Sharing Session

TKI di Malaysia

1523061_10201288222827931_67674061_o

Ahmad Adib

Diskusi malam ini kembali FIM TRAVENTURE menghadirkan sebuah tema yang tidak kalah menarik dengan tema sebelumnya yaitu tentang “TKI di Malaysia”. Bomber yang akan membawakan tema menarik tentang TKI ini yaitu Ahmad Adib atau biasa dipanggil Adib seorang mahasiswa PNJ yang sekarang kesibukannya sebagai aktivis kegiatan di luar kampus yang salah satu kegiatannya adalah VTIC (Volunteerism Teaching Indonesian Children) dan sedang mempersiapkan kelulusan kuliahnya. Tentang kegiatan volunteering inilah yang sekarang akan didiskusikan oleh Adib.

Kenapa Adib membahas TKI di Malaysia karena salah satu kegiatanvolunteering yang diikuti oleh Adib ini adalah kegiatan sosial dalam bidang pendidikan yaitu dengan mengajar anak-anak para TKI di Miri, Malaysia. Kegiatan sosial ini merupakan salah satu pengalaman traveling unik yang pernah saya alami karena berbeda dengan traveling lainnya yang hanya jalan-jalan saja. Pada awalnya saya ingin traveling ke salah satu negara di ASEAN tapi ternyata saya menemukan sebuah kegiatan seperti conference dan semacamnya, eh ketemulah kegiatan VTIC ini dan saya pun tertarik, kemudian mendaftar dan lolos untuk mengikutivolunteering ini.

Selain menceritakan TKI di Malaysia saya juga akan menceritakan peluang traveling gratis bagi mahasiswa, jadi tidak hanya VTCI saja program yang seperti ini tapi ada banyak sekali kegiatan kemahasiswaan yang sebenarnya bisa kita manfaatkan untuk kegiatan positif kita sekaligus untuk kita jalan-jalan.

Para Volunteer & Siswa

Para Volunteer & Siswa

Mengenai TKI di Malaysia jadi di Sarawak banyak perkebunan kelapa sawit Malaysia dan pekerja LN nya > 90% adalah dari Indonesia. Mereka tinggal bareng keluarga nya dan banyak juga yang melahirkan anak disana. Anak mereka lahir, tumbuh dan berkembang di Sarawak dan kebanyakan dari mereka sama sekali belum pernah ke Indonesia. TKI tersebut legal ada paspor, akte dan berbagai berkas lainnya sehingga memang diakui keberadaannya disana. Namun anak-anak mereka (anak-anak TKI) yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak tapi nyatanya mereka belum mendapatkan hal itu. Maka dari itu saya dan beberapa mahasiswa di Indonesia mengajar di sekolah non formal disana untuk membantu memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak para TKI disana. Oia untuk program VTIC ini kerja sama dengan KJRI, KBRI, dan Persatuan Guru Indonesia sekolah non formal di Sarawak.

Berikut beberapa pertanyaan pada sesi sharse kali ini :

  1. Angga:  Ada upin ipin ga di sana? Guru yg ngajar d sekolah non formal itu di gajih gk?

Jawab: Mungkin ada tapi saya ga ketemu, tapi setiap pagi mereka menyapa saya dengan, “selamat pagi Cikgu”. Cikgu (guru) disana digaji. Besarnya gaji tergantung sekolah nya. Ada beberapa sekolah sudah kriteria formal namun status masih non formal gaji besar tapi yang sekolah non formal gaji kecil banget.

Darimanakah gaji guru berasal? Apakah di ambil dari spp adik-adik yang bersekolah disana?Jawab: yang gaji kalau yang sekolah non formal dari perusahaan kelapa sawit. Kalau yang sekolah formal dari KBRI/KJRI

  1. Uli: kalo tertarik ikut itu jd relawan gimana caranya? Ada tesnya ga? Tesnya apa aja?

Jawab:  kemarin habis oprec bulan April lalu. Alhamdulillah ada 10 kampus. Ada tesnya juga (administrasi, interview, dan kesanggupan).

Uli: Biayanya sebesar apa kak kalo boleh sharing dan untuk apa aja?

Jawab: biaya 2,5 jt untuk pesawat dan makan disana. Biaya pesta 2jtan, 500rb makan.Tahun

lalu KBRI dan persatuan guru disana membantu dana untuk operasional.

  1. Ihsan : Apa respon para penduduk dgn ada guru dr beda negara cem cikgu adib? Bagaimana cara adib menyesuaikan bahasa dan budaya yg berbeda dgn murid2 yg adib ajar?

Jawab :

  •     Saya mengajar di sekolah pemukiman TKI. Jadi semua murid dan ortu murid orang Indonesia semua. Cikgu disana pun orang Indonesia juga. Kebanyakan Cikgu disana adalah perempuan, suami mereka pekerja. Jadi Cikgu yang ada memang terbatas yang ada aja disana. Tapi kemarin di sekolah saya ada satu murid Filipina biasa aja sih, gada yang beda.
  • Bahasa menggunakan melayu. Orang Malaysia di Sarawak ga seperti KL, banyak yang suku iban (entah agama apa), muslimnya ga banyak. Saya banyak interaksi dengan orang Indonesia disana, ga terlalu beda sih. Tapi terasa orang Indonesia disana direndahkan oleh Malaysian
  1. Bintang:  Anak kecil indonesia di malaysia, memang pendidikannya seperti apa?  Apa mereka mayoritas tidak disekolahkan orang tuanya?

    Upacara Bendara Indonesia di Malaysia

    Upacara Bendara Indonesia di Malaysia

Jawab:

  • Mereka ga mengenal pendidikan sama sekali selain dari sekolah non formal disana. Bahkan yang mendapatkan pendidikan aja <10%. Orang tua mereka pun sibuk bekerja, karena semua usia produktif harus bekerja, termasuk wanita.
  • Kalau ada sekolah mereka sekolahkan, tapi kebanyakan di Sarawak belum ada sekolah, hanya <10%
  1. Iin: Tapi maksudnya kalopun ada sekolah formal mereka punya Hak untuk sekolah kan?

Jawab: Punya punya Kak, Gratis juga kok
Closing statement dari Adib adalah Salah satu kesempatan Traveling adalah dengan mengikuti event organisasi. Banyak hal yang bisa didapatkan, selain jalan-jalan juga bisa menebar manfaat.Melalui VTIC saya mendapatkan banyak pengalaman mengajar di anak TKI di Sarawak.

More info:

www.vticupate.com

@VTIC_

@heydeeb