yang sudah punah (tapi kabarnya, mau direproduksi ulang oleh pemda setempat) KAIN KREA LAMPUNG, KAIN BANTENAN MINAHASA.Tanya 
  3. Kak jets kenapa tertarik sama kain tradisional ? aku aslinya tertarik sih kak, pengen belajar tapi ga bisa karena kalo tenun pandai sikek itu harus orang pandai sikek yang bisa, pernah belajar menenun atau ngebatik ga kak ? Dimana ? Seru gak ?
  4. Terus motif-motif tiap daerah apa aja ya kak yang terkenal dan jadi ciri khas ?

JAWAB

  1. Pernah belajar membatik maupun menenun. Seru, susah, pusing, njelimet, dan diujii sekali kesabarannya, terutama menenun karena saat misalnya, salah satu benang ada yang kepuntir aja di pangkal dekat sisir ATBM, maka ke ujungnya akan kusut. Biar mudah, bisa pake analogi rambut kusut. Belajarnya waktu kuliah S1. karena memang ada mata kuliahnyaa,, hehee. tapi justru saya jadi cinta kain tradisional indonesia ini justru saat saya s2, wehehe..karena mungkin waktu s1 masih nganggepnya sebagai beban yah, karena masuk ke mata kuliah.
  2. Tentang motif-motif, itu ada banyaaakk banget. Ini contoh aja yah : Pintu Aceh – Aceh (yang seperti lambang PKS), Kaluak paku kacang balimbiang – Minang, Cicak – Timor, Parang Rusak – Jawa, Ana Tawu – Sumba Timur (motifnya merupakan figur arwah leluhur, gambar manusia), Pohon Tengkorak – Sumba Timur (zmn dulu, di sumba itu sering perang, nah setelah pulang perang, kebiasaan si Pemimpin dari kubu yang menang itu, MENGGANTUNGKAN tengkorak para musuhnya yang sudah mati terbunuh di dahan-dahan pohon depan rumahnya, sebagai simbol Kemenangan, Kejantanan dan Kebanggan sebagai kubu yang menang perang, sehingga dari situlah motif Pohon Tengkorak berasal.

Tanya

  1. Kan bisnis yang sedang ka jetc jalankan sekarang terkait juga dengan kain khas Indonesia nih, Itu bahan dari mana ?

JAWAB

  1. Kalo bahan KAIN ADATI di indonesia, most of all berasal dari KAPAS yang dipintal dan ditenun sendiri. Waktu jetc ke Desa Bangga di deket kaki gunung kelimutu kemaren, mereka memang menanam kapasnya sendiri di halaman rumah mereka, memintal juga sendiri disana satu persatu dari gumpalan kapas sehingga menjadi seutas benang, sampe ditenun sendiri hingga menjadi selembar kain, dan memakainya sendiri untuk kain bawahan sehari-hari, sekaligus dipajang di halaman rumah siapa atau ada turis yang mau beli. Tapi kalo KAIN KOMODITI yang menggunakan motif-motif adati di Indonesia, ada yang belinya berupa benang di toko (kata mereka kebanyakan impor dari cina atau india karena jauh lebih mudah, murah, efektif dan efisien dibanding harus mengolahnya sendiri dari kapas). Ada juga yang udah belinya berupa KAIN KATUN PABRIKAN yang bisa jadi, lagi-lagi diimpor dari cina atau india, tapi bisa juga kain katun pabrikan dari pabrik indonesia juga.. nahhh yang sering pake kain katun pabrikan ini, yaitu kain-kain reka latar, misalnya BATIK, SASIRANGAN, JUMPUTAN. Lagi-lagi, dengan alasan efektif dan efisien. Ohya lupa kalo pewarnanya, juga bisa dari alami, yaitu serat-serat tumbuhan (misalnya, kunyit untuk warna kuning, daun tarum untuk warna biru, dll). Bisa juga dari pewarna buatan, yaitu dari bahan kimiawi, contohnya Wantex

kalo untuk baju l’mira, kami memang banyaknya memakai kain komoditi, tapi tetap yang ASLI, bukan printingan, baik itu yang berupa batik, lurik, tenun, ikat, sotis, dll dsb. kenapa ? karena kalo pake kain adati, ga bisa sembarangan ada aturan yang mengikat. and we respect for that!!. terus, kebanyakan dari kain adati itu strukturnya agak rapuh, mudah luntur, serta mahal dan sulit perawatannya jika mau digunakan sebagai produk sehari-hari. sehingga rasanya ga mungkin kain adati kami olah untuk menjadi pakaian jadi, mendingan kami simpan sebagai koleksi agar bisa menjadi ilmu pengetahuan tambahan bagi anak cucu kami nanti.

Ilmu dan kecintaan terhadap kain tradisional ini merupakan PR panjaaanggg karena ini aja misalnya, ga bisa menjelaskan tentang ini semua hanya dalam 2 jam dan hanya lewat WA pulak!

Mestinya ini jadi bagian dari materi WAWASAN NUSANTARA yang harus ada sebagai mata kuliahWAJIB di setiap jurusan anak s1, biar kalo udah jadi orang besar nanti, ga lupa sama budayanya, ga malu sama cultural wisdom-nya.

Ini bagian dari niat saya untuk membumikan cinta pada tanah air nih,, salah satunya melalui kain tradisional indonesia.