Sharing Session

Pamong Budaya, Sang Penggali Budaya Indonesia!

Diala Yusmi Rahmawati alias Youzhmie Yusuf. Perempuan kelahiran 5 Juni 1987 di Samarinda adalah seorang Pamong Budaya selama satu tahun pada tahun 2012 – 2013. Sarjana Hubungan Internasional Universitas Mulawarman  ini saat ini adalah ibu rumah tangga dan seorang motherpreneur. Yusmi yang mengaku memiliki hobi menuliskan budayadaerah yang dikunjungi pernah melakukan trip ke Banjarmasin, Kualakapuas, Muara Teweh, Buntok, Alabio, Martapura, Palangkaraya, Bontang, Balikpapan, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Bukti Tinggi, Batam, Sukabumi, dan Singapura. Saat ini Yusmi berdomisili di Samarinda, Bandung, dan Sukabumi (nomaden). Destinasi impiannya adalah surga bersama orang-orang terkasih (Aamiin, penulis juga J). Yusmi yang juga merupakan alumni FIM 14B kini tengah hamil anak pertamanya loh. By the way, Yusmi pernah dikira TKW (Tenaga Kerja Wanita) dan di minta 5 juta rupiah ketika Batam namun batal karena menunjukkan paspor hijau-nya.

            Kembali ke pamong budaya. Apa itu? Pamong budaya adalah program pemerintah melalui KEMENDIKBUD sebagai bentuk penanggulangan pencaplokan budaya dan pengumpulan data-data kebudayaan yang belum pernah didata sebelumnya. Tugasnya ada tiga yaitu, fasilitator, motivator dan inspirator yang ditempatkan di daerah 3 T (Terpencil, Terjauh, dan Terluar). Yusmi ketika menjadi pamong budaya ditempatkan di Kabupaten Kutai Timur. “Perjalanan saya selama di Kutai Timur adalah perjalanan terluar biasa yang merubah hidup saya, karena saya punya kesempatan ketemu orang-orang luar biasa, belajar banyak dari mereka, dikejar-kejar buaya sampai rampok juga, dan gara-gara perjalanan ini juga saya punya kesempatan ikut FIM 14B terus ketemu dengan suami” ujar Yusmi.

Selama satu tahun 2012-2013 Yusmi melakukan kegiatan pamong budaya ini. Perjalanan mengumpulkan data kebudayaan itu merupakan bagian dari profesinya sebagai Pamong Budaya atau sekarang lebih dikenal sebagai Penyuluh Budaya dibawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang pengarahannya selama di lapangan instruksinya langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui Wakil Menteri Bidang Kebudayaan yang pada waktu itu adalah bu Windu. Melalui profesi ini Yusmi berkesempatan selama satu tahun menjalani pelajaran hidup yang berharga mengenai kebudayaan Indonesia. Seorang diri dengan berbekal kendaraan dinas berupa motor berplat merah B dari pusat dan sejumlah perlengkapan lainnya ke daerah-daerah terpencil. Seorang diri? Ya, seorang perempuan sendiri tanpa partner di lokasi yang juga datanginya dengan bekal peta anonim dan bertanya-tanya. Bersyukur Yusmi bisa survive kalau ingat bagaimana keras perjalanannya.

Kabupaten Kutai Timur terletak di Provinsi Kalimantan Timur dan merupakan Kabupaten pecahan dari Kabupaen Kutai Kartanegara sejak tahun 2000. Yusmi berdomisili di Samarinda, 4-6 jam perjalanan darat dari Kecamatan Sangata Utara yang merupakan ibukota kabupaten Kutai Timur. Perjalanan bisa ditempuh dengan menggunakan mobil, bis atau sepeda motor sedangkan Yusmi biasa menggunakan sepeda motor. Kabupaten Kutai Timur terdiri dari tiga belas kecamatan yang masing-masing luasan kecamatannya baru selesai ditempuh 2 hari 2 malam nonstop, ini untuk menggambarkan luasnya satu kecamatan. Medan tempuh masing2 kecamatan bervariasi, ada yang mayoritas rawa, sungai, datran rendah, pegunungan dengan variasi jurang kana kiri, perkebunan plasma dan tentu saja hutan. Kabupaten Kutai Timur dikenal juga karena bentangan Taman Nasional Kutai yang luas dimana salah satu endemiknya adalah pohon ulin usia ratusan tahun yang saat ini hanya tersisa satu pohon saja, pohon ulin lainnya sudah terbabat habis oleh pembukaan lahan sawit. “Yaaa..!! Lahan perkebunan plasma sawit sudah merambah 3/4 dari taman nasional kutai. Sayangnya sedikit yang tahu mengenai hal ini. Karena memang dari luarterlihat masih rimbun hutannya, tapi kalau kita berjalan sejauh 20km ke dalam hutan, maka yang terlihat adalah perkebunan sawit dan tambang batubara. Tanya kenapa? Tanya pemerintahnya ya? Hehehe…” ujar Yusmi dengan semangatnya.

