Sharing Session

Lost In Trip

Maya Rumpe

Maya Patriani

Sharse kali ini dibawakan oleh perempuan cantik yang berasal dari Kalimantan dan berdomisili di Palangka Raya. Nama lengkapnya adalah Maya Rumpe. Beliau lahir di Tabak Kanilan, 20 Juli 1992. Beliau adalah seorang sarjana pertanian ilmu tanah. Sekarang aktivitas Maya sebagai agropreneur,  sebuah aktivitas yang menarik ya teman-teman. Maya telah ngetrip ke banyak kota seperti Palangka Raya, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Surabaya, Malang, Semarang, Jogja, Bandung, Bogor, Jakarta, Palembang, Lampung, Makassar, Sentani, Irian Jaya, Bali, Mataram, KL, Melaka, SG (Mantab, ternyata Maya traveller sejati euy, sudah banyak potongan Indonesia bahkan luar negeri yang sudah beliau kunjungi). Maya juga memiliki hobi fotografi, caving dan pastinya traveling. Tempat yang diimpikannya adalah Jerman (boleh tanya ke beliau langsung kenapa Jerman adalah destinasi yang diimpikannya). Nah, topik yang dibawakan oleh Maya adalah “LOST IN TRIP” alias tersesat di jalan. Teman-teman pasti punya pengalaman kesasar yang tak terlupakan kan, hehe. Maya akan berbagi pengalamannya, bagaimana rasanya tersesat saat jalan-jalan. Semoga dari pengalamannya kita dapat memetik hikmah dan mengambil pelajaran.

Pengalaman adalah ilmu yang bermanfaat. Kalimat itu mengawali pemaparan Maya tentang tema ini. Pengalaman kesasar pun menjadi menarik dan indah untuk dikenang. Maya memaparkan beberapa kejadian yang dialaminya ketika tersesat waktu jalan-jalan. Adapun beberapa pengalaman itu adalah sebagai berikut :

Lost in Trip 1 [Hampir ketinggalan kereta api dari Palembang ke Lampung]

Waktu itu Maya baru selesai makan nasi padang dan perutnya kenyang dibasahi keringat karena kepedasan. Seharusnya Maya beristirahat terlebih dahulu, tapi tiba-tiba ada suara pluit nyaring pertanda kereta siap berangkat. Akhirnya, Maya dan teman-teman terpaksa harus berlari mengejar kereta seperti di film-film India. Teman yang lain naik ke kereta terlebih dahulu lalu yang lain membantu untuk naik. Memasukkan koper bawaan pun jadi salah satu adegan di sana. Mari kita bayangkan bagaimana kejadian itu padahal kereta sudah bergerak cukup laju. Akhirnya rombongan itu pun masuk ke dalam kereta dengan selamat. Eh ternyata salah gerbong. Mereka seharusnya berada di kelas ekonomi, kelas yang umum dipakai para backpaker, tapi tercecer di gerbong eksekutif. Jadi mereka berjalan menembus lautan penumpang sambil menggeret koper. Ketika sudah bisa duduk tenang, kejadian ini justru menjadi bahan obrolan sepanjang jalan. Mereka cekikikan lebih dari biasanya.

Lost in Trip 2 [Ketinggalan Pesawat Menuju FIM 11]

Maya kembali bercerita tentang pengalamannya pertama kali ketinggalan pesawat ketika mau berangkat mengikuti FIM 11 ke Cibubur. Ceritanya nih: waktu itu Maya diantar ke bandara oleh temannya. Di tengah perjalanan, ban motor yang mereka pakai bocor. Taksi pun gak lewat-lewat, kebetulan angkot juga tidak ada, padahal penerbangannya satu jam lagi.

Singkat cerita, lewatlah angkot di jalan sunyi itu. Tanpa pikir panjang langsung mereka carter. Sesampainya di bandara, lutut langsung lemas pas mendengar informasi bahwa pesawat sudahflight 5 menit yang lalu. Mana lagi ada tulisan di tata tertib peserta FIM yang intinya meminta peserta wajib mengikuti seluruh rangkaian acara. Maya sempat panik bagaimana caranya harus ada di Wiladatika keesokan paginya. Untung saja Maya mempunyai teman agent travel yang memberi solusi, tapi mengancam isi dompet Maya. Si travel agent itu menyarankan untuk membeli tiket Banjarmasin–Surabaya dan Surabaya–Jakarta. Karena kepepet, Maya mengiyakan saja meski harus juga berutang.

