Sharing Session

Solo Trip

999315_10200875218615433_1621575151_n

Mokhamad Fahmi Fauzi

Kali ini Bang Fahmi seseorang yang mempunyai usaha di bidang travel diberikan kesempatan untuk menjadi bomber diskusi mingguan FIM Traventure dengan tema solo traveling. Pria berdarah sunda ini merupakan angkatan paling senior di FIM dan traveling yang dilakukannya pun sudah hampir setengah dari Indonesia mungkin lebih, nah kali ini bang Fahmi bakalan bahas tentang solo trip, selamat membaca :

Biasanya kalo ada orang diajak buat traveling pasti akan ada banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada si penanya contohnya seperti “ke mana?”, “berapa hari?”, “kira-kira abis uang berapa?” dan satu pertanyaan yang ga kalah sering diajukan yaitu “SAMA SIAPA AJA”?

Solo_putnici

Siapa teman perjalanan kita saat traveling memang penting, karena bagaimana pun kita pasti tidak mau menghabiskan waktu sepanjang perjalanan bersama orang yang tidak cocok dengan kepribadian kita atau orang yang punya sikap yang tidak kita sukai. Bagi sebagian traveler, bahkan ada yang males traveling kalo sendirian. Jadi harus ada temennya mau itu satu atau lebih yang penting ga sendirian. Padahal jika mau mencoba solo-traveling itu sebenernya banyak banget manfaatnya, antara lain:

  • lebih bebas

Kita bisa mengatur jadwal dan agenda semau kita tanpa harus repot ‘berkompromi’ sama orang lain, sesuatu yang kadang sulit dilakukan bahkan dengan orang yang kita pikir udah sangat kita kenal.

  • Kesempatan berinteraksi dengan orang lain lebih besar

Saat traveling sendirian kita secara tidak sengaja ‘dipaksa’ untuk berkenalan, membuka permbicaraan, bahkan meminta tolong dari orang yang sebelumnya ga kita kenal. Melatih cara kita berkomunikasi dan menemukan bahwa banyak orang baik di luar sana yang siap membantu kita.

  •    Kesempatan berkontemplasi

Saat solo traveling kita akan punya lebih banyak waktu luang dan ‘waktu sepi’. Misalkan saat di perjalanan atau malam hari saat terbangun dari tidur it’s time to have some deep thoughtsmemikirkan kehidupan, keluarga, cita-cita, atau apapun yang jarang/ tidak sempat kita pikirkan di tengah rutinitas keseharian kita.

Salah satu solo traveling yang pernah saya lakukan dan paling berkesan buat saya adalah : Banda Aceh – Bogor di bulan Desember 2008, selama 20 hari. Rutenya adalah : Banda Aceh-Medan-Bukit Tinggi-Padang-Palembang-Bandar Lampung-Jakarta-Bogor. Ketika di Medan, menginap di kosan temen, city tour di Medan, dari Medan ke Brastagi dan Parapat menggunakan motor. Ketika di Bukit Tinggi saya menginap di rumah om-nya temen kuliah, kemudian trekking ngarai Sianok-Koto Gadang, dan sempat idul adha di Bukit Tinggi, lalu menginap di rumah teman sesama komunitas Hospitality club (HC), mengunjungi Sikuai. Ketika di Palembang saya menginap di rumah anak HC juga, city tour dan banyak membicarakan tentang cita-cita. Kemudian ketika diBandar Lampung-Jakarta itu saya numpang lewat aja karena disuruh pulang sama orang tua.

Pengalaman paling berkesan saat solo traveling : ketika di perjalanan Medan – Bukit Tinggi dapet bis buluk yang lampu depannya mati, jadi melewati jalan yang kiri kanannya hutan hanya dengan mengandalkan lampu rem mobil di depan serta insting dari si supir. Saat itu saya merasa bagaimana namanya ‘pasrah saat melakukan perjalanan’. Saya dipaksa untuk memikirkan apa saja yang udah pernah dilakukan selama 23 tahun, hubungan saya dengan keluarga dan termasuk membuat keputusan siapa saja yang bakal dilamar saat saya siap untuk menikah :p *oh ini curhat colongan*.

Untuk budget uang yang paling banyak digunakan saat saya solo traveling adalah untuk transportantar kota sedangkan untuk transport dalam kota, penginapan dan makan mayoritas gratis. Tapi kita juga harus tau diri berusaha untuk jadi tamu yang baik dari teman-teman atau saudara yang kita tumpangi yaitu dengan sesekali membantu pekerjaan di rumah seperti cuci piring atau sapu-sapu, atau sesekali traktir tuan rumah ketika makan diluar rumah. Hal tersebut sangatlah perlu dilakukan sebagai rasa terima kasih kita kepada tuan rumah.