Selain itu, Kabupaen Kutai Timur juga dikenal sebagai penghasil batubara terbesar di Indonesia, ini dibuktikan dengan keberadaan perusahaan Kaltim Prima Coal dan sejumlah perusahaan lokal maupun asing semacam Thiess. Jika anda berfikir bahwa Kutai Timur bersuku bangsa adalah Kutai saja maka itu adalah salah besar. Kutai Timur mencakup wilayah yang didiami oleh suku Kutai, Banjar, Bugis, Dayak, Bali, Timor, Tanah Toaja, Madura, Manusia Perahu dan suku bangsa lainnya. Sehingga budaya yang berkembang sangat beragam, seperti misalnya, di daerah Rantau Pulung yang mendominasi adalah transmigran dari Bali dan daerah Kabo dihuni oleh transmigran dari Nusa Tenggara dan Pulau Timor. Penduduk aslinya sepeti suku dayak, kutai, bugis dan banjar banyak mendiami wilayah utara misal daerah Bengalon, Sangkulirang, Busang, dan sebagainya. Seangkan untuk manusia perahu, mereka mendiami perairan laut di sepangjang garis pantai dari Bontang, Kutai Timur, berau, hingga tarakan.  Luasan wilayah yang sangat luas itu yang menjadi lokasi penempatan Yusmi seorang diri. Bahkan dalam jangka satu tahun pun masih belum bisa melakukan pendataan kesemua daerah tersebut. Yusmi hanya melakukan pendataan hanya di empat kecamatan; yaitu Kecamatan Sangatta Utara, Kecamatan Sangatta Selatan, Kecamatan Teluk Pandan dan Kecamatan Bengalon. Term and condition aplly! Karena pada musim-musim tertentu jalan ke wilayah selain empat kecamatan tersebut tidak bisa ditempuh dengan motor, setidaknya mobil doubel gardan  dan perahu yang bisa melewati sejumlah wilayah lain. Terlebih pula jika musim banjir, musim buaya berjemur, musim biawak kawin, bahkan keberadaan rampok di siang hari .

Salah satu hasil yang didapatkan oleh Yusmi adalah masyarakat Dayak Wehea. Masyarakat Dayak Wehea mendiami daerah Muara Wahau dan memiliki tanah adat yang termasuk ke dalam Taman Nasional Kutai. Dahulu hak tanah adat mereka tidak diakui oleh pemerintah namun belakangan hak tanah adat mereka sudah dikembalikan dengan kompensasi mereka menjadi jagawana (orang yang pekerjaannya menjaga atau mengawasi hutan-RED/KBBI) untuk Taman Nasional Kutai pada area terbatas tanah adat mereka. Masyarakat Dayak Wehea memiliki sistem yang berbeda dengan masyarakat dayak pada umumnya, mereka lebih maju dengan dibuktikan adanya sistem pendidikan dan pengajaran dalam sistem kemasyarakatan mereka. Hingga saat ini jika dalam masyarakat adat dayak wehea anak laki-laki maka wajib mengikuti petatah-petitih di salah satu rumah adat yang diperuntukan bagi pendidikan. Anak laki-laki tersebut tidak diizinkan keluar dari rumah itu kecuali berhasil membuktikan ilmu dan kebijaksanaan yang mereka dapat dari tokoh-tokoh dan tetua adat, bentuk pembuktiannya adalah ketika mereka mengabdikan diri dalam menjaga hutan tanah adat dan sekarang menjadi jagawana. Masyarakat Dayak Wehea menolak keberadaan sekolah, jadi pemerintah melaksanakan pendidikan nasional melalui rumah adat khusus tersebut. Bagi masyarakat Dayak Wehea, sistem pendidikan nasional hanya akan merusak nilai-nilai tradisi dan budaya mereka, karena memang tidak sepaham dan selaras dengan pandangan Dayak Wehea yang naturalis dan memuja alam. Maka dari itu masyarakat Dayak Wehea sangat menolak keberadaan pemerintah dalam berbagai sektor di kehidupan mereka.

Bagi masyarakat Dayak Wehea, budaya dan kebudayaan mereka adalah tuntunan hidup dalam menjalani kehidupan. Bukan sebagai pelengkap hidup. Hal sama yang Yusmi dapati pada masyarakat perahu di sepanjang Teluk Lombok di Kecamatan Teluk Pandan. Masyarakat perahu percaya bahwa air adalah sumber kehidupan sehingga sejak lahir hingga meninggal semuanya dilakukan diatas rumah rakit mereka. Bagi mereka meninggalkan rumah rakit dan lautan adalah bentuk pembangkangan terhadap alam. Salah satu bentuk penghargaan dan pemujaan mereka terhadap alam adalah dengan menjaga lautan di sekitar mereka tetap bersih dan terjaga. Sekali lagi bagi masyarakat adat ini, budaya dan kebudayaan mereka adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Sebuah tuntunan untuk menjalani peran kehidupan sebagai makhluk sosial.