Akhirnya Maya dapat terbang dari Banjarmasin pukul 07.00 WITA dan landing di Surabaya jam 07.00 WIB. Jadwal penerbangan seharusnya jam 08.00 WIB dari Surabaya tapi maya dapat delaydari om lion. Jam 02.00 WIB tengah malam, pesawat landing di Jakarta. Sesampainya di bandara, kakak Maya sudah menunggu untuk menjemput. Sempat-sempatnya kakaknya mengajak ke puncak karena ikut kebiasaan kakaknya di akhir pekan. Setelah perjalanan panjang  itu, Maya akhirnya berhasil menapakkan kaki di Wiladatika tepat pukul 06.00 WIB pagi, berselang satu jam sebelum FIM 11 dibuka. Biaya perjalanan ini menjadi tiga kali lipat dari seharusnya.

Lost in Trip 3 [Keberangkatan FIM 13, keasyikan ngobrol di ruang tunggu dengan rombongan FIM Banua]

Baru sadar ketika ada suara nyaring dari speaker. Sekali  lagi mohon perhatiannya, ini merupakan panggilan terakhir kepada penumpang atas nama nyonya Maya Patriani Rumpe, tuan Ronny Mulyawan, dll“. Hehe, dan seketika sontak bediri sambil lari-lari menuju pesawat dengan wajah malu dilihatin orang-orang.

Lost in Trip 4 [Ketinggalan pesawat kepulangan FIM 13]

Selesai FIM 13, Maya dan teman-temannya yang berjumlah delapan orang memesan pesawat jadwal paling pagi. Mereka sudah berangkat dari Rawamangun semenjak subuh dan tiba di bandara jam 04.00 WIB. Mereka bersantap dahulu di sekitar gate A sebelum berangkat. Memanglah nasib tak bisa ditebak, usai makan mereka check in tapi sudah tidak bisa, padahal masih ada waktu satu jam sebelum penerbangan. Negosiasi sudah habis-habisan mulai dari yang paling halus sampai setengah kasar, tetap saja tidak bisa.

Terpaksa semuanya beli tiket baru untuk pulang. Tiket yang paling murah adalah penerbangan paling akhir waktu itu. Artinya, mereka bakalan ngegembel 16 jam di bandara. Sedih dan kesal mereka bawa happy untuk membunuh waktu. Ada salah satu teman mereka yang rumahnya dekat bandara mengantarkan 16 nasi bungkus. Maya yang awalnya masih ragu duduk di lantai dan menjaga gengsi, malah sempat tidur di pojokan bandara. Di sana mereka ngobrol apa saja seperti topik berat Banua. Game Uno pun dimainkan dan tidak terhitung lagi berapa kali bolak-balik ke kamar kecil.

Lost in trip 5 [Ketinggalan pesawat karena hujan]

Hujan lebat sejak sore hingga malam, Maya jadi waswas karena jadwal penerbanganya sudah dekat. Jam sudah menunjukkan jam angka delapan. Maya menelpon taksi tapi tak kunjung datang jua. Teman-temannya yang diminta bantuan sama sekali tidak punya waktu mengantarkan. Akhirnya Maya nekat memakai ojek yang mangkal di ujung jalan. Sampai di bandara lari-lari ke ruang check in. Sampai di sana disambut kata “maaf” dari petugasnya. Pintu pesawat baru saja ditutup. Wajah maya tiba-tiba memelas dan kucurhat ke petugasnya. Maya menjelaskan penerbangannya yang baru gagal itu sangat penting sekali.

Raut muka Maya tiba-tiba sangat menyedihkan, rambutnya lepek, pakaiannya basah. Petugasnya tiba-tiba menghampiri Maya dan bilang: “Ya sudah, Mbak datang saja besok dengan tiket hari ini jam 09.00 WIB. Wah, itu memang seuntai kata yang lebih menyegarkan daripada hujan yang baru saja mengguyur.