Demikian cerita singkat saya tentang solo traveling I strongly recommend you to feel the experience of solo traveling, at least once in a lifetime. apalagi buat yang masih muda, masih sehat, dan belum nikah. Banyak banget hal yang bisa kita dapetin dari solo traveling yang sebagian besar adalah hal yang ga akan kita dapetin kalo kita jalan bareng temen. Bang fahmi pun menutup ceritanya dengan peribahasa kaum Moor;

He, who does not travel, does not know the value of men.

Sesi pertanyaan

  •  Azzam Ghozi

\ Pernahkah nyasar di daerah yang bang fahmi ga ngerti bahasa setempat  Kalo pernah dimana dan bagaimana menemukan jalan keluarnya 

Jawab: 

Belum pernah, karena saya kalo bepergian selalu ke wilayah yang dimana orang bisa bahasa indonesia. Tapi saya pernah nyasar di bukit tinggi tapi gapapa nikmatin aja perjalanannya, duduk dipnggir jalan liatin orang lalu lalang sambil mengamati kebiasaan mereka. Kalo udah puas nyasarnya tinggal tanya-tanya aja sama orang setempat pasti ditunjukin jalan.

  •  Qadr Jatsiah Elmir 

Mau nanya, menurut  fahmi, you will also strongly recommend to do solo trip, to the muslimah, or not ? dengan konsiderasi bahwa ada fikih yang bilang ga baik perempuan bepergian sendirian tanpa muhrim, plus sering ada kejadian ga enak tentang muslimah yang lagi solo trip ?

Jawab: 

rekomendasi ini berlaku secara umum. Kalo ada pemahaman pribadi yang membuat kita tidak mungkin melakukan perjalanan sendiri, maka opsinya setidaknya ada 2 :

(1) tidak melakukan solo traveling sama sekali

(2) traveling meskipun tidak solo namun bisa tetap merasakan manfaatnya (independensi, kontemplasi, interaksi).

Tentang kejadian tidak enak it can happen to anyone, baik yang sedang solo traveling maupun yang grup traveling yang dibutuhkan saat itu adalah common sense. Akal sehat harus selalu ‘dinyalakan’ sederhananya kalo ada pilihan jalan antara gang gelap sama yang terang benderang, mana yang kita pilih ? Common sense akan memilih yang terang. Atau ada pilihan nanya jalan ama seorang kakek yang jualan minuman, atau pemuda yang keliatan mabok. common sense akan memilih si kakek. Dari pengamatan saya, melatih common sense lebih efektif saat kita sedang solo traveling karena semua pilihan perjalanan kita yang menentukan tanpa campur tangan orang lain.

  • Qadr Jatsiah Elmir: 

 jadi, kak fahmi akan merekomendasikan tersebut sama kuatnya baik bagi laki maupun perempuan ? tanpa ada rekomendasi khusus ?  

Jawab:

(repost) kalo ada pemahaman pribadi yang membuat kita tidak mungkin melakukan perjalanan sendiri, maka opsinya setidaknya 2 : (1) tidak melakukan solo traveling sama sekali (2) traveling meskipun tidak solo namun bisa tetap merasakan manfaatnya (independensi, kontemplasi, interaksi).

Maksud dari “traveling tidak solo tapi tetap bisa merasakan manfaat solo traveling”, mksdnya teknisnya jadinya traveling dengan cara seperti apa?

Jawab :

>> Independen: membuat kesepakatan dengan teman seperjalanan bahwa di lokasi tujuan, tiap orang punya hak untuk membuat keputusan masing-masing. Contoh: setiba di kota tujuan dia ingin ke tempat A sementara kita pengen leyeh-leyeh, ya bebas aja. Itu contoh merasakan manfaat independensi meskipun kita tidak sejalan dengan apa yang temen kita mau.

>> Kontemplasi: sepakati me-time dengan teman seperjalanan.

>> Interaksi: gampang contohnya buang peta, itin atau panduan perjalanan lalu ngobrol sama orang setempat.

  • Uli:

  Kalo ketemu orang baru saat solo traveling kan emang pasti ya. Tapi gimana tips and trick biar kita ga ketipu atau dijahatin sama orang baru tersebut ?

Jawab:

>>Kalo untuk keperluan nanya jalan dan sejenisnya cukup pake common sense, seperti yang udah dijelaskan di atas kalo untuk keperluan nanya jalan dan sejenisnya, cukup pake common sense,seperti yang gw jelaskan di atas.