Hal ini berbeda ketika masuk ke dalam sistem instansi pemerintahan. Bagi pemerintah setempat, budaya dan kebudayaan adalah aset pariwisata yang bisa dijual dengan nilai ekonomis tertentu. Sehingga keberadaan budaya hanya dipandang sebagai hiburan, misalnya tarian dan upacara adat yang mampu mengundang banyak khalayak, kain tenun yang bisa dijual, cagar budaya yang dieksplore peneliti asing, dan juga pertunjukan manusia hobit atau Dayak Punan yang banyak mendiami gunung-gunung batu di daerah Sangkuliran dan pulau kecil lainnya.  Cagar budaya yang dimiliki oleh Kutai Timur adalah situs gunung batu yang berisi cap-cap tangan manusia purba (rock art) yang merupakan bukti persebaran manusia purba pertama kali masuk ke Indonesia. Cagar budaya ini sedang diperjuangkan untuk menjadi warisan budaya dunia karena luasannya mencapai 200 gunung batu. Di gunung-gunung batu ini terdapat sarang walet kualitas premium yang tidak dijual di Indonesia, hanya sebagai komoditas ekspor ke China dan Eropa. Uniknya yang bisa mengambil sarang burung walet ini hanya manusia hobit atau masyarakat dayak punan yang konon merupakan turunan dari manusia purba yang masuk ke Indonesia pertama kali. Proses pengambilan sarang burung walet ini terkadang jadi pertunjukan bagi turis asing yang mampu masuk ke dalam hutan Kutai Timur. Sungguh hebat ya budaya Indonesia! *isak air mata*

Bagi pemerintah setempat semua hal berkaitan budaya adalah aset pariwisata. Sebenarnya cara pandang tersebut tidak salah. Namun akan mengakibatkan degenerasi masyarakat adat yang peduli terhadap budayanya. Jika kebudayaan hanya dijadikan sebagai tontonan, maka nilai-nilai sosial dan tradisi penghormatannya hanya akan sebatas tontonan saja dan tidak membekas maksud dan tujuannya. Sebenarnya setiap gerakan tarian, setiap sisipan tenun, setiap langkah dalam upacara adat, setiap pantun pujaan pujian dalam upacara adat, setiap petatah-petitih di rumah pendidikan masyarakat Dayak Wehea memiliki makna dan maksud dan tujuan. Sayangnya, pemerintah tidak mendukung pengembangan hal itu.

Selama bertugas, Yusmi banyak mendapati anggaran ratusan juta habis dalam satu event budaya untuk menampilkan pertunjukan saja, seperti penyambutan gubernur ke daerah kabupaten. Setelah acara selesai maka selesailah pertunjukan itu, lantas apa yang didapat untuk kebudayaan? Tidak ada. Bayangkan jika anggaran itu untuk pengembangan, pelestarian dan kesinambungan budaya itu sendiri? Bukankah sifatnya everlasting dibandingkan sekadar ceremonial?

Yusmi banyak berbicara dengan tokoh-tokoh adat dan para pemuda, semua sepakat bahwa pemerintah hanya menjadikan masyarakat adat sebagai komoditas, bukan sebagai makhluk sosial pemilik kebudayaan. Mereka tidak dihargai sebagai entitas budaya itu sendiri. Wajarlah  jika mereka selalu antipati terhadap pemerintah bukan? Keinginan mereka terdalam adalah penghargaan dan pengakuan bahwa kebudayaan mereka bukanlah kebudayaan marginal tapi juga pembentuk dari ke-bhinekatunggal ika-an Indonesia itu sendiri, mereka bukan pertunjukan, bukan bahan penelitian sosiologi antropologi saja, mereka juga manusia yang memegang adat istiadat mereka, dan adat istiadat budaya itulah jati diri mereka. Merekalah budaya dan kebudayaan itu, jika merek hilang, maka kebudyaan itu pun akan hilang.

Pamong Budaya menjadi hal penting dalam pelestarian budaya daerah 3 T. Untuk menjadi pamong budaya, harus memenuhi kualifikasi yang ditentukan oleh KEMENDIKBUD, seperti berpendidikan minimal S1, usia minimal 25 tahun, dan siap ditempatkan di seluruh wilayah 3T Indonesia. Seleksinya pamong budaya atau penyuluh budaya dilakukan 2 tahun sekali. Penyuluh budaya diperbolehkan pulang ke rumah namun selalu ada sidak dari KEMENDIKBUD secara langsung.  Tahun 2013 ada sekitar 150 orang untuk 150 kabupaten di seluruh Indonesia. Hasil dari panyuluh budaya rata-rata menyatakan bahwa masyarakat di daerah memang kecewa dengan pemerintah baik  pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, karena mereka merasa diperlakukan tidak adil, terlebih mereka hanya dijadikan bahan untuk penelitian ilmu pengetahuan saja tanpa follow up lebih lanjut.

Penempatan di Pulau Kalimantan yang notabene masih sama dengan daerah asalnya membuat Yusmi merasa masih lebih beruntung dari teman-teman penyuluh budaya yang lain. Penyuluh budaya lainnya ada yang ditempatkan di Kabupaten Indonesia lainnya seperti di perbatasan Filipina dan perbatasan Papua. Salah satu Kabupaten di Papua yaitu di pulau kecil yg susah sinyal, bahkan di daerah Jaya Wijaya yang bensinnya Rp. 100.000 paling murah.