Lost in Trip 6 [5 jam perjalanan Cikini – Bogor via KRL padahal normalnya hanya 1 jam]

Perjalanan Cikini–Bogor padahal normalnya 1 jam. Why? Karena 2 kali salah naik kereta! Kereta pertama naik dari Cikini jam 04.30 WIB, entah kenapa rasanya kok ragu ya. Ternyata naik kereta arah bekasi (jauuuh banget kaaan, beda arah). Ya sudah, ga boleh panik, adem aja di dalam KRL sampai balik ke Manggarai dan turun di sana. Nah di sini kesalahan selanjutnya. Setelah turun di Manggarai, benar kok naik kereta arah Bogor akan tetapi ternyata ini yang KRL nya sampai Depok aja! Baru ngehnya setelah mentok sampai Depok dan mulai bergerak kembali ke arah kota Jakarta. Terpaksa turun di stasiun Tanjung Barat, dan beruntung tak lama kemudian ada kereta arah Bogor. Setelah memastikan itu beneran sampai Bogor baru benar-benar naik. Selama perjalanan itu, hp mati karena lowbat. Terakhir telponan sama Myta yang ngantar dari Cikini dan Shafira, Ichi di Bogor  masih jam 06.00an di Manggarai. Jam 09.30 sesampainya di Bogor muter otak biar bisa ngecharger. Jadinya beli pepsi di KFC biar ada alasan sekalian numpang ngecharge. 10 menit kemudian hp bisa menyala, yang pertama ditelpon adalah Shafira! Dan dia nangis sambil teriak-teriak, lega  bisa dihubungi. Jadi dari jam 06.00, dia sudah menunggu di stasiun Bogor dan sudah muter 4 kali di stasiun untuk mencari, juga sudah meminta umumin namaku di pusat informasi: “Perhatian untuk penumpang atas nama Maya dari Kalimantan ditunggu saudaranya Shafira di pusat informasi.”

Masih banyak lagi cerita lainnya yang tidak mungkin habis diceritakan malam ini. Termasuk kisah kaki yang pegal mengejar bus di Kuala Lumpur sama teh Sifat.

Setelah pemaparan dari Maya kemudian dibuka sesi tanya jawab. Adapun pertanyaan-pertanyaanya adalah :

 Pertanyaan Tria

  1. “Ka May ternyata cerita nyasar itu lebih seru ketimbang cerita travelingnya ya. Pertanyaan satu, ka may suka nyesel gitu ga sih kalau udah teledor ketinggalan pesawat, kereta, dkk? Apalagi berkali kali?

May sampai berulangkali begitu? Biasanya aku jawab dengan “kalian ga ngerasain sih gimana serunya sport jantung saat mengejar sesuatu itu. Sulit diungkapkan dg kata-kata saat adrenalin berpacu dengan waktu. Kalau kekejar syukur, ga kekejar berarti ada pengalaman lain yg sudah menunggu sbg ganti kecerobohan itu :)

  1. “Ceritain dong yang kl sama ka sifat, pasti lucu.”

“Ceritanya aku, filan, teh sifat & ayu nginap di KL tp jalan2 ke Melaka. Nah bis terakhir balik ke KL jam 10 malam. Keasikan kan di Melaka, akhirnya baru ngeh udh stgh 10 & ga ada angkutan lagi ke terminalnya. Truuus akhirnya kita nekat jalan kaki. Katanya deket. Nanya satu org lagi deket. Jalan lagi, nanya lagi, deket. Sampai kita udh muter2 ga nemu2 jalan ke arah terminal, akhirnya ada satu warga yg ngasih infonya bener. Kita disuruh balik ke titik awal kita jalan, ternyata ga jauh dari sana. Dan itu sudah 9.50 malamAkhirnya kita balik, mulai dari jalan biasa, jalan cepat, sampe lari2! Kita mah celana panjang, ayu kan pake jubah kasian. Eh tp ayu yg paling cepet larinya. Hahaha 3x muterin kota dan balik lagi ketempat yang sama, terakhir kita harus lewat jembatan penyebrangan, tapi lama krn muter. Satunya jalan tercepat yg harus dilewati lagi adalah: NYEBRANG JALAN TOL.”