>>track record. Kalo emang mau minta bantuan orang lain yang baru kita kenal untuk jadi hostyang bakal sering berinteraksi dengan kita paling aman ya cari orang yang dikenal sama kenalan kita, kaya saya yang nginep di rumah omnya temen saya saat di Bukit Tinggi. Atau bisa juga manfaatkan jaringan  hospitality club/couch surfing yang track record-nya jelas. Tapi tetep senjata utamanya : common sense/ akal sehat. Kalo kita bisa menggunakan common sense dengan baik, niscaya kita bakal dapat terhindar dari kejahatan orang lain. Malah kita bakal ngerasain bahwa ternyata orang baik masih lebih banyak dibandingkan orang jahat.

  • Gadri

Selama perjalanan 20 hari solo trip, dimanakah tempat yang paling berkesan menurut kak fahmi, mengapa ?

Jawab:
Bukit Tinggi karena saya disambut layaknya keluarga sendiri oleh orang yang baru dikenal kebetulan saat itu idul adha itu artinya saya makan daging orang bukit tinggi yang jago masak. I’m sure you can relate…

seperti di Aceh, di Bukit Tinggi saya juga belajar tentang sejarah. Fenomena pahlawan lokal yang dianggap sebagai pengkhianat di level nasional. Saya juga belajar banyak kejadian yang disebut pemberontakan di masa lalu bukan sekedar siapa saja yang benar dan siapa yang salah, tapi ada motif yang melatarbelakanginya dan hal itu sangat menarik untuk dipelajari lebih mendalam.

  •    Gadri: 

Wisata yg sudah dijajaki selama di bukittingi ?

Jawab: 

Jam gadang, pasar atas-bawah, ngarai sianok, koto gadang, rumah bung hatta, goa jepang, lembah harau, pernah juga lanjut motoran ampe maninjau. saat masuk ruang kerja bung hatta, gw ngebayangin bung hatta duduk di salah satu pojokan ruangan, menelurkan pemikiran-pemikirannya untuk bangsa Indonesia, udah cukup untuk membuat gw bergidik, makin kagum ama apa yang udah dia sumbangkan buat Indonesia. hidup Hatta!!!

  •  Habib K Wijaya:

 Tanya. Sebelum jalanin solotrip, umumnya pertimbangan atau pencapaian apa yang jadi tujuan harus ngelakuin solotrip ya ? Terlepas dari ide manfaatin waktu masa muda atau mengenal daerah baru. Pernah bebetapa kali ‘solotrip’ daerah di indonesia, tapi rasanya belum ketemu yang menarik. Ada saran bijakkah buat solotrip itu jadi berkesan ?

Jawab: 

Solotrip dengan tema Pembuktian Cinta, bib. serius. been there done that. Tapi serius, bib tema besarnya : Pembuktian. Saat kita coba melakukan sesuatu yang kita pikir kita tidak mampu melakukannya sebelumnya itu yang membuat perjalanan jadi berarti.

  •   Ihsan Satriawan: 

Ada rekomendasi tempat-tempat yang bisa dijadikan solo trip yang mengedepankan kontemplasi diri ga bang ?

Jawab: 

Danau Toba.

Kalau di pulau jawa Bang ?

Jawab: 

di atas kereta jarak jauh. Favorit saya adalah matarmajan pasar senen – Malang.

  •  Milwan : 

 Gua mau tanyaa. Gimana ngilangin nilai kebosenan di saat perjalanan yang panjang. Kalau merenung mah, pasti kang. Kalau kebanyakan mah,bosen juga heee.

Jawab:

Lakukan hal yang lu sukai, kalo gw sukanya : ngobrol. Jadi saat bosen dan ga ada yang bisa dilakukan ya gw ngobrol sama siapa pun, bahkan sampe tukang jualan pernah gw ajak ngobrol ngalor ngidul.

Gmana kalau kita udah blank di saat kita membutuhkan seseorang untuk membuat keputusan di saat tidak ada snyal dan baterai gua low.*gua sering gtu, antisipasinya kang

Jawab:

Banyak cara lain untuk berkomunikasi saat hp ga bisa dipake salah satunya : ngobrol. Justru saat seperti itulah kita sebaiknya lepas dari hp, peta, atau buku panduan. Berinteraksilah dengan orang setempat, siapapun yang saat itu ada di sekitar kita.

Inilah cerita diskusi Solo Traveling yang disampaikan oleh Bang Fahmi mulai dari pengalaman yang luar biasa dari kisah 20 hari solo traveling sampe disuruh pulang sama orang tuanya, lalu tentang tips and trick, tentang kontemplasi diri, membuang jenuh dari solo trip yang sudah berulang kali dilakukan dengan pembuktian cintanya, tentang bagaimana kita bisa memutuskan apa-apa dengan sendirinya, tentang interaksi dengan sekitar dan pastinya pengalaman yang berbeda dari trip biasa yang dilakukan bersama teman/ keluarga. Salam solo traveling!

He, who does not travel, does not know the value of men 

-peribahasa kaum Moor –