Hasil dari Penyuluh Budaya banyak ditemukannya budaya baru seperti budaya tarsul atau semacam seni pantun yang ternyata bukan hanya ada di Suku Kutai tapi juga di daerah Kampung Bugis di Rantau Pulung meskipun hampir mirip dengan Tarsul Kutai tapi ada sedikit perbedaan. Yusmi sempat mengumpulkan 13 cerita rakyat yg belum terdata dengan sumber legenda, mitos, dan nasehat-nasehat setempat yang didapatkan dari 4 kecamatan dan sudah masuk ke database KEMENDIKBUD tahun 2013.

TANYA-JAWAB

Tanya

  1. Siti Fatimah: Pamong budaya ini mirip Indonesia Mengajar yah?? Mereka digajikan?? Sesuai dengan UMR pulau tersebut?? Full fasilitaskah?? Barang-barang tersebut menjadi hak milik atau hanya dipinjamkan?
  2. Ihsan Satriawan: Kenapa ka Yusmi kmrn mw jd pawang budaya? Apa motivasi terbesar nya?
  3. Jetsi Elmir
  4. Dalam bentuk apa data selama menjadi pamong budaya? Seperti skripsi kah?
  5. Seperti yang Yusmi ceritakan sebelumnya, Yusmi pengkhususannya dalam bidang Cerita Rakyat di Kutai, Apakah ada Pamong Budaya yang lainnya yang pendataannya di Kutai juga namun pengkhususannya di bidang lain? Misalnya, kain tenun nya.
  6. Kenapa Yusmi kenapa belum muncul muncul di FC Budaya sih?
    Pengalamannya keren banget gitu. *OOT*

Jawab

  1. Berbeda dengan Indonesia Mengajar, Penyuluh Budaya full tenaga kontrak dari pemerintah di bawah naungan kementerian. Digajinya dari pusat dan diatas rata-rata UMR, sekitar 15-30% dari UMR. Mendapatkan fasilitas kendaraan dinas yaitu motor, laptop, GPS, modem, kamera, asuransi, uang makan, uang penginapan, dan lainnya. Barang-barang dikembalikan pasca tugas
  2. Motivasi terbesar? Pasca lulus saya dapat tawaran kerja dari MNC luar dan juga dapat beasiswa S2 di luar. Saat itu saya periode dalam periode berfikir, mau kemana saya dan apa yang sudah saya lakukan. Sampai pada satu titik, apa yang saya tahu tentang bangsa saya, katakanlah secara tiba-tiba nasionalisme saya muncul. Awalnya dari situ sih. Setelah itu ada pengumuman jadi Pamong Budaya. Saya ambil kesempatan itu sambil gambling, kalau diterima, maka ini pengabdian saya untuk bangsa dan negara, kalau tidak ga diterima, ya mungkin ada cara lain untuk mengabdi
  3. Jawaban:
  4. Laporan akhir kami ada 2 macam, laporan perjalanan dan laporan hasil. Laporan hasil ini yang formatnya nyaris seperti skripsi
  5. Tiap pamong budaya/penyuluh budaya di tempatkan di satu kabupaten saja. Jadi 1 kabupaten = 1 penyuluh. Jadi yang dapat tugas di kab. Kutai timur cuma saya. Ada teman yang ditugaskan di Kabupaten Kutai Kartanegara tapi spesialisasi dia penelusuran tarian daerah pedalaman vs kontemporer dan pemaknaan dalam upacara adat.Teman penyuluh budaya kemarin yang spesialisasinya kain tenun cuma 1 orang, asal palembang dan ditugaskan di sana juga dan spesialisasi dia adalah kain songket. Dan teman di palembang yang meneliti kain songket ini juga sudah menerbitkan bukunya tentang kain songket tahun 2013 lalu
  6. Apalah saya ini Kak Jetc, Cuma debu sekian milimikron dijagad raya. Malu pengalaman cuma sedikit liat pengalaman yang lain bejibun, jadinya silent reader.

Kesimpulan

Yusmi Rahmawati alias Youzhmie Yusuf bertugas sebagai Pamong Budaya atau Penyuluh Budaya untuk melakukan pendata

Pamong Budaya, Sang Penggali Budaya Indonesia!

            Diala Yusmi Rahmawati alias Youzhmie Yusuf. Perempuan kelahiran 5 Juni 1987 di Samarinda adalah seorang Pamong Budaya selama satu tahun pada tahun 2012 – 2013. Sarjana Hubungan Internasional Universitas Mulawarman  ini saat ini adalah ibu rumah tangga dan seorang motherpreneur. Yusmi yang mengaku memiliki hobi menuliskan budayadaerah yang dikunjungi pernah melakukan trip ke Banjarmasin, Kualakapuas, Muara Teweh, Buntok, Alabio, Martapura, Palangkaraya, Bontang, Balikpapan, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Bukti Tinggi, Batam, Sukabumi, dan Singapura. Saat ini Yusmi berdomisili di Samarinda, Bandung, dan Sukabumi (nomaden). Destinasi impiannya adalah surga bersama orang-orang terkasih (Aamiin, penulis juga J). Yusmi yang juga merupakan alumni FIM 14B kini tengah hamil anak pertamanya loh. By the way, Yusmi pernah dikira TKW (Tenaga Kerja Wanita) dan di minta 5 juta rupiah ketika Batam namun batal karena menunjukkan paspor hijau-nya.