 Pertanyaan Elva

  1. “Dari pengalaman yang luar biasa itu, mengejar dan tertinggal alat tranportasi, apa sih yang ka maya bisa jadikan pelajaran berharga buat kita?

“Pelajaran berharganya: manajemen waktu. Tapi sebenarnya ini bukan krn ga bisa memanajemen sih, tp kadang aku ngerasa asik aja stlh pusing dg rutinitas tetiba ada shock terapinya lewat kejadian2 ini. Hehe Yg pasti melatih biar strugle di lapangan! Mungkin dari cerita ini terkesan “ceroboh banget, May! Tapi yg kurasakan jadinya secara ga langsung ngelatih gimana bisa berpikir cepat di lapangan, cepat beradaptasi dg org2 baru, berani (ga manja).”

  1. “Yang bener bener paling ka maya rasa luar biasa saat pengalaman yang mana?”

“Yang 16 jam di bandara, pasca FIM 13.”

 Pertanyaan Ihsan

  1. “Sepengalaman ka maya yg sering ky gt.. Sering ny saat sendiri atau saat bersama? Telat nya?.”

  “Kebanyakan saat sendiri. Saat tak ada pegangan hidup dan tak tahu arah jalan pulang.

  1. “Itu kalau ketinggalan jadwal… Uang yg ud dibayar gmn? Hangus kah?

“Hangus san, Ada yg dikembalikan tp cuma sekian persen, dikit banget.

Konon katanya, kadang ini ada permainan pihak bandara juga. Misalnya sejam sebelum mestinya masih bosa check in, ini ga bisa.. ._.

 Pertanyaan Kak Jetc

  1. “May, mau nanya. Krn maya sering bgt telat, itu sbnrnya maya beneran emang kebetulan selalu telat, atau pernah maya “sengaja” telat krn misalnya,, ingin memacu adrenalin(?) atau misalnya menguji keberuntungan(?) gitu?? Hehe.”

“Ga sengaja lah kajet, mana ada mau sengaja buang2 uang & waktu :’/

Tapi itu tadi, kalau sdh terlanjur, jatuhnya bukan merutuki diri melainkan ngambil hikmahnya. Seringnya juga krn kejadian2 ini malah banyak muncul kejadian tak terduga lainnya yg bisa disyukuri. Misalnya, malamnya ketinggalan pesawat ternyata ga lama abis itu dpt sms dari org lain (pemerintah), ngajak ketemu malam itu rapat dg bbrp org lainnya bahas project di Banjarbaru. Kebayang kalau jd berangkat brrti ga bisa turut hadir & jadi leader project. Jadi pandai2 ngambil hikmahnya.. :)

  1. “Maya sebenernya sudah bermaksud utk belajar dari “kesalahan” ga ya?

Mksdnya, kalo tau udah sering telat, knp besok2nya kalo dari cerita maya tadi,, masih aja mengerjakan segala sesuatunya “last minute”??

Mksdnya, adakah maya sudah membuat manajemen waktu yg membaik dr hari ke hari,, misalnya.

Yg biasanya br brgkt ke bandara 1jam sblmnya,, nah ini krn udh pernah pengalaman telat,, jdnya berangkatnya 2jam sblmnya, dll dsb..

Gitu may,, jd sbnrnya maya begini terus krn emang seneng memacu adrenalin dg selalu mjd “Miss Last Minute” atau gimana? Hehe”

  “Cerita2 telat tadi sebenarnya udh bertahun2 yg lalu kajet, Stlh kejadian2 itu kemudian belajar menghargai waktu dg cepat dtg ke bandara biar ga last minute lagi. Nah yg terbaru kan 2013 kmrn, itu krn keadaan. Hujan lebat bgt dari sore (penerbangan jam 8 malam), dan transport ke bandara susah.”

Maya menutup sharse malam ini dengan kalimat yang mengisnpirasi sekali. Walau sebenarnya kadang perjalanan yang sempurna bukanlah pengalaman terbaik, yang berwarna justru lebih menggema rasa. Time is money, but my adventure, priceless. Kamu? :’))