            Kembali ke pamong budaya. Apa itu? Pamong budaya adalah program pemerintah melalui KEMENDIKBUD sebagai bentuk penanggulangan pencaplokan budaya dan pengumpulan data-data kebudayaan yang belum pernah didata sebelumnya. Tugasnya ada tiga yaitu, fasilitator, motivator dan inspirator yang ditempatkan di daerah 3 T (Terpencil, Terjauh, dan Terluar). Yusmi ketika menjadi pamong budaya ditempatkan di Kabupaten Kutai Timur. “Perjalanan saya selama di Kutai Timur adalah perjalanan terluar biasa yang merubah hidup saya, karena saya punya kesempatan ketemu orang-orang luar biasa, belajar banyak dari mereka, dikejar-kejar buaya sampai rampok juga, dan gara-gara perjalanan ini juga saya punya kesempatan ikut FIM 14B terus ketemu dengan suami” ujar Yusmi.

Selama satu tahun 2012-2013 Yusmi melakukan kegiatan pamong budaya ini. Perjalanan mengumpulkan data kebudayaan itu merupakan bagian dari profesinya sebagai Pamong Budaya atau sekarang lebih dikenal sebagai Penyuluh Budaya dibawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang pengarahannya selama di lapangan instruksinya langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui Wakil Menteri Bidang Kebudayaan yang pada waktu itu adalah bu Windu. Melalui profesi ini Yusmi berkesempatan selama satu tahun menjalani pelajaran hidup yang berharga mengenai kebudayaan Indonesia. Seorang diri dengan berbekal kendaraan dinas berupa motor berplat merah B dari pusat dan sejumlah perlengkapan lainnya ke daerah-daerah terpencil. Seorang diri? Ya, seorang perempuan sendiri tanpa partner di lokasi yang juga datanginya dengan bekal peta anonim dan bertanya-tanya. Bersyukur Yusmi bisa survive kalau ingat bagaimana keras perjalanannya.

56_fullKabupaten Kutai Timur terletak di Provinsi Kalimantan Timur dan merupakan Kabupaten pecahan dari Kabupaen Kutai Kartanegara sejak tahun 2000. Yusmi berdomisili di Samarinda, 4-6 jam perjalanan darat dari Kecamatan Sangata Utara yang merupakan ibukota kabupaten Kutai Timur. Perjalanan bisa ditempuh dengan menggunakan mobil, bis atau sepeda motor sedangkan Yusmi biasa menggunakan sepeda motor. Kabupaten Kutai Timur terdiri dari tiga belas kecamatan yang masing-masing luasan kecamatannya baru selesai ditempuh 2 hari 2 malam nonstop, ini untuk menggambarkan luasnya satu kecamatan. Medan tempuh masing2 kecamatan bervariasi, ada yang mayoritas rawa, sungai, datran rendah, pegunungan dengan variasi jurang kana kiri, perkebunan plasma dan tentu saja hutan. Kabupaten Kutai Timur dikenal juga karena bentangan Taman Nasional Kutai yang luas dimana salah satu endemiknya adalah pohon ulin usia ratusan tahun yang saat ini hanya tersisa satu pohon saja, pohon ulin lainnya sudah terbabat habis oleh pembukaan lahan sawit. “Yaaa..!! Lahan perkebunan plasma sawit sudah merambah 3/4 dari taman nasional kutai. Sayangnya sedikit yang tahu mengenai hal ini. Karena memang dari luarterlihat masih rimbun hutannya, tapi kalau kita berjalan sejauh 20km ke dalam hutan, maka yang terlihat adalah perkebunan sawit dan tambang batubara. Tanya kenapa? Tanya pemerintahnya ya? Hehehe…” ujar Yusmi dengan semangatnya.

Selain itu, Kabupaen Kutai Timur juga dikenal sebagai penghasil batubara terbesar di Indonesia, ini dibuktikan dengan keberadaan perusahaan Kaltim Prima Coal dan sejumlah perusahaan lokal maupun asing semacam Thiess. Jika anda berfikir bahwa Kutai Timur bersuku bangsa adalah Kutai saja maka itu adalah salah besar. Kutai Timur mencakup wilayah yang didiami oleh suku Kutai, Banjar, Bugis, Dayak, Bali, Timor, Tanah Toaja, Madura, Manusia Perahu dan suku bangsa lainnya. Sehingga budaya yang berkembang sangat beragam, seperti misalnya, di daerah Rantau Pulung yang mendominasi adalah transmigran dari Bali dan daerah Kabo dihuni oleh transmigran dari Nusa Tenggara dan Pulau Timor. Penduduk aslinya sepeti suku dayak, kutai, bugis dan banjar banyak mendiami wilayah utara misal daerah Bengalon, Sangkulirang, Busang, dan sebagainya. Seangkan untuk manusia perahu, mereka mendiami perairan laut di sepangjang garis pantai dari Bontang, Kutai Timur, berau, hingga tarakan.  Luasan wilayah yang sangat luas itu yang menjadi lokasi penempatan Yusmi seorang diri. Bahkan dalam jangka satu tahun pun masih belum bisa melakukan pendataan kesemua daerah tersebut. Yusmi hanya melakukan pendataan hanya di empat kecamatan; yaitu Kecamatan Sangatta Utara, Kecamatan Sangatta Selatan, Kecamatan Teluk Pandan dan Kecamatan Bengalon. Term and condition aplly! Karena pada musim-musim tertentu jalan ke wilayah selain empat kecamatan tersebut tidak bisa ditempuh dengan motor, setidaknya mobil doubel gardan  dan perahu yang bisa melewati sejumlah wilayah lain. Terlebih pula jika musim banjir, musim buaya berjemur, musim biawak kawin, bahkan keberadaan rampok di siang hari .

Salah satu hasil yang didapatkan oleh Yusmi adalah masyarakat Dayak Wehea. Masyarakat Dayak Wehea mendiami daerah Muara Wahau dan memiliki tanah adat yang termasuk ke dalam Taman Nasional Kutai. Dahulu hak tanah adat mereka tidak diakui oleh pemerintah namun belakangan hak tanah adat mereka sudah dikembalikan dengan kompensasi mereka menjadi jagawana (orang yang pekerjaannya menjaga atau mengawasi hutan-RED/KBBI) untuk Taman Nasional Kutai pada area terbatas tanah adat mereka. Masyarakat Dayak Wehea memiliki sistem yang berbeda dengan masyarakat dayak pada umumnya, mereka lebih maju dengan dibuktikan adanya sistem pendidikan dan pengajaran dalam sistem kemasyarakatan mereka. Hingga saat ini jika dalam masyarakat adat dayak wehea anak laki-laki maka wajib mengikuti petatah-petitih di salah satu rumah adat yang diperuntukan bagi pendidikan. Anak laki-laki tersebut tidak diizinkan keluar dari rumah itu kecuali berhasil membuktikan ilmu dan kebijaksanaan yang mereka dapat dari tokoh-tokoh dan tetua adat, bentuk pembuktiannya adalah ketika mereka mengabdikan diri dalam menjaga hutan tanah adat dan sekarang menjadi jagawana. Masyarakat Dayak Wehea menolak keberadaan sekolah, jadi pemerintah melaksanakan pendidikan nasional melalui rumah adat khusus tersebut. Bagi masyarakat Dayak Wehea, sistem pendidikan nasional hanya akan merusak nilai-nilai tradisi dan budaya mereka, karena memang tidak sepaham dan selaras dengan pandangan Dayak Wehea yang naturalis dan memuja alam. Maka dari itu masyarakat Dayak Wehea sangat menolak keberadaan pemerintah dalam berbagai sektor di kehidupan mereka.

kutaiBagi masyarakat Dayak Wehea, budaya dan kebudayaan mereka adalah tuntunan hidup dalam menjalani kehidupan. Bukan sebagai pelengkap hidup. Hal sama yang Yusmi dapati pada masyarakat perahu di sepanjang Teluk Lombok di Kecamatan Teluk Pandan. Masyarakat perahu percaya bahwa air adalah sumber kehidupan sehingga sejak lahir hingga meninggal semuanya dilakukan diatas rumah rakit mereka. Bagi mereka meninggalkan rumah rakit dan lautan adalah bentuk pembangkangan terhadap alam. Salah satu bentuk penghargaan dan pemujaan mereka terhadap alam adalah dengan menjaga lautan di sekitar mereka tetap bersih dan terjaga. Sekali lagi bagi masyarakat adat ini, budaya dan kebudayaan mereka adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Sebuah tuntunan untuk menjalani peran kehidupan sebagai makhluk sosial.

Hal ini berbeda ketika masuk ke dalam sistem instansi pemerintahan. Bagi pemerintah setempat, budaya dan kebudayaan adalah aset pariwisata yang bisa dijual dengan nilai ekonomis tertentu. Sehingga keberadaan budaya hanya dipandang sebagai hiburan, misalnya tarian dan upacara adat yang mampu mengundang banyak khalayak, kain tenun yang bisa dijual, cagar budaya yang dieksplore peneliti asing, dan juga pertunjukan manusia hobit atau Dayak Punan yang banyak mendiami gunung-gunung batu di daerah Sangkuliran dan pulau kecil lainnya.  Cagar budaya yang dimiliki oleh Kutai Timur adalah situs gunung batu yang berisi cap-cap tangan manusia purba (rock art) yang merupakan bukti persebaran manusia purba pertama kali masuk ke Indonesia. Cagar budaya ini sedang diperjuangkan untuk menjadi warisan budaya dunia karena luasannya mencapai 200 gunung batu. Di gunung-gunung batu ini terdapat sarang walet kualitas premium yang tidak dijual di Indonesia, hanya sebagai komoditas ekspor ke China dan Eropa. Uniknya yang bisa mengambil sarang burung walet ini hanya manusia hobit atau masyarakat dayak punan yang konon merupakan turunan dari manusia purba yang masuk ke Indonesia pertama kali. Proses pengambilan sarang burung walet ini terkadang jadi pertunjukan bagi turis asing yang mampu masuk ke dalam hutan Kutai Timur. Sungguh hebat ya budaya Indonesia! *isak air mata*

Bagi pemerintah setempat semua hal berkaitan budaya adalah aset pariwisata. Sebenarnya cara pandang tersebut tidak salah. Namun akan mengakibatkan degenerasi masyarakat adat yang peduli terhadap budayanya. Jika kebudayaan hanya dijadikan sebagai tontonan, maka nilai-nilai sosial dan tradisi penghormatannya hanya akan sebatas tontonan saja dan tidak membekas maksud dan tujuannya. Sebenarnya setiap gerakan tarian, setiap sisipan tenun, setiap langkah dalam upacara adat, setiap pantun pujaan pujian dalam upacara adat, setiap petatah-petitih di rumah pendidikan masyarakat Dayak Wehea memiliki makna dan maksud dan tujuan. Sayangnya, pemerintah tidak mendukung pengembangan hal itu.

Selama bertugas, Yusmi banyak mendapati anggaran ratusan juta habis dalam satu event budaya untuk menampilkan pertunjukan saja, seperti penyambutan gubernur ke daerah kabupaten. Setelah acara selesai maka selesailah pertunjukan itu, lantas apa yang didapat untuk kebudayaan? Tidak ada. Bayangkan jika anggaran itu untuk pengembangan, pelestarian dan kesinambungan budaya itu sendiri? Bukankah sifatnya everlasting dibandingkan sekadar ceremonial?

Yusmi banyak berbicara dengan tokoh-tokoh adat dan para pemuda, semua sepakat bahwa pemerintah hanya menjadikan masyarakat adat sebagai komoditas, bukan sebagai makhluk sosial pemilik kebudayaan. Mereka tidak dihargai sebagai entitas budaya itu sendiri. Wajarlah  jika mereka selalu antipati terhadap pemerintah bukan? Keinginan mereka terdalam adalah penghargaan dan pengakuan bahwa kebudayaan mereka bukanlah kebudayaan marginal tapi juga pembentuk dari ke-bhinekatunggal ika-an Indonesia itu sendiri, mereka bukan pertunjukan, bukan bahan penelitian sosiologi antropologi saja, mereka juga manusia yang memegang adat istiadat mereka, dan adat istiadat budaya itulah jati diri mereka. Merekalah budaya dan kebudayaan itu, jika merek hilang, maka kebudyaan itu pun akan hilang.

Pamong Budaya menjadi hal penting dalam pelestarian budaya daerah 3 T. Untuk menjadi pamong budaya, harus memenuhi kualifikasi yang ditentukan oleh KEMENDIKBUD, seperti berpendidikan minimal S1, usia minimal 25 tahun, dan siap ditempatkan di seluruh wilayah 3T Indonesia. Seleksinya pamong budaya atau penyuluh budaya dilakukan 2 tahun sekali. Penyuluh budaya diperbolehkan pulang ke rumah namun selalu ada sidak dari KEMENDIKBUD secara langsung.  Tahun 2013 ada sekitar 150 orang untuk 150 kabupaten di seluruh Indonesia. Hasil dari panyuluh budaya rata-rata menyatakan bahwa masyarakat di daerah memang kecewa dengan pemerintah baik  pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, karena mereka merasa diperlakukan tidak adil, terlebih mereka hanya dijadikan bahan untuk penelitian ilmu pengetahuan saja tanpa follow up lebih lanjut.

Penempatan di Pulau Kalimantan yang notabene masih sama dengan daerah asalnya membuat Yusmi merasa masih lebih beruntung dari teman-teman penyuluh budaya yang lain. Penyuluh budaya lainnya ada yang ditempatkan di Kabupaten Indonesia lainnya seperti di perbatasan Filipina dan perbatasan Papua. Salah satu Kabupaten di Papua yaitu di pulau kecil yg susah sinyal, bahkan di daerah Jaya Wijaya yang bensinnya Rp. 100.000 paling murah.

Hasil dari Penyuluh Budaya banyak ditemukannya budaya baru seperti budaya tarsul atau semacam seni pantun yang ternyata bukan hanya ada di Suku Kutai tapi juga di daerah Kampung Bugis di Rantau Pulung meskipun hampir mirip dengan Tarsul Kutai tapi ada sedikit perbedaan. Yusmi sempat mengumpulkan 13 cerita rakyat yg belum terdata dengan sumber legenda, mitos, dan nasehat-nasehat setempat yang didapatkan dari 4 kecamatan dan sudah masuk ke database KEMENDIKBUD tahun 2013.

TANYA-JAWAB

Tanya

  1. Siti Fatimah: Pamong budaya ini mirip Indonesia Mengajar yah?? Mereka digajikan?? Sesuai dengan UMR pulau tersebut?? Full fasilitaskah?? Barang-barang tersebut menjadi hak milik atau hanya dipinjamkan?
  2. Ihsan Satriawan: Kenapa ka Yusmi kmrn mw jd pawang budaya? Apa motivasi terbesar nya?
  3. Jetsi Elmir
  4. Dalam bentuk apa data selama menjadi pamong budaya? Seperti skripsi kah?
  5. Seperti yang Yusmi ceritakan sebelumnya, Yusmi pengkhususannya dalam bidang Cerita Rakyat di Kutai, Apakah ada Pamong Budaya yang lainnya yang pendataannya di Kutai juga namun pengkhususannya di bidang lain? Misalnya, kain tenun nya.
  6. Kenapa Yusmi kenapa belum muncul muncul di FC Budaya sih?
    Pengalamannya keren banget gitu. *OOT*

Jawab

  1. Berbeda dengan Indonesia Mengajar, Penyuluh Budaya full tenaga kontrak dari pemerintah di bawah naungan kementerian. Digajinya dari pusat dan diatas rata-rata UMR, sekitar 15-30% dari UMR. Mendapatkan fasilitas kendaraan dinas yaitu motor, laptop, GPS, modem, kamera, asuransi, uang makan, uang penginapan, dan lainnya. Barang-barang dikembalikan pasca tugas
  2. Motivasi terbesar? Pasca lulus saya dapat tawaran kerja dari MNC luar dan juga dapat beasiswa S2 di luar. Saat itu saya periode dalam periode berfikir, mau kemana saya dan apa yang sudah saya lakukan. Sampai pada satu titik, apa yang saya tahu tentang bangsa saya, katakanlah secara tiba-tiba nasionalisme saya muncul. Awalnya dari situ sih. Setelah itu ada pengumuman jadi Pamong Budaya. Saya ambil kesempatan itu sambil gambling, kalau diterima, maka ini pengabdian saya untuk bangsa dan negara, kalau tidak ga diterima, ya mungkin ada cara lain untuk mengabdi
  3. Jawaban:
  4. Laporan akhir kami ada 2 macam, laporan perjalanan dan laporan hasil. Laporan hasil ini yang formatnya nyaris seperti skripsi
  5. Tiap pamong budaya/penyuluh budaya di tempatkan di satu kabupaten saja. Jadi 1 kabupaten = 1 penyuluh. Jadi yang dapat tugas di kab. Kutai timur cuma saya. Ada teman yang ditugaskan di Kabupaten Kutai Kartanegara tapi spesialisasi dia penelusuran tarian daerah pedalaman vs kontemporer dan pemaknaan dalam upacara adat.Teman penyuluh budaya kemarin yang spesialisasinya kain tenun cuma 1 orang, asal palembang dan ditugaskan di sana juga dan spesialisasi dia adalah kain songket. Dan teman di palembang yang meneliti kain songket ini juga sudah menerbitkan bukunya tentang kain songket tahun 2013 lalu
  6. Apalah saya ini Kak Jetc, Cuma debu sekian milimikron dijagad raya. Malu pengalaman cuma sedikit liat pengalaman yang lain bejibun, jadinya silent reader.

Kesimpulan

Yusmi Rahmawati alias Youzhmie Yusuf bertugas sebagai Pamong Budaya atau Penyuluh Budaya untuk melakukan pendataan Kebudayaan yg belum tercatat di Kabupaten Kutai Timur. Pamong Budaya atau Penyuluh Budaya ada dibawah naungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yg langsung turun ke lapangan mencari data mengenai kebudayaan kabupaten tersebut. Dengan menjadi Pamong Budaya kita mendapatkan gajih 15-30% diatas UMR dan fasilitas super lengkap tapi ya itu tadi kerjanya juga harus mau ditempatkan dimana saja.

“Budaya itu ada karena adanya manusia, tidak bisa dipisahin. jadi budaya itu faktor bawaan, budaya bisa dikembangkan, dipertahankan, dan juga bisa menghilang tergantung bagaimana mengelolanya” (Rahmawati, 2014)

an Kebudayaan yg belum tercatat di Kabupaten Kutai Timur. Pamong Budaya atau Penyuluh Budaya ada dibawah naungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yg langsung turun ke lapangan mencari data mengenai kebudayaan kabupaten tersebut. Dengan menjadi Pamong Budaya kita mendapatkan gajih 15-30% diatas UMR dan fasilitas super lengkap tapi ya itu tadi kerjanya juga harus mau ditempatkan dimana saja.

“Budaya itu ada karena adanya manusia, tidak bisa dipisahin. jadi budaya itu faktor bawaan, budaya bisa dikembangkan, dipertahankan, dan juga bisa menghilang tergantung bagaimana mengelolanya” (Rahmawati, 2